UINSGD.AC.ID (Humas) — “Ibadah itu bukan hanya rukuk dan sujud, ibadah sejati adalah ketika hatimu lembut, lisanmu terjaga, dan langkahmu tak menyakiti sesama,” begitu nasihat SGY kepada saya. Kalimat nasihat yang terdengar sederhana, tapi di dalamnya tersimpan makna dan bahan perenungan yang sangat dalam.
Dengan tuturan itu, SGY hendak mengingatkan saya juga kita semua bahwa ibadah, pada hakikatnya, bukan sekadar gerak tubuh lahiriah, bukan juga rangkaian ritual formal semata. Rukuk dan sujud hanyalah pintu, tanda kepatuhan, simbol bahwa kita tunduk di hadapan Yang Maha Agung. Tetapi di balik pintu itu, ada ruang yang lebih luas, yaitu ruang hati, ruang kata, dan ruang perilaku.
Hati yang lembut adalah tanda bahwa ibadah telah menembus ke dalam inti diri. Ia tidak membiarkan kesombongan tumbuh dari amal. Ia mengajarkan empati, melatih kita untuk peka pada luka orang lain. Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi dari Persia pernah berujar, “agama tanpa kasih adalah seperti tubuh tanpa jiwa.” Maka, kelembutan hati adalah nyawa dari setiap ibadah, tanpa itu, ibadah hanyalah rangka kosong.
Lisan yang terjaga adalah ujian berikutnya, kenapa? Karena kata-kata bisa menjadi doa, tetapi juga bisa menjadi racun. Dari mulut bisa lahir pujian, namun darinya pula lahir fitnah. Menjaga lisan berarti melatih diri agar setiap kata yang keluar tidak merendahkan, tidak melukai, tidak mengerdilkan martabat orang lain. Nabi pernah mengingatkan, “barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Inilah bagian dari ibadah yang sering kita lalaikan: kesanggupan menahan diri lebih mulia daripada kata yang menyinggung.
Dan langkah yang tak menyakiti sesama adalah wujud nyata ibadah dalam keseharian. Berjalan di bumi dengan ringan, tanpa menebar jejak luka. Menjadi manusia yang keberadaannya menenteramkan, bukan menakutkan, ”tanda seorang hamba yang dekat kepada Allah adalah ketika keberadaannya membuat orang lain merasa aman dari kejahatan tangannya dan lisannya,” begitu menurut Jalaluddin al-Suyuthi. Dengan kata lain, ibadah sejati bukanlah pencapaian pribadi semata, melainkan rahmat yang menetes bagi sekitarnya.
Maka, bila kita berhenti sejenak dan menimbang, sesungguhnya ibadah bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan. Jalan untuk melatih hati agar lembut, melatih lisan agar terjaga, melatih langkah agar menebar rahmat. Kita mungkin bisa menghitung berapa kali kita rukuk dan sujud dalam sehari, tetapi kita sulit menghitung berapa kali hati kita mengeras, lisan kita tergelincir, dan langkah kita menyakiti.
Ibadah sejati, dengan demikian, adalah proses panjang, yaitu membiarkan yang lahiriah menyapa yang batiniah, agar gerak tubuh bersambung dengan gerak jiwa. Agar rukuk dan sujud tidak berhenti di lantai sajadah, tetapi menjelma dalam cara kita menyentuh dunia dengan hati yang lembut, kata yang menyejukkan, dan langkah yang membawa damai. Allahu a’lam bi-Showab.
Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung