Dosen: Ilmu, Rizki dan Gajah

UINSGD.AC.ID (Humas) — Menjelang weekend, Jumát sore. Harusnya bercengkrama dengan keluarga. Sambil ngopi di ruang tunggu, gate 17 Garuda. Demi tugas negara. Mau jadi penguji. Menentukan nasib orang.

Teringat masih ada yang belum dituliskan. Masih tentang sambutan. Tidak apa-apa. Meskipun late post. Tidak ada salahnya. Ini sambutan. Dalam rapat dosen minggu lalu. Rapat dosen persiapan perkuliahan.

Saya memulai dengan apresiasi kepada para dosen. Yang sudah mengabdi mengajar dengan baik. Semester genap lalu. Meskipun hasil evaluasi mahasiswa. Masih ada yang perlu ditingkatkan. Tidak apa-apa. Itu proses. Evaluasi penting, demi perbaikan berkelanjutan.

Mudah-mudahan semester ganjil ini. Terus menjadi lebih baik. Semester baru. Semangat baru. Demi menjaga semangat pengajaran. Saya ingatkan diri sendiri dan para dosen semua. Tentang perlunya refleksi sebagai dosen.

Jihad Akademik Dosen

Pekerjaan dosen bukan hanya berbagi ilmu, tetapi juga menjemput rizki. Karenanya niat harus menjadi acuan. Menebar ilmu, menjemput rizki. Dua-duanya ada landasan teologisnya. Dua-duanya masuk kategori berjihad. Jihad akademik, dan jihad ekonomi. Demi nafkah keluarga.

Karena jihad akademik. Maka saya mengutip salah satu sabda Sang Rasul. Yang relevan dengan profesi pengajar. Kira-kira redaksinya begini. Khairukum Man Ta’alama Qurán Wa Allamahu. Secara literal. Maknanya kurang lebih: Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang belajar Qurán dan mengajarkannya. Saya coba elaborasi. Mungkin bisa dimaknai kontekstual. Karena ini bukan fakultas agama. Bukan mengajarkan tafsir. Tapi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Maka saya informasikan. Kepada para dosen. Bahwa makna elaboratifnya. Bisa berarti sebaik-baik anda adalah orang yang banyak mengkaji bacaan (Quránan). Menganalisa bahan ajar.

Apapun bidangnya. Bisa sosiologi, politik ataupun administrasi publik. Kemudian hasil bacaan anda, anda ajarkan kepada para mahasiswa. Maka anda bisa masuk kategori sebaik-baik orang. Yang include dalam makna hadits di atas.

Karenanya. Tingkatkan terus bacaan anda. Baca bahan ajar-bahan ajar terkini. Untuk disiplin ilmu anda. Jadikan bahan ajar itu. Sebagai bagian dari RPS. Jangan lupa hubungkan RPS dengan CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan). Juga dengan Profile Lulusan. Itu yang biasa ditanyakan oleh asesor akreditasi. Poin borang 40 dan 41. Tentang RPS, CPL dan Profile lulusan prodi.

Jihad kedua adalah jihad ekonomi. Dosen, karena profesinya, maka otomatis akan mendapatkan ujroh ekonomi. Penghasilan itu akan menjadi nafkah keluarga. Karenanya harus benar-benar halalan toyyiba. Biar berkah. Maka saya ingatkan. Lagi-lagi diri saya sendiri dan para dosen. Jika ingin berkah apa yang kita terima, maka seriuslah mengajar.

Seriuslah melayani mahasiswa. Jangan sampai mereka kecewa. Akan pengajaran kita. Layani mahasiswa dengan baik. Jawab WhatsApp mereka Ketika mereka menghubungi. Mudahkan urusan orang lain (mahasiswa). Insya Allah urusan anda akan dimudahkan Tuhan.

Beri Motivasi, Teladan yang Menginspirasi

Lebih dari jihad ekonomi. Berikan motivasi kepada para mahasiswa. Agar mereka menjadi pembelajar yang baik. Menjadi mahasiswa yang penuh motivasi. Penuh semangat. Dalam proses pembelajaran. Menjadi mahasiswa-mahasiswa yang sukses.

Menurut Ferlazzo (2015) dalam Strategies for Helping Students Motivate Themselves, salah satu cara memotivasi mahasiswa adalah membangun hubungan yang baik dengan mereka. Hubungan yang baik anatara mahasiswa dan dosen akan mempengaruhi mahasiswa termotivasi untuk belajar. Karenanya, mahasiswa jangan dijauhi. Bangunlah hubungan yang baik. Kata Theobald (2006), memang membangun trust dan hubungan baik perlu waktu. Apalagi dengan mahasiswa. Dosen harus memahami karakter, juga minat mahasiswa.

Menurut Kein Bain, President Best Teacher Institute, dalam bukunya What the best college teachers do. (Harvard University Press, 2004), untuk mendapatkan trust dari mahasiswa, dosen harus open minded. Dosen perlu sharing dengan mahasiswa tentang kisah kesuksesan sang dosen.

Tentang perjuangan sang dosen menggapai kesuksesan. Tentang kegagalan dan tentang belajar dari kegagalan menuju kesusksesan. Jika dosen melakukan itu, maka mahasiswa akan mencontoh. Mahasiswa akan termotivasi. Ini adalah momentum. Awal semester. Adalah momentum untuk berubah. Momentum untuk menjadi dosen yang lebih baik. Lebih semangat. Lebih memotivasi mahasiswa.

Urusan motivasi, menarik membaca tulisan Patrick J. Eggleton, Motivation: A Key to Effective Teaching”. Dalam karyanya, Eggleton menyebutkan kutipan berikut ini: “The teacher has to have the energy of the hottest volcano, the memory of an elephant, and the diplomacy of an ambassador”. Sosok dosen itu harus memiliki energi sepanas energi gunung berapi, sekuat memori gajah, sehebat diplomasinya seorang duta besar atau diplomat.

Dosen yang baik perlu memiliki antusiasme penuh dalam mengajar. Penuh vitalitas. Bagaikan gunung berapi yang mengeluarkan energi hebat. Dosen harus menjadi inspirator bagi mahasiswa-mahasiswanya. Supaya mahasiswa engage dengan ilmu yang diajarkan.

Dosen dituntut untuk mempunya memori yang kuat. Bagaikan memori gajah. Dosen harus mengingat nama-nama mahasiswanya, kelebihan mahasiswa. Kekurangan-kekurangannya. Mengingat materi minggu-minggu sebelumnya. Menghubungkan materi sebelumnya dengan materi yang diajarkan minggu berikutnya.

Pokoknya, dosen dituntut untuk hapal segala hal. Bagaikan gajah. Konon, tiga binatang yang paling kuat memorinya adalah gajah, lumba-lumba dan gagak. Gajah hapal betul rute-rute yang biasa dia lalui. Rute mencari air. Rute mencari sumber makanan. Setelah gajah baru Lumba-lumba. Yang kuat menghapal suara-suara. Baru gagak yang kuat akan penglihatannya.

Terakhir, dosen harus pandai berdiplomasi. Bagaikan sang ambassador. Bagaikan sang diplomat. Ia dituntut mampu memanage konflik. Pandai menyelesaikan kesalahpahaman. Pandai memahami berbagai macam personalitas mahasiswa.

Bagaikan seorang diplomat, dosen dituntut memelihara kedamaian di kelas. Pandai membangun hubungan yang baik di kelas. Dan mampu mengelola situasi sensitive di kelas dengan penuh respect. Dengan penuh keadilan. Demi menjaga keharmonisan di kelas. Demi kondusifitas. Intinya, dosen adalah sosok yang dituntut punya multi talenta. Tidak hanya urusan pengajar. Tapi juga memahami psikologi mahasiswanya yang variatif.

Harus segera boarding. Pokoknya, selamat menyambut tahun ajaran baru. Tetap semangat dalam jihad akademik. Bravo para dosen.

Ahmad Ali Nurdin, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *