UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-58 yang berlangsung khidmat di Gedung Anwar Musaddad, Rabu (8/4/2026).
Dengan mengusung “58 Tahun Meneguhkan Keunggulan: Dari Kampus Keilmuan Menuju Peradaban”, peringatan ini menjadi momentum reflektif dan proyeksi masa depan kampus dalam memperkuat peran keilmuan bagi kemaslahatan umat dan peradaban global.
Tasyakuran Dies Natalis ini dibuka oleh Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), anggota DPR-RI (Komisi VIII), Dr. KH. Maman Imanulhaq, M.M., Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan Keagamaan Kementerian Agama, Prof. Dr. Iswandi Syahputra, S.Ag., M.Si., Drs. H. Taqdimullah, salah satu Pendiri IAIN SGD yang masih hidup, Drs. KH. Nu’man Abdul Hakim, Wakil Gubernur Jawa Barat (2003-2008), Prof. Dr. Endang Soetari Ad, M.Si, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 1995-2003, Dr. KH. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al-Jabar, Ketua Umum PP IKA Drs. H. Cucu Sutara, MM.
Bukan Sekedar Angka, Pergulatan Intelektual
Prof Mahmud menegaskan 58 tahun bukan sekadar penanda usia. “Jejak panjang pergulatan intelektual, pengabdian, dan ikhtiar peradaban,” tegasnya.
UIN Bandung telah melewati berbagai fase sejarah, mulai lembaga yang sederhana, tumbuh menjadi perguruan tinggi keagamaan yang kokoh, dan kini tampil sebagai universitas yang memiliki posisi penting dalam lanskap pendidikan tinggi baik di tingkat nasional maupun tingkat global.
Pada usia yang semakin matang ini, kita patut bersyukur karena banyak capaian yang telah diraih. “Kita menyaksikan peningkatan kualitas akademik, penguatan riset dan publikasi, bertambahnya para guru besar dan dosen yang berkualifikasi doktor, berkembangnya jejaring internasional, meningkatnya kepercayaan masyarakat, serta menguatnya kontribusi UIN Bandung dalam kehidupan bangsa,” jelasnya.
Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa capaian tidak boleh melahirkan rasa puas diri. “Kampus yang besar bukanlah kampus yang berhenti pada prestasi, melainkan kampus yang terus bertanya: persoalan apa yang belum selesai? tantangan apa yang belum dijawab? Dan kontribusi apa yang masih harus diberikan? Kita hidup di tengah zaman yang bergerak dengan sangat cepat dan penuh dengan ketidakpastian,” ujarnya.
Dunia menghadapi krisis ekologis, ketimpangan sosial, disrupsi teknologi, fragmentasi budaya, dan menurunnya sensitivitas kemanusiaan. Dalam situasi seperti itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi ruang transfer pengetahuan saja. Tetapi, kampus harus menjadi pusat produksi makna, pusat pembentukan karakter, dan pusat transformasi sosial.
“Di usia ke-58 ini, UIN Bandung harus berani melangkah lebih jauh, tidak hanya menjadi kampus yang unggul secara administratif dan akademik, tetapi juga kampus yang relevan, transformatif, dan menyentuh persoalan nyata di masyarakat,” tuturnya.
Dalam sambutannya, Prof Iswandi Syahputra menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian UIN Bandung yang dinilainya membanggakan, baik dalam bidang akademik maupun kontribusi keilmuan. “Rasa bangga terhadap UIN Bandung yang duduki prestasi, untuk kategori keagamaan versi unirank,” tuturnya.
Menurutnya, capaian pemeringkatan, dinamika akademik, peran kampus sebagai jendela virtual yang aktif diakses kalangan ilmuwan. ” Sungguh menjadi kado terindah bagi UIN Bandung, tema yang diangkat ini, refleksi yang mendalam, meneguhkan keunggulan,” ucapannya.
Mengingatkan pentingnya tasyakur binni’mah, bersyukur atas nikmat dengan terus meningkatkan kualitas dan menghadirkan kebermanfaatan baru. “Dengan terus bersyukur, nikmat akan terus bertambah,” ujarnya.
Peradaban Berbasis Nilai dan Tindakan Nyata
Dalam orasi ilmiahnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengangkat tema tentang budaya urang Sunda dan peradaban Pasundan.
KDM menekankan pentingnya membangun peradaban berbasis nilai dan tindakan nyata, bukan sekadar wacana.
Selama ini peradaban kerap berhenti pada tataran wacana, tanpa diikuti tindakan nyata yang berakar dari kearifan lokal.
“Sejak dulu kita menjadi bangsa yang gemar ngawacana, berbicara tentang peradaban, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan praktik hidup yang beradab. Wacana harus dibarengi dengan tindakan. ,” ujarnya.
Dengan mencontohkan kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan sebagai bagian dari praktik peradaban, bahkan dari hal-hal kecil seperti mengelola sampah. Baginya, tindakan sederhana yang konsisten justru menjadi teladan nyata dibanding sekadar diskursus panjang tanpa implementasi.
“Wacana sering berakhir di ruang diskusi, bahkan di meja jamuan. Sementara tindakan adalah teladan. Saya belajar dari karuhun (leluhur), Ibu bahwa nilai hidup harus dirasakan dan dijalankan. Saeutik mahi, loba nyesa. Urang Sunda manajemen kerjana kudu pok, pek, prak,” ungkapnya.
Untuk berbagai kerusakan lingkungan dan sosial tidak lepas dari pendekatan yang terlalu teknokratis dan minim sentuhan nilai. Menurutnya, pembangunan sering kali berangkat dari proyek, bukan dari rasa dan kearifan.
“Banyak kerusakan justru lahir dari kajian akademik yang tidak berpijak pada nilai. Peradaban tidak cukup dibangun oleh konsep, tetapi oleh rasa sebagai inti dari nilai dan seni kehidupan,” tegasnya.
Dalam pandangan Sunda, manusia yang paling buruk adalah yang merusak alam. “Yang paling buruk adalah orang yang menebang pohon sampai ke akar-akarnya,” tandasnya.
Dalam khazanah budaya Sunda, peradaban harus bersumber pada kekuatan spiritual yang terintegrasi dengan seni, budaya, dan teknokrasi. Filosofi “ka luhur sirungan, ka handap akaran” menjadi landasan penting tentang pembangunan harus memiliki orientasi nilai ke atas, akar yang kuat ke bawah dalam kehidupan masyarakat.
“Dalam falsafah Sunda, peradaban tertinggi itu rasa. Karena tertinggi rasa maka orang Sunda itu tidak menulis peradaban, orang Sunda tidak mendiskusikan peradaban, tidak membuat konsensus, dia yang tertinggi,” ujarnya.
Pemahaman nilai kehidupan cukup dilakukan melalui penghayatan. “Dengan melihat memandang, mendengar, dan merasa maka dia bisa merasakan mana yang mesti dilakukan dan mana yang mesti tidak dilakukan,” ungkapnya.
Mengenai pembangunan gedung untuk Fakultas Kedokteran UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Saya bangun sekian miliar, tapi nanti mahasiswa Jawa Barat, anak-anak orang miskin di Jawa Barat kuliah di sini gratis Kedokteran,” imbuhnya
Belajar dari Iran tentang Filosofi Zaitun
Saat menyampaikan pemaparan, Dr. Maman Imanul Haq mengangkat Filosofi Zaitun: Belajar dari Iran sebagai refleksi peradaban yang menekankan keseimbangan antara iman, ilmu, dan kemandirian.
Dies Natalis ini merupakan momentum penting untuk meneguhkan arah peradaban kampus. “Hari ini, atas undangan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sahabat Prof Rosihon Anwar, saya menyampaikan orasi ilmiah sebagai refleksi bagi kampus ini untuk meneguhkan arah peradaban,” ujarnya.
Menurutnya, Al-Qur’an menghadirkan zaitun sebagai syajarah mubarakah, pohon yang diberkahi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 35: laa syarqiyyah wa laa gharbiyyah (tidak timur dan tidak barat). Zaitun bukan sekadar simbol botani, tetapi representasi peradaban. “Hati yang bersih, ilmu yang jernih, iman yang menerangi, dan sikap yang seimbang,” tuturnya.
Karakter ini mencerminkan konsep ummatan wasathan, umat yang moderat, tidak ekstrem, tetapi produktif dan istiqamah.
Menurutnya filosofi ini menemukan relevansinya dalam pengalaman Iran yang membangun peradaban dari akar tauhid yang kuat. Melalui pendidikan ideologis dan sistematis, lahir kemandirian di bidang ekonomi, industri, dan teknologi.
“Tekanan global tidak melemahkan, justru membentuk daya tahan nasional. Iran menjadi laboratorium nyata bagaimana krisis diubah menjadi kekuatan,” jelasnya.
Pentingnya kepemimpinan berilmu dan sederhana yang mampu menghadirkan legitimasi moral dan arah perjuangan.
“Zaitun mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari akar yang kokoh, nilai yang jernih, dan ketahanan dalam ujian. Dari iman menuju ilmu, dari tekanan menuju kemandirian, itulah jalan peradaban,” jelasnya.
Alumni Harus Bermanfaat
Pada sesi pesan dan kesan, KH Nu’man Abdul Hakim mengenang perjalanan akademiknya saat masih menempuh pendidikan di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sambil mengisahkan, dirinya mulai kuliah pada tahun 1973 di kawasan Tangkuban Parahu, baru pada 1974 berpindah ke Cipadung dan tinggal di lingkungan Al-Jawami hingga lulus pada 1981.
Dengan menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para guru dan tokoh yang berjasa dalam perjalanan akademiknya. “Hari ini saya bersyukur kepada Drs. H. Taqdimullah, guru PGA yang kini berusia 85 tahun dan turut hadir dalam acara Dies Natalis, serta kepada Endang Soetari yang pernah mengantarnya menjalani KKN di Majalengka pada tahun 1979,” ujarnya
Dalam pesannya, keberadaan alumni IAIN/UIN harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan diterima oleh lingkungan sosialnya. “Sebagai alumni, kita harus melahirkan kepedulian dan kebermanfaatan. Ilmu yang didapat harus hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.
Tasyakur Binikmah
Rektor Prof Rosihon Anwar menjelaskan Tasyakuran Dies Natalis ke-58 ini hendaknya tidak hanya kita maknai sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai momentum refleksi dan konsolidasi. ” Momentum untuk meneguhkan kembali arah, cita-cita, dan tanggung jawab sejarah kita. Mari kita bekerjasama dan sama-sama bekerja kita bangun bersama UIN Bandung sebagai kampus yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam akhlak, tajam dalam riset, kuat dalam pengabdian, dan luas manfaatnya bagi masyarakat,” tuturnya.
Saat ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung meraih pemeringkatan Scimago Institutions Rankings by Subject 2026 ke-25 dunia pada bidang Religious Studies.
Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen institusi dalam memperkuat kualitas riset serta kontribusi keilmuan di tingkat global.
Berdasarkan indikator Scimago, UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatatkan performa yang solid dengan capaian persentil 58 pada aspek keseluruhan, 69 pada riset, 79 pada inovasi, dan 21 pada dampak sosial.
Untuk yang terbaru versi uniRank dalam rilisnya tahun 2026, “Alhamdulillah UIN Sunan Gunung Djati Bandung berada pada peringkat nasional ke-36 dari 611 Perguruan tinggi di Indonesia,” ucapnya.
Tentunya, keberadaan kampus yang tidak hanya besar karena gedung dan angka-angka prestasinya. “Besar karena ide dan gagasannya, besar karena keberpihakannya kepada kemanusiaan, dan besar karena kemampuannya menghadirkan harapan,” tandasnya.
Dalam konteks Jabar, membangun peradaban berbasis nilai dan kearifan lokal. “Hadir dalam pojok Sunda kearifan lokal Jabar. Peradaban dengan membaca kearifan lokal. Inilah kontribusi UIN Bandung terhadap Jabar, yang sudah ditulis dalam buku ini,” bebernya.
UIN Sunan Gunung Djati Bandung tengah mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran (FK) yang berlokasi di Kampus 2, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung.
“Kita akan terus melakukan pengembangan, salah satunya membuka Fakultas Kedokteran. Ada lahan masih kosong di Kampus 2 UIN,” katanya.
Dengan adanya Dies Natalis ke-58 ini tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi ruang refleksi kolektif bagi civitas akademika untuk meneguhkan kembali peran UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai kampus keilmuan yang tidak hanya melahirkan gagasan, tetapi berusaha menghadirkan praktik peradaban yang nyata, berakar pada nilai, dan berdampak luas bagi umat dan bangsa.
