Sebuah Peradaban yang Sedang Diuji
UINSGD.AC.ID (Humas) — Tidak ada bangsa besar yang berdiri tanpa guru. Tidak ada peradaban maju yang tumbuh tanpa mereka yang pernah duduk di depan kelas, membawa kapur, spidol, buku lusuh, atau aplikasi digital, sambil menyalakan cahaya kecil di kepala dan hati manusia. Pada Hari Guru Nasional tahun ini, kita tidak sekadar memperingati profesi, melainkan merayakan pilar peradaban.
Di tengah dunia yang berubah cepat ketika kecerdasan buatan meniru cara manusia berpikir, ketika budaya digital membentuk perilaku sosial, ketika etika publik diuji oleh arus informasi yang kacau, maka peran guru menjadi semakin strategis. Karena di era ketika teknologi berlari dengan cepat, guru yang menjaga akhlak dan arah peradaban agar generasi muda kita tumbuh dalam realitas yang belum pernah dialami generasi sebelumnya dengan berbagai faktanya.
Ketersediaan informasi yang melimpah, walau tidak semuanya benar, memiliki pilihan karir luas, tetapi rasa percaya diri rapuh, jejaring dunia yang terhubung, walau banyak yang kesepian, dan ketersediaan teknologi canggih, tetapi nilai moral semakin menipis. Dalam dunia seperti ini, bangsa membutuhkan figur yang mampu menuntun dengan akal sehat dan hati nurani. Figur itu adalah guru. Mereka bukan hanya pengajar, melainkan penata nilai dan pembentuk karakter.

Krisis Nilai dan Keteladanan dalam Kultur Digital
Hari ini, generasi muda hidup dalam ruang digital yang ‘bising’, cyberbullying meningkat, ujaran kebencian dianggap wajar, toleransi menurun, nilai moral kian relatif, dan konten viral lebih dipercaya daripada guru. Di TikTok atau Instagram, satu video berdurasi 10 detik bisa meruntuhkan nilai yang dibangun guru selama 10 tahun.
Pembelajaran nilai menjadi semakin menantang, sebab murid bukan hanya belajar dari guru, tetapi juga dari dunia yang tak terkendali. Dalam situasi ini, guru bukan sekadar penyampai materi. Mereka adalah filter nilai yang memisahkan mana pengetahuan yang memuliakan martabat manusia dan mana yang merusak. Kita tahu Kecerdasan buatan kini dapat membuat soal, menjelaskan konsep, menghasilkan esai, menganalisis data, bahkan membuat rencana pembelajaran.
Lantas, apakah guru akan tergantikan? Jawabannya: tidak. Walaupun AI dapat menjelaskan apa itu cinta, tetapi tidak bisa menumbuhkan cinta. AI dapat mendeskripsikan empati, tetapi tidak bisa merasakan empati. AI dapat memetakan moral, tetapi tidak mampu mempraktikkannya. Teknologi bisa menstimulus otak, tetapi tidak pernah bisa menggantikan sentuhan akhlak. Di sinilah guru berada di garis depan peradaban, penjaga nilai moral yang tidak bisa digantikan mesin.
Peningkatan data nasional dan global menunjukkan grafik yang signifikan pada kecemasan, depresi, kelelahan mental, rasa isolasi sosial, fenomena self-harm. Generasi muda kita hidup dalam kecemasan kolektif dengan takut gagal, takut tidak cukup baik, takut tidak bisa mengikuti ekspektasi digital.
Dalam konteks ini, guru menjadi penyangga emosi penolong pertama yang memberi pendampingan psikologis, meski sering tidak diakui sebagai peran resmi. Guru adalah terapi yang tidak berlabel ‘klinik, tetapi kehadirannya mampu menyelamatkan banyak hati dan pikiran. Fenomena lainnya yang tak kalah menarik seperti post-truth, echo chamber, dan polarisasi politik telah menurunkan kemampuan generasi dalam menganalisis fakta. Banyak peserta didik yang lebih percaya pada influencer daripada ilmuwan.
Ketika nalar publik terguncang, guru menjadi pilar epistemic penjaga akal sehat dan rasionalitas. Inilah alasan mengapa guru disebut ‘penjaga terakhir peradaban’. Ketika nalar publik rusak, guru yang membenahinya. Ketika nilai moral runtuh, guru yang menegakkannya. Ketika bangsa goyah, guru menjadi fondasi.

Mengapa Guru Menjadi Penjaga Peradaban?
Untuk memahami kedalaman peran guru dalam konteks ilmiah, kita perlu melihat empat kerangka teori besar:
1. Teori Pendidikan Nilai (Value Education). Thomas Lickona menegaskan bahwa pendidikan nilai mencakup 3 komponen: a) Moral Knowing adalah kemampuan membedakan baik dan buruk. b) Moral Feeling adalah sensitivitas untuk peduli pada kebaikan. c) Moral Action, sebagai kemampuan melakukan tindakan moral. Secara psikologis, nilai moral tidak terbentuk melalui ceramah, melainkan melalui keteladanan guru, pembiasaan, dan lingkungan pendidikan yang konsisten. Artinya, guru adalah agen internalisasi nilai, tanpa mereka, kebaikan tidak memiliki medium untuk diwariskan.
2. Guru sebagai Moral Agent. Campbell menyebut guru sebagai moral agent, yakni figur dimana setiap keputusan profesionalnya adalah tindakan moral. Ketika guru memberikan nilai, menegur murid, memfasilitasi diskusi, atau menyelesaikan konflik mereka tidak sedang ‘bekerja’, tetapi sedang mengambil keputusan moral yang membentuk karakter murid. Guru menjadi penjaga fairness, pengambil keputusan etis, dan teladan integritas. Dalam skala makro, peradaban dapat runtuh jika moral publik runtuh. Dan moral publik hanya bisa ditegakkan jika sekolah menjadi institusi moral yang kuat.
3. Pedagogi Kritis Paulo Freire. Freire menggambarkan pendidikan sebagai alat pembebasan melalui kritisnya kesadaran (critical consciousness). Guru yang membangun critical consciousness berperan untuk membebaskan murid dari kebodohan, menyadarkan murid akan ketidakadilan menumbuhkan empati sosial, dan mendorong keberanian moral. Dengan kata lain, guru bukan hanya mengajarkan apa, tetapi mengapa dan untuk siapa pengetahuan itu digunakan. Kritik atas inti dari peradaban dengan pengetahuan yang diarahkan pada kemanusiaan.
4. Etika Kebajikan Aristoteles (Virtue Ethics). Aristoteles percaya bahwa karakter dibangun bukan melalui teori, tetapi melalui pembiasaan (habitus). Guru adalah figur yang menciptakan habitus morale, yakni : disiplin, kejujuran, ketekunan, keberanian, dan empati. Secara etis, mereka adalah pengasuh kebajikan (virtue cultivator). Tanpa guru yang berkarakter baik, mustahil lahir generasi berkarakter baik. Dan tanpa generasi berkarakter baik, mustahil terbentuk peradaban yang baik.

Guru sebagai Penjaga Terakhir Peradaban
Mengapa guru disebut penjaga terakhir? Karena ketika seluruh institusi sosial rapuh, hanya guru yang tetap berdiri. Berikut adalah alasan fundamentalnya:
1. Guru menjaga akal sehat dalam era post-truth. Ketika kebenaran direduksi menjadi opini, guru adalah penjaga metodologi berpikir. Mereka memastikan murid mampu menganalisis, bertanya, membedakan fakta dan hoaks, berpikir kritis. Peradaban tanpa akal sehat adalah peradaban yang runtuh.
2. Guru menjaga adab dalam era krisis moral. Guru adalah pengingat bahwa keberhasilan memerlukan proses, menghormati sesama adalah dasar kemanusiaan, dan integritas tidak bisa dinegosiasi. Seorang murid yang cemerlang secara akademik tetapi kehilangan adab dan akhlak adalah tanda bahaya bagi peradaban.
3. Guru menjaga empati dan kemanusiaan. Di dunia yang semakin individualistis, guru menjadi pusat hubungan manusiawi. Mereka adalah figur pertama dan menyadari jika ada murid sedang terluka, yang menguatkan saat murid gagal, yang merayakan keberhasilan kecil yang sering tak dilihat orang lain. Karena empati adalah energi dan spirit besar bagi peradaban, dan guru adalah penjaga empati.
4. Guru menjaga kesetaraan dan keadilan pendidikan. Lingkungan Sekolah adalah satu-satunya tempat di mana anak anak dengan setara memiliki kesempatan yang sama. Kesetaraan itu dijaga oleh guru. Guru lah yang memastikan bahwa akses pengetahuan tidak menjadi privilese segelintir orang, membangun pilar peradaban dengan keadilan sosial yang dijaga melalui pendidikan.

Tantangan Baru Guru Indonesia
Kita perlu melihat tantangan para guru yang semakin kompleks saat ini, seperti :
1. Beban Administratif vs Misi Moral. Banyak guru terjebak dalam beban administratif yang melelahkan. Padahal tugas utama mereka adalah mendidik. Reformasi pendidikan perlu mengembalikan guru pada fungsi moral dan pedagogis, bukan sekadar teknis.
2. Tantangan Generasi Digital. Generasi Z dan Alpha membutuhkan pendekatan berbeda dengan belajar lebih visual,tidak cepat bosan, memerlukan ruang dialog, pengakuan personal. Dan peran guru dituntut menjadi fasilitator kreatif yang mampu menghubungkan nilai dan teknologi.
3. Tekanan Sosial dan Stigma Profesi. Profesi guru sering dipersepsi rendah dalam strata sosial. Padahal bangsa tidak bisa maju tanpa guru yang kuat dan bermartabat. Negara harus menempatkan guru sebagai profesi prestisius, bukan sekadar pelaksana teknis.
Maka untuk memastikan guru tetap menjadi penjaga peradaban, diperlukan berbagai strategi jangka panjang nasional dengan beberapa hal :
– Pendidikan Guru Berbasis Etika dan Nilai. Yang tidak hanya mengajarkan pedagogi teknis, guru harus memperkuat etika profesi, psikologi moral, kepemimpinan nilai, manajemen emosi, dan komunikasi empatik.
– Mengurangi Beban Administratif Guru. Agar guru kembali kepada esensi profesinya, negara harus menyediakan tenaga administrasi, platform digital otomatis, pengurangan laporan manual. Karena sejatinya tugas guru seharusnya mendidik manusia, bukan mengurus form semata.
– Menjadikan Guru sebagai Pemimpin Komunitas Belajar. Guru adalah agen transformasi sosial. Mereka bukan hanya bekerja di kelas, tetapi di masyarakat. Program seperti community teaching, school-based values movement, dan digital ethics ambassador perlu diperkuat.
– Teknologi yang Memanusiakan. Teknologi harus menjadi alat, bukan tujuan. Guru perlu dilibatkan dalam desain teknologi pendidikan nasional agar nilai kemanusiaan terjaga.

Guru sedang mengajar di kelas. Foto/Tanoto Foundation
Refleksi Hari Guru Nasional: Sebuah Penghormatan
Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni. Ini adalah momentum untuk bertanya: Berapa banyak bangsa melangkah maju karena peran guru? Berapa banyak anak menemukan makna hidup berkat satu kata guru? Berapa banyak karakter baik yang terbentuk berkat satu teladan guru? Guru adalah pahlawan tanpa panggung besar, tetapi cahaya mereka menyinari ribuan jalan kecil menuju masa depan bangsa. Mereka adalah penjaga terakhir peradaban.
Karena ketika orang tua menyerah, guru tetap bertahan, ketika masyarakat gaduh, guru tetap waras, ketika moral publik runtuh, guru menegakkannya kembali, ketika teknologi mengaburkan hati nurani, guru menjernihkannya. Guru tidak meminta tepuk tangan. Guru tidak mengejar panggung. Guru hanya ingin satu hal, melihat muridnya menjadi manusia baik. Dan itu cukup untuk menjaga peradaban.
Bangsa ini tidak akan maju karena teknologi semata. Tidak akan berjaya karena kekayaan alam saja. Tidak akan unggul karena politik atau kekuatan militer. Bangsa ini akan maju karena manusianya. Mereka adalah penjaga akal sehat ketika dunia chaos , penjaga adab ketika nilai moral pudar, penjaga empati ketika manusia semakin individualis, penjaga harapan ketika situasi terasa gelap. Guru bukan hanya profesi. Guru adalah peradaban itu sendiri. Wallahu’a’lam bis showaab
Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung