Fashl al-Maqal: Jalan Tengah Akal dan Wahyu

UINSGD.AC.ID (Humas) — Apa jadinya bila agama dan filsafat dipertemukan? Inilah yang ditawarkan Fashl al-Maqal karya Ibn Rusyd. Kitab klasik ini menegaskan bahwa filsafat bukan ancaman bagi iman, tetapi sahabat yang membantu memahami wahyu lebih dalam.

Selama berabad-abad, filsafat sering dicurigai. Ada yang bahkan mengharamkan mempelajarinya. Namun, Ibn Rusyd berani tampil dengan pandangan berbeda. Ia membuka ruang dialog antara akal dan wahyu, tradisi dan inovasi.

Kini, terjemahan Fashl al-Maqal hadir untuk pembaca Indonesia. Bukan hanya untuk akademisi, tapi untuk siapa saja yang ingin melihat bahwa Islam sejatinya ramah pada ilmu pengetahuan dan berpikir kritis.

Di era digital dan kecerdasan buatan, pertanyaan baru terus muncul: tentang etika teknologi, privasi data, hingga relasi manusia dengan mesin. Bagaimana fikih merespons semua itu? Dengan pendekatan takwil yang ditawarkan kitab ini, hukum Islam bisa tetap relevan, adil, dan adaptif.

Membaca Fashl al-Maqal berarti melatih keberanian intelektual. Kita diajak untuk berani bertanya, berani berpikir, dan tetap setia pada iman.

Mari menjadikan karya ini sebagai inspirasi untuk membangun peradaban Islam yang maju, terbuka, dan berkeadaban.

Neng Hannah, dosen Filsafat Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *