Ikhlas Beramal di Usia 80 Tahun Kementrian Agama

UINSGD.AC.ID (Humas) — Delapan puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak panjang pengabdian, kesabaran, dan keteguhan menjaga harmoni bangsa. Bagi Kementerian Agama, usia ini adalah cermin perjalanan sejarah tentang bagaimana negara hadir merawat iman, kemanusiaan, dan kebangsaan dalam satu tarikan napas yang utuh.

Lahir di masa awal kemerdekaan, Kementerian Agama memikul amanah besar, menjadi jembatan antara keyakinan dan persatuan, antara perbedaan dan kebersamaan. Zaman terus berubah, tantangan silih berganti, tetapi satu nilai tetap menjadi ruh pengabdian yang tak tergoyahkan Ikhlas Beramal. Nilai inilah yang membuat pengabdian tidak sekadar menjadi tugas, melainkan panggilan hati.

Momentum Hari Amal Bhakti ke-80 dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” terasa begitu relevan dan kontekstual. Kerukunan dan sinergi tidak tumbuh dengan sendirinya. Keduanya lahir dari niat baik, ketulusan melayani, dan kesediaan untuk saling memahami. Di sinilah ikhlas beramal menemukan maknanya yang paling nyata bukan hanya sebagai semboyan, tetapi sebagai sikap hidup dalam mengelola keberagaman bangsa.

Di bawah kepemimpinan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Kementerian Agama menegaskan arah pengabdian yang menyejukkan. Berbekal latar belakang sebagai ulama dan cendekiawan, beliau menghadirkan pendekatan yang menempatkan agama sebagai sumber nilai kemanusiaan dan persatuan.

Penguatan kerukunan umat beragama, moderasi
beragama, cinta kemanusiaan, kepedulian terhadap lingkungan melalui ekoteologi, peningkatan mutu pendidikan, pemberdayaan pesantren dan ekonomi umat, layanan
keagamaan yang berdampak, hingga digitalisasi tata kelola menjadi ikhtiar bersama menuju Kementerian Agama yang Rukun, Cerdas, dan Maslahat.

Moderasi beragama dimaknai sebagai cara beragama yang bijak teguh dalam keyakinan, namun santun dalam perbedaan. Kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan kesadaran kolektif untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama demi kebaikan bersama. Nilai inilah fondasi utama bagi Indonesia yang damai dan maju.

Refleksi ikhlas beramal juga tercermin dalam kepedulian terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan. Melalui pendekatan ekoteologi, umat diajak menyadari bahwa menjaga alam adalah bagian dari amanah keimanan. Merawat bumi berarti merawat kehidupan; melestarikan
lingkungan adalah bentuk ibadah sosial yang manfaatnya melintasi generasi.

Di bidang pendidikan, Kementerian Agama terus berikhtiar menghadirkan pendidikan keagamaan yang berkualitas dan relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak, sekaligus adaptif dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pesantren tetap dirawat sebagai pusat keilmuan dan moralitas, sembari didorong menjadi penggerak kemandirian ekonomi umat dan masyarakat.

Pemanfaatan teknologi melalui digitalisasi tata kelola menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas layanan. Teknologi dihadirkan untuk mempermudah akses dan mempercepat pelayanan, tanpa menghilangkan nilai dasar pengabdian. Sebab pelayanan yang baik bukan hanya efisien, tetapi juga manusiawi hadir dengan empati dan kepedulian.

Dengan terbentuknya Kementerian Haji dan Umrah yang kini secara khusus menangani penyelenggaraan ibadah haji dan ibadah umrah, Kementerian Agama memiliki ruang yang
lebih luas untuk memfokuskan perhatian pada pembinaan kehidupan beragama dan penguatan kerukunan umat. Pembagian peran ini mencerminkan semangat sinergi dalam melayani umat secara lebih optimal.

Sesungguhnya, banyak amal bhakti Kementerian Agama berlangsung dalam kesenyapan. Dialog antarumat yang terjaga, potensi perbedaan yang dikelola dengan bijaksana, serta kehadiran negara yang menenangkan di tengah umat semua itu mungkin tak selalu tampak di permukaan, tetapi sangat dirasakan manfaatnya. Inilah kerja sunyi yang menjadi fondasi kokoh persatuan bangsa.

Hari Amal Bhakti ke-80 menjadi momentum refleksi bersama. Bagi aparatur Kementerian Agama, ini adalah pengingat untuk terus melayani dengan tulus dan penuh integritas. Bagi umat dan masyarakat, ini adalah ajakan untuk menjaga kerukunan, memperkuat sinergi, dan menumbuhkan rasa saling percaya. Karena Indonesia yang damai dan maju hanya dapat terwujud jika seluruh elemen bangsa berjalan beriringan.

Delapan puluh tahun Kementerian Agama adalah perjalanan sunyi yang gemanya terasa hingga hari ini. Ia bukan sekadar tentang kebijakan dan program, melainkan tentang niat yang dijaga, nilai yang dirawat, dan pengabdian yang tak selalu meminta tepuk tangan. Dalam setiap langkahnya, Kementerian Agama mengajarkan bahwa melayani umat adalah ibadah, dan menjaga kerukunan adalah amanah sejarah.

Di usia yang matang ini, Ikhlas Beramal menjelma menjadi lentera menerangi jalan di tengah perbedaan, menuntun bangsa agar tetap bersua dalam persaudaraan. Selama ketulusan dijadikan fondasi dan sinergi dirawat sebagai kekuatan, Indonesia akan tetap berdiri tegak sebagai rumah bersama yang damai dan bermartabat.

Semoga Kementerian Agama senantiasa diberi kejernihan hati dan kebijaksanaan langkah untuk terus menabur kebaikan, merawat keberagaman, dan menjaga persatuan. Sebab di sanalah agama menemukan maknanya yang
paling luhur : menghadirkan kedamaian bagi manusia dan semesta.Selamat Hari Amal Bhakti ke-80 Kementerian Agama

Ibrahim Nur A – UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *