UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam rangka mempererat tali silaturahmi, Keluarga Besar Paguyuban Pensiunan IAIN/UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Halal Bihalal Idulfitri 1446 H di Ruang Seminar Perpustakaan UIN Bandung, Rabu (7/5/2025).
Acara yang berlangsung hangat ini dihadiri oleh sejumlah sesepuh dan anggota paguyuban, di antaranya Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.S., Prof. Dr. Endang Soetari Ad, M.Si., Prof. Dr. H. Nurwadjah Ahmad EQ, MA., Prof. Dr. KH Zaenal Abidin, M.Ag., Prof. Dr. Hj. Djaja Azizah, M.Ag., Drs. H. Arief Ichwani, M.Pd., Drs. Rohman Setiaman, Sakrim Miharja, M.Ag., serta Kepala Perpustakaan Prof. Dr. Agus Abdul Rahman, S.Psi., M.Psi., Psikolog, CIPP, yang turut menyampaikan materi bertajuk “Aku Mengatasi Usia Kronologisku.”
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tengah mengikuti program Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) diwakili oleh Wakil Rektor II, Prof. Dr. Tedi Priatna. Dalam sambutannya, menyampaikan permohonan maaf dan salam hangat dari Rektor serta apresiasi yang mendalam atas kontribusi para pensiunan terhadap kemajuan kampus.
“Prestasi UIN saat ini merupakan buah dari perjuangan panjang generasi sebelumnya. Generasi penerus hanya sedang memanen hasil dari kerja keras para pendahulu,” ujarnya.
Koordinator kegiatan, Prof. Dr. Nurwadjah Ahmad EQ, menekankan pentingnya rasa syukur atas kesempatan untuk berkumpul dalam keadaan sehat. “Ini adalah kebahagiaan yang mendalam, bisa bersilaturahmi dalam suasana penuh kehangatan dan pertemuan ini semakin mempererat ukhuwah diantara kita,” ucapnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Endang Soetari mengungkapkan rasa bangganya atas kekompakan anggota paguyuban yang kini berjumlah lebih dari 442 orang, mewakili berbagai generasi sejak awal berdirinya IAIN hingga kini menjadi UIN. “Kebersamaan ini adalah bagian dari ibadah, dan kampus memberikan perhatian luar biasa, termasuk melalui kegiatan seperti ini,” ungkapnya.
Dalam pemaparannya Prof Agus Abdul Rahman menegaskan pentingnya memahami makna usia dari berbagai dimensi.
Mantan Dekan Psikologi ini mengingatkan bahwa usia manusia tidak hanya dilihat dari sisi kronologis, tetapi juga biologis, psikologis, dan spiritual.
“Selama ini kita mengenal istilah aya budak kokoloteun atawa aya kolot bubudakeun. Minimal ada empat jenis usia: kronologis, biologis, psikologis, dan spiritual,” jelasnya.
Usia kronologis dihitung berdasarkan tahun kelahiran, usia biologis ditentukan oleh kondisi fisik, usia psikologis berkaitan dengan mental dan emosional, sedangkan usia spiritual menyangkut kedewasaan makna hidup dan hubungan dengan Tuhan.
Menurut Guru Besar Ilmu Psikologi Perilaku ini, seiring bertambahnya usia, manusia akan mengalami perubahan pada berbagai aspek, mulai dari fisik, emosi, hingga kemampuan sosial. Namun demikian, ia menegaskan bahwa “aku” sebagai kesadaran diri adalah pusat kendali yang mampu mengatur sikap terhadap tubuh, pikiran, dan perasaan. Manusia, katanya, memiliki kapasitas untuk melampaui keterbatasan fisik melalui kesadaran dan spiritualitas (self-transcendence).
Materi ini mengingatkan para lansia bahwa usia hanyalah angka. Masalah-masalah seperti kesepian, kecemasan, dan kehilangan kemandirian dapat dihadapi dengan membangun makna hidup yang lebih dalam, menjaga kemandirian, serta memperkuat aspek spiritual.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan harapan agar silaturahmi yang telah terjalin ini terus tumbuh, menjadi sumber kebahagiaan dan keberkahan bagi seluruh keluarga besar paguyuban.
