Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar ritual, tetapi harus melahirkan rasa yang hidup dalam diri, yaitu keikhlasan dan kelembutan hati.
Sebab tanpa rasa, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan, tetapi dengan rasa, ilmu menjadi cahaya yang menuntun kehidupan.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا
“Dan Allah akan menanamkan kasih sayang (dalam hati mereka).” (QS. Maryam: 96)
Ayat ini menunjukkan bahwa kasih sayang adalah anugerah Allah bagi orang-orang beriman. Inilah yang menjadi inti dari ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sekaligus selaras dengan nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat, seperti dalam budaya Sunda yang dikenal dengan konsep Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh.
Ayat ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah buah iman yang menumbuhkan harmoni kehidupan. Inilah tujuan khutbah ini, Izinkan Khatib mengajak kita menghidupkan nilai Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh. Pelajaran pertama, membangun kasih sayang. Kedua, menumbuhkan ilmu. Ketiga, saling membimbing dalam kebaikan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama, Membangun kasih sayang Silih Asih (Saling Mengasihi).
Silih Asih berarti saling mencintai dan menyayangi dalam kehidupan sosial. Nilai ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya kasih sayang sebagai dasar hubungan manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21 “bahwa
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum ayat 21).
Ayat ini, menjelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yaitu menciptakan pasangan hidup (isteri) dari jenis manusia itu sendiri agar tercipta ketenangan hati, serta menanamkan rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam pernikahan.
Ayat ini menekankan bahwa keluarga yang harmonis (sakinah) adalah tujuan pernikahan…. Ar-Rum ayat 21 menjelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yaitu menciptakan pasangan hidup (isteri) dari jenis manusia itu sendiri agar tercipta ketenangan hati, serta menanamkan rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam pernikahan.
Ayat ini menekankan bahwa keluarga yang harmonis (sakinah) adalah tujuan pernikahan. “Dia menjadikan di antara manusia rasa kasih dan sayang agar tercipta ketenangan hidup”.
Kasih sayang bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata: menjaga silaturahmi, menghindari permusuhan, dan menumbuhkan empati. Bahkan Allah mengajarkan bahwa kasih sayang bisa tumbuh di antara pihak yang sebelumnya bermusuhan, sebagaimana dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 7.
عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةً ۗ وَاللّٰهُ قَدِيْرٌ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah ayat 7.).
Ayat ini mengajarkan harapan perbaikan hubungan dan toleransi selama tidak ada permusuhan fisik. Dengan demikian, Silih Asih mengajarkan bahwa seorang mukmin harus menjadi sumber kehangatan dan kedamaian bagi lingkungannya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua, Menumbuhkan ilmu. Silih Asah (Saling Mencerdaskan).
Silih Asah berarti saling menasihati dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan pentingnya ilmu sebagai jalan menuju kemuliaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.” (QS. Al-Mujadalah ayat 11).
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah kemuliaan. Namun ilmu harus disertai keikhlasan. Tanpa keikhlasan, ilmu menjadi alat kesombongan. Dengan keikhlasan, ilmu menjadi sarana kebaikan dan manfaat bagi sesama. Silih Asah mengajarkan bahwa kita tidak boleh egois dalam ilmu. Kita harus saling berbagi pengetahuan, menasihati dalam kebaikan, dan membangun peradaban yang berilmu sekaligus berakhlak.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga, Saling membimbing dalam kebaikan Silih Asuh (Saling Membimbing dan Mengayomi).
Silih Asuh berarti saling menjaga, membimbing, dan melindungi dalam kebaikan. Ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an dalam QS. Al-‘Asr ayat 1–3; yang menekankan pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah juga berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.”
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab I‘lam Muwaqqi‘in bahwa pemerintahan yang adil yang menegakkan syariat adalah bentuk rahmat Allah bagi umat manusia. Sebab, hukum Allah bukan sekadar teori, tapi jalan hidup yang harus ditegakkan oleh kekuasaan agar maslahat dapat dirasakan dan mafsadat dapat dicegah.
Maka “Silih Asuh” disini mengajarkan bahwa kehidupan tidak bisa dijalani sendiri. Kita membutuhkan bimbingan, nasihat, dan kepedulian satu sama lain. Inilah bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah yang hidup dan berfungsi.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Jika kita renungkan, ketiga nilai ini berpadu dalam satu harmoni: ilmu, rasa, dan peradaban. Ilmu melahirkan kecerdasan, rasa melahirkan keikhlasan, dan keduanya membentuk peradaban yang penuh kasih sayang. Inilah hakikat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Ketakwaan dan keikhlasan harus melahirkan perilaku sosial yang harmonis: saling mencintai, saling mencerdaskan, dan saling membimbing. Maka seorang mukmin sejati bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga menjadi penyejuk bagi orang lain. Ia tidak menyakiti, tidak merendahkan, dan tidak membiarkan saudaranya berjalan dalam kesulitan tanpa bantuan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan nilai Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari: (1) Menguatkan kasih sayang dalam keluarga dan masyarakat (2) Menyebarkan ilmu dengan ikhlas dan rendah hati (3) Saling membimbing dalam kebaikan dan kesabaran. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pribadi bertakwa, tetapi juga menjadi bagian dari peradaban yang penuh rahmat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ وَيُحِبُّوْنَ، وَيَتَعَلَّمُوْنَ وَيُعَلِّمُوْنَ، وَيَتَنَاصَحُوْنَ فِي الْحَقِّ وَالصَّبْرِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
A. Rusdiana Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung