Prolog
UINSGD.AC.ID (Humas) — Pagi yang cukup dingin, halaqah Subuh dimulai dengan cukup syahdu atau sedikit ngantuk karena semalam telah cukup ekspressif untuk mengisi kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj dengan pembacaan Yasinan, Dzikr, dan pembacaan Maulid Nabi (khususnya bagian Isra’ Mi’raj). Sebagian isi halaqah pagi ini adalah flashback tradisi Rajaban di kalangan masyarakat Sunda. Tentunya, message-nya bukan hanya untuk “kilasan sejarah” (historical flash), tetapi bagaimana “seremoni” dapat memberikan dampak pada peningkatan spiritual (taraqi ruhâniyyah) dan socio-religious (ukhuwwah ijtimâiyyah).
Bagi masyarakat Sunda, bulan Rajab bukan sekadar lembaran kalender dalam penanggalan Hijriah; bahkan ditetapkan menjadi salah satu hari libur nasional. Ia adalah sebuah gerbang spiritual, penanda “pemanasan” (preparing) batin sebelum menghadapi bulan suci Ramadan. Salah satu do’a yang sering dibaca adalah “Allâhumma bâriklanâ fî Râjaba wa Sya’bana wa ballighnâ Ramadhâna (Ya Allâh karuniakanlah keberkahah pada Bulan Rajab dan Sya’ban, serta jadikanlah kami dalam keadaan siap ketika menjalani bulan Ramadhan.
Pada masyarakat Sunda ini, tradisi Rajaban, yang memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, telah tumbuh menjadi institusi sosial (social intitution) yang melampaui sekadar ritual keagamaan formal. Dalam praksinya, Rajaban berposisi sebagau titik temu antara ortodoksi Islam dan kearifan lokal yang cair, menciptakan sebuah ekosistem budaya yang unik, hangat, dan penuh makna simbolik.
—-
Akar Sejarah: Akulturasi yang Lembut
Menelusuri jejak Rajaban di masa lampau membawa kita pada era awal Islamisasi di Bumi Parahyangan ini. Para penyebar Islam di masa lalu tidak serta-merta menghapus struktur budaya agraris masyarakat Sunda, melainkan vernakularisasi (menumpangi) dan menyelaraskan (sinkronisasi) nilai-nilainya. Di masa lampau, pada masyarakat agraris-pedesaan (rural society), perayaan komunal sering kali dikaitkan dengan siklus panen atau penghormatan terhadap leluhur. Ketika Islam masuk, energi komunal ini dialihkan menjadi rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada Nabi saw.
Narasi Isra Mi’raj—perjalanan malam Nabi menembus langit—memiliki resonansi dengan pola pikir mistis (mystical episteme) masyarakat Sunda kuno yang akrab dengan konsep “hiyang” atau perjalanan spiritual menuju alam keabadian (kahyangan). Akibatnya, Rajaban diterima dengan “tangan terbuka,” bukan sebagai doktrin asing yang kaku, melainkan sebagai cerita agung yang perlu dirayakan dengan pesta rakyat. Di masa ini, tradisi seperti membuat kue apem atau wajit dimulai, menyimbolkan perekat persaudaraan yang manis dan lengket, sebuah manifestasi sosiologis dari ajaran ukhuwah islamiyah.
—–
Era Pesantren dan Penguatan Identitas
Pada perjalanannya, tradisi ini terus berjalan hingga masa kolonial dan awal kemerdekaan. Dalam hal inu peran pesantren dan kaum menak (bangsawan) menjadi sangat sentral dalam membentuk wajah Rajaban. Pada fase ini, Rajaban mulai memiliki struktur yang lebih edukatif. Jika sebelumnya perayaan mungkin lebih dominan pada aspek kenduri, era ini menandai penguatan pangaosan (pengajian). Fragmentasi ekspressi kultural keislaman, seperti dzikr, pembacaan sirah nabawi a la Syeikh al-Barjanji, do’a, dan cermaha, menjadi aspek utama selain kendurinya.
Di desa-desa, Rajaban menjadi panggung utama bagi para Kyai untuk menanamkan doktrin shalat lima waktu— sebagai “oleh-oleh utama” (primary massage) dari peristiwa Mi’raj. Selain itu, secara sosiologis, momen ini berfungsi sebagai alat kontrol sosial dan rekonsiliasi. Masyarakat yang mungkin berselisih paham karena urusan irigasi sawah atau batas tanah, akan duduk bersama di atas tikar yang sama, menyantap nasi tumpeng atau ancak (wadah makanan dari pelepah pisang). Di sini, makanan bukan sekadar nutrisi, melainkan simbol egaliter; si kaya dan si miskin memakan menu yang sama, meruntuhkan sekat kelas sosial yang tajam di masa kolonial maupun masa pasca kemerdekaan masa orde lama.
—-
Transisi Modern: Dari Ritual ke Festivalitas
Memasuki era Orde Baru hingga milenium awal, terjadi pergeseran bentuk yang cukup signifikan. Seiring dengan masuknya listrik ke pelosok desa dan membaiknya infrastruktur, Rajaban bertransformasi menjadi perhelatan yang lebih kolosal. Unsur seni budaya mulai mendapatkan panggung yang lebih luas. Di beberapa daerah seperti Cirebon atau Ciamis, Rajaban tidak jarang dibarengi dengan arak-arakan seni, tabuhan gembyung, atau bahkan wayang golek.
Namun, di fase ini pula mulai terlihat benih-benih komersialisasi dan formalitas. Kehadiran penceramah kondang atau qâri-qâri terkenal dari kota besar mulai menggantikan peran Kyai kampung lokal. Begitu juga dengan sisi pentas seni; kelompok-kelompok nasyid mulai muncul sebagai unsur tambahan.
Fokus acara perlahan bergeser dari kekhusyukan ritual komunal dan makan bersama (botram) menjadi tontonan dan hiburan religius. Meskipun demikian, esensi gotong royong masih terasa kuat, di mana biaya acara sering kali ditanggung secara patungan (udunan) oleh warga, menegaskan bahwa kepemilikan acara ada di tangan umat, bukan panitia tunggal.
—–
Rajaban di Era Digital: Tantangan dan Adaptasi
Kini, di tengah arus digitalisasi dan urbanisasi, Tradisi Rajaban menghadapi tantangan eksistensial sekaligus peluang baru. Di satu sisi, kesibukan masyarakat urban Sunda membuat durasi dan intensitas persiapan acara menjadi lebih ringkas. Tradisi memasak bersama di dapur umum mulai digantikan oleh jasa katering praktis, yang secara tidak langsung mengikis ruang interaksi sosial antar-ibu rumah tangga yang dulunya terjadi saat persiapan acara.
Selain itu, munculnya gelombang purifikasi agama di beberapa segmen masyarakat juga memberikan warna baru. Ada diskursus yang lebih kritis mengenai tata cara perayaan, yang terkadang memangkas unsur-unsur budaya lokal yang dianggap tidak memiliki dalil kuat. Akibatnya, di beberapa tempat, Rajaban menjadi sangat puritan: hanya ceramah agama tanpa iringan seni tradisi atau ritual makanan yang rumit.
Namun, menariknya, teknologi juga menjadi alat preservasi. Undangan Rajaban kini menyebar via grup WhatsApp, dan ceramah-ceramah Rajaban disiarkan langsung melalui media sosial, menjangkau diaspora Sunda yang berada jauh dari kampung halaman. Esensi Rajaban sebagai “pengingat shalat” dan “cinta Nabi” tetap bertahan, meskipun “kemasan” budayanya terus bernegosiasi dengan zaman.
——
Simpulan: Sebuah Jangkar Budaya
Secara keseluruhan, perjalanan Tradisi Rajaban dari masa ke masa menunjukkan ketangguhan budaya masyarakat Sunda. Ia bukan fosil yang diam, melainkan organisme yang hidup. Dari kenduri agraris di masa lampau hingga tabligh akbar digital di masa kini, benang merahnya tetap sama: kerinduan kolektif akan kesalehan dan kehangatan persaudaraan (brotherhood warmes). Rajaban tetap menjadi jangkar yang menjaga masyarakat Sunda agar tidak hanyut dalam modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung