Dua Jam Bersama Janet Steele

[www.uinsgd.ac.id] Janet Steele menjadi satu-satunya perempuan yang tidak berkerudung di tengah ratusan mahasiswi dan beberapa dosen perempuan Fakultas Dakwah dan Komunikasi saat membicangkan Jurnalisme Sastrawi pada Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Gedung Z A, Kamis (18/10).

Bagi Janet, ini dapat dijadikan sudut pandang dalam menulis jurnalisme sastrawi. “Di tengah perempuan yang berhijab, hanya saya lah yang tidak mengenakan hijab”,jelasnya.

Hal tersebut disampaikan peneliti budaya komunikasik massa di Asia tenggara kepada kuliah ratusan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi.

Guru Besar Media dan Public Relations Universitas George Washington tersebut menyampaikan bahwa menulis berita dengan gaya Jurnalisme Sastrawi sebagai jurnalisme baru memiliki empat unsure,”pertama, adegan demi adegan. Berita dengan gaya jurnalisme sastrawi tidak dimulai dengan penjelasan, tetapi penceritaan adegan demi adegan”.

“Kedua, dialog atau percakapan. Dalam berita biasanya tidak ada dialog, kecuali kutipan. Dalam jurnalisme sastrawi dialog menjadi salah satu unsur berita. Melalui dialog, setiap kata-kata asing, gaya bahasa ditulis apa adanya”.

Ketiga, sudut pandang yang beragam. Dalam berita model ini, penyampaian informasi ditulis dari berbagai sudut pandang. Bisa dari sudut pandang laki-laki atau ibu-ibu yang menyaksikan peristiwa”.

Keempat, detail. Ini menjadi lifestyle dalam penulisan jusnalisme sastrawi. Detail penceritaan untuk mengungkapkan suasana, apa yang menarik dan apa yang beda. Misalnya di ruangan ini, satu-satunya yang tidak mengenakan hijab hanya saya. Atau jurnalisme Islam memiliki keunikan karna tidak terdapat di Amerika. Ini menjadi satu hal yang menarik”, jelas Janet, menggunakan bahasa Indonesia.

Ia menyampaikan bahwa penggunaan jurnalisme sastrawi antara Amerika dan Indonesia berbeda. Di Amerika, jurnalisme sastra biasanya berada di halaman depan, di Indonesia ditempatkan di halaman dalam. “ Di setiap majalah, biasanya ada bentuk feature, sementara di Koran harian, bentuk feature ini tampil pada hari minggu,” ungkapnya.

Bagi professor yang telah melakukan beberapa penelitian tentang medima di Indonesia ini, hal paling sulit dalam menulis jurnalisme sastra adalah kalimat transisi, namunm menurutnya, hal tersebut bisa disiasati dengan menggunakan kalimat dialog. Point kedua yang cukup sulit adalah pada saat ending berita. Seperti halnya cerpen, ending berita pada feature harus mampu menyelesaikan cerita yang berbeda dari berita biasa.

Ia menganalisis salah satu tulisan dari wartawan Washington Post, Anthony Shadid. Tulisan tentang meninggalnya seorang anak lelaki yang meninggal di Irak alur; penceritaan tokoh, konflik (susah senang, persinggungan) dan terakhir solusi konflik.

Menjawab pertanyaan tentang aturan jurnalisme yang menekankan pada tulisan yang singkat dan padat, ia menjawab bahwa disinilah pentingnya penulisan lead yang menarik , sehingga pembaca akan meninggalkan aktifitasnya untuk menyelesaikan bacaannya.

Setelah dua jam berbagi ilmu dan pengalamannya, ia pun menutup kuliah umum dengan dipandu Moderator Subagyo Budi Prayitno. ***[dudi]

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *