Ibu dan Bumi: Dua Penopang Kehidupan yang Terluka

Ilustrasi Hari Ibu. foto/IStockphoto

UINSGD.AC.ID (Humas) — Hari Ibu kerap dirayakan dengan bunga dan kata terima kasih. Kita menyebut ibu sebagai simbol kasih sayang, keteguhan, dan pengorbanan. Namun di balik perayaan itu, ada banyak ibu yang menyambut Hari Ibu dalam kecemasan terutama mereka yang hidup di wilayah yang terus dihantam bencana alam seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Di daerah-daerah ini, banjir, longsor, dan rusaknya lingkungan bukan lagi kejadian luar biasa. Ia menjadi bagian dari keseharian. Dan ketika bencana datang, para ibu berada di garis terdepan. Mereka mengurus anak-anak di tengah keterbatasan air bersih, pangan, dan tempat tinggal. Mereka menenangkan keluarga, bahkan ketika diri mereka sendiri diliputi rasa takut.

Kerusakan alam selalu berdampak lebih berat bagi perempuan, khususnya ibu. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena merekalah penjaga kehidupan sehari-hari. Ketika sungai tercemar, ibu yang kesulitan mendapatkan air bersih. Ketika ladang rusak, ibu yang harus memutar cara agar dapur tetap mengepul. Ketika bencana datang, ibu yang pertama memastikan anak-anaknya selamat.

Ekofeminisme membantu kita memahami bahwa kondisi ini bukan kebetulan. Ada hubungan erat antara cara manusia memperlakukan alam dan cara perempuan diposisikan dalam masyarakat. Alam dan perempuan sama-sama sering dianggap selalu siap berkorban, selalu kuat, dan selalu bisa dipulihkan. Atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, hutan ditebang, tanah dikeruk, dan ruang hidup dirampas. Dan ketika alam tidak lagi sanggup menahan luka, para ibu menanggung akibatnya.

Bencana alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara tidak bisa dilepaskan dari pilihan-pilihan manusia. Pembukaan lahan tanpa kendali, eksploitasi sumber daya, dan kebijakan yang abai terhadap keseimbangan lingkungan telah memperbesar risiko bencana. Di balik data statistik dan laporan resmi, ada kisah ibu-ibu yang menggendong anaknya menembus banjir, memasak dengan air keruh, dan tetap berusaha tegar demi keluarga.

Dalam banyak tradisi Nusantara, bumi dipandang sebagai ibu pemberi kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Namun hari ini, kita justru menyakiti “ibu” itu. Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa ketika bumi dilukai, para ibu ikut terluka. Sebab, keduanya sama-sama menopang kehidupan, sering dalam diam dan tanpa perlindungan yang memadai.

Dalam perspektif keagamaan, manusia bukanlah penguasa mutlak atas bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah. Merusak keseimbangan alam berarti mengkhianati tanggung jawab tersebut. Dan yang paling cepat merasakan dampaknya adalah mereka yang hidup paling dekat dengan kehidupan itu sendiri para ibu.

Hari Ibu seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sekadar seremoni. Menghormati ibu berarti memastikan lingkungan yang aman, air yang bersih, dan masa depan yang layak bagi anak-anaknya. Merawat bumi sejatinya adalah merawat para ibu. Dan merawat para ibu berarti menjaga masa depan kemanusiaan yang lebih adil dan berkelanjutan.

 

Neng Hannah, Sekretaris S2 Studi Agama-agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *