Dirimu adalah Apa yang Engkau Unggah (You Are What You Post)

Selektif dalam memilih teman merupakan prinsip utama dalam Islam., karena teman itu layaknya cermin untuk melihat diri sendiri. Foto ilustrasi/istimewa/kalamSindoNews

UINSGD.AC.ID (Humas) — Media sosial telah menjadi cermin paling jujur sekaligus paling kejam bagi diri kita. Karakter kita mudah ditebak dari apa yang kita kicaukan. Dalam dunia yang semakin padat dengan informasi, setiap status, unggahan, atau komentar menjadi fragmen kecil yang menjahit wajah diri kita.

Tidak semua yang ingin kita kicaukan layak kita unggah. Hasrat untuk selalu berbicara, memamerkan opini, atau membalas komentar sering muncul lebih cepat dari nalar. Kita tergoda untuk memencet tombol “unggah” sebelum sempat bertanya pada diri sendiri, apakah kata-kata ini mencerminkan nilai terbaik dalam diri saya? Apakah ini pantas dibagikan? Apakah ini akan menyakiti orang lain, merendahkan martabat, atau justru menurunkan kualitas diri saya sendiri?

Ada batas etika, batas kepantasan, dan batas kesadaran diri yang seharusnya menjadi pagar di setiap aktivitas digital kita. Ruang maya memang luas, tetapi bukan berarti bebas dari norma. Etika komunikasi di dunia nyata tetap berlaku di dunia maya: sikap hati-hati, kesantunan, empati, dan tanggung jawab moral.

Bahkan, dalam banyak hal, ruang digital menuntut standar etika yang lebih tinggi, sebab rekam jejaknya tidak hilang dan audiensnya tidak terbatas. Kata-kata yang dilontarkan hari ini dapat kembali menghantui bertahun-tahun kemudian.

Pada akhirnya, kualitas diri kita tidak hanya dinilai dari apa yang kita lakukan di dunia nyata, tetapi juga dari bagaimana kita hadir di dunia maya.

Status yang bijak menunjukkan kedewasaan. Komentar yang santun mencerminkan kepribadian. Unggahan yang bermakna memperlihatkan ketajaman berpikir. Sebaliknya, unggahan yang sembrono, emosional, atau merendahkan akan melekat sebagai representasi diri yang sulit dihapus.

Karena itu, sebelum membuat unggahan, bertanyalah, apakah ini menggambarkan siapa saya? Karena kita adalah apa yang kita unggah (you are what you post).

Bandung, 23 November 2025

 

Ija Suntana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *