UINSGD.AC.ID (Humas) — Sejarah adalah cermin bangsa. Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap masa lalu, maka bangsa mudah terjebak pada pengulangan kesalahan yang sama.
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) merupakan salah satu tragedi paling kelam yang menandai pergolakan politik, sosial, dan ideologi di Indonesia. Tragedi tersebut meninggalkan luka historis, trauma sosial, sekaligus narasi politik yang hingga kini masih diperdebatkan.
Di era digital, Generasi Z (lahir sekitar 1997–2012) menjadi generasi yang tidak lagi menerima sejarah secara pasif. Dengan akses informasi tak terbatas, mereka menelaah sejarah melalui sumber resmi, arsip digital, film dokumenter, hingga perdebatan media sosial.
Peristiwa G30S bukan hanya kisah masa lalu, melainkan juga ruang refleksi kritis dalam membangun kesadaran kebangsaan, bagaimana menyikapi peristiwa G30S melalui pendekatan literasi sejarah modern, teori sosial, serta refleksi filosofis, dan membangun harapan dapat memberikan kontribusi perjalanan sejarah bangsa secara objektif, kritis dan relevan.

Literasi Sejarah Generasi Gen Z
Literasi sejarah, menurut Seixas & Morton (2013) dalam teori Critical Historical Thinking menekankan bahwa literasi sejarah tidak berhenti pada hafalan kronologi, melainkan kemampuan menilai bukti, menafsirkan sumber, menganalisis dan menimbang konteks, dan memahami makna moral.
Generasi Z memiliki tantangan bagaimana mengubah “sejarah sebagai beban” menjadi “sejarah sebagai kompas moral”. Literasi sejarah juga tidak hanya membaca peristiwa masa lalu, tetapi juga mengaitkannya dengan tantangan zaman, setidaknya saat ini kita menghadapi tiga tantangan utama:
1. Dominasi media digital, dimana narasi sejarah mudah tercampur antara fakta, opini, bahkan hoaks.
2. Keterputusan emosional, karena generasi saat ini tidak mengalami langsung peristiwa G30S, maka cenderung melihat sebatas cerita “masa lalu”.
3. Kebutuhan akan relevansi, bahwa Generasi Z cenderung hanya tertarik pada hal-hal yang memiliki kaitan nyata dengan kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka, dan cenderung mempertanyakan manfaat sejarah bagi kehidupan masa kini dan masa depan.

Teori Sosial sebagai Lensa Analisis
Beberapa perspektif teori sosial modern ini dapat membantu Generasi Z diajak tidak hanya menerima narasi sejarah secara pasif, melainkan aktif membedahnya dengan nalar kritis.
– Teori Konflik Karl Marx. G30S dapat dipahami sebagai ekspresi pertentangan ideologi dan perebutan kekuasaan dalam kondisi ketimpangan sosial-ekonomi, Generasi Z belajar bahwa ketidakadilan sosial selalu berpotensi melahirkan konflik destruktif.
– Teori Sistem Talcott Parsons. Menurut Parsons, masyarakat bertahan melalui empat fungsi utama: adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola. G30S menunjukkan kegagalan integrasi sosial dan lemahnya mekanisme kontrol politik. Bagi mahasiswa, hal ini menegaskan pentingnya sistem demokrasi yang sehat dan dialogis.
– Teori Memori Kolektif Maurice Halbwachs. Bahwa Memori kolektif tentang G30S dibentuk oleh rezim dan institusi yang berkuasa. Generasi Z dihadapkan pada narasi sejarah yang tidak tunggal, sehingga menuntut literasi kritis untuk menafsirkan ulang memori sejarah atau dekonstruksi narasi agar lebih objektif dan humanis.
Dimensi Filosofis: Sejarah sebagai Guru Etis
Mahasiswa sebagai agen intelektual memiliki peran penting untuk mengolah literasi sejarah secara kritis, bukan sekadar menerima narasi resmi, tetapi juga membuka ruang interpretasi akademik, berfikir kritis dan filosofis :
– Nietzsche: Sejarah Kritis. Nietzsche membagi sejarah menjadi monumental, antik, dan kritis. G30S bisa dipahami sebagai sejarah kritis yang harus ditelaah untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu, sekaligus sebagai sejarah monumental untuk mengingat bahaya ideologi ekstrem, bagaimana upaya menilai ulang masa lalu untuk membebaskan diri dari trauma kolektif.
– Hegel: Dialektika Sejarah. Hegel memandang sejarah sebagai proses dialektika menuju kebebasan. Dalam kerangka ini, G30S adalah antitesis keras dalam perjalanan bangsa, sejarah sebagai proses dialektika menuju kebebasan, dan menjadi momen refleksi untuk memperkuat demokrasi, kebebasan berpikir, dan penghargaan terhadap kemanusiaan.
– Benedict Anderson: Komunitas Terbayang. Menurut Anderson, bangsa terbentuk melalui narasi bersama (imagined communities). Generasi Z mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk merekonstruksi narasi G30S secara inklusif, tidak sekadar narasi politik, tetapi juga narasi kemanusiaan yang lebih humanis, objektif, dan membangun.

Mahasiswa Generasi Z: Dari Trauma Kolektif ke Literasi Kritis
Mahasiswa sebagai representasi Generasi Z dapat membangun sikap baru dalam menyikapi G30S, dan tidak perlu “terjebak” pada trauma kolektif yang diwariskan, melainkan mengubahnya menjadi literasi kritis.
Dengan pemahaman sejarah yang reflektif kita dapat menumbuhkan beberapa sikap penting: 1). Kesadaran Etis. Menolak segala bentuk kekerasan ideologis dan politik yang mengorbankan kemanusiaan. 2). Kesadaran Demokratis. Menekankan pentingnya ruang dialog, kebebasan akademik, dan pluralisme sebagai benteng dari peristiwa masa lampau. 3). Kesadaran Historis-Futuristik. Mengubah sejarah dari trauma menjadi energi moral untuk membangun masa depan bangsa yang lebih dewasa secara demokratis dan inklusif. Generasi Z tidak hanya menjadi pembelajar sejarah, tetapi juga pembentuk sejarah baru.
Mengingat untuk Tidak Mengulang
G30S bukan hanya tragedi politik masa lalu, tetapi juga pelajaran moral untuk masa kini dan masa depan, bahwa bangsa yang lalai terhadap bahaya ekstremisme dan manipulasi ideologi akan mudah terjerumus pada tragedi. Sebaliknya, bangsa yang matang dalam literasi sejarah dan kokoh dalam demokrasi akan mampu membangun masa depan yang lebih adil, damai, dan beradab. Generasi Z menghadapi tantangan unik dalam menyikapi peristiwa G30S.
Dengan literasi sejarah modern, teori sosial, dan refleksi filosofis, dituntut untuk membebaskan diri dari trauma kolektif menuju pemahaman yang lebih kritis, etis, dan demokratis sebagai bekal menghadapi era global yang sarat dengan polarisasi, hoaks, dan konflik identitas. Sebagaimana George Santayana mengingatkan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.” Mahasiswa Generasi Z tidak cukup hanya mengingat, tetapi juga menafsirkan ulang sejarah dengan cara yang kritis dan reflektif. Wallau a’lam bis showab
Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Referensi
Anderson, B. (2006). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Verso.
Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. University of Chicago Press.
Hegel, G. W. F. (1956). The Philosophy of History. Dover Publications.
Nietzsche, F. (1997). On the Advantage and Disadvantage of History for Life. Hackett.
Parsons, T. (1951). The Social System. Free Press.
Santayana, G. (1905). The Life of Reason. Charles Scribner’s Sons.
Seixas, P., & Morton, T. (2013). The Big Six Historical Thinking Concepts. Nelson Education.