Dialog Kemanusiaan, Toleransi, dan Budaya ala Moderasi Beragama

UINSGD.AC.ID (Humas) — Komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya merupakan empat indikator utama dalam moderasi beragama. Kementerian Agama (Kemenag) menjadi pusat koordinasi pelaksanaan program moderasi beragama, termasuk dalam pengawasan dan pemantauan di berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Rumah Moderasi Beragama (RMB) hadir di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai wadah untuk mengembangkan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip moderasi beragama. RMB menjadi pusat penguatan nilai-nilai fundamental seperti komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, serta penghargaan terhadap budaya lokal.

Salah satu daerah yang menjadi contoh penting dalam konteks ini adalah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Wilayah ini pernah mengalami konflik sosial bernuansa agama, yang bermula dari bentrokan kecil antar kelompok pemuda dan berkembang menjadi kerusuhan besar.

Beragam faktor turut memicu kekerasan tersebut, di antaranya persaingan ekonomi antara penduduk asli Poso yang mayoritas Kristen dan para pendatang Muslim seperti pedagang Bugis serta transmigran dari Jawa, ketidakstabilan politik dan ekonomi, hingga perebutan kekuasaan birokrasi di tingkat daerah.

Situasi tersebut memunculkan rangkaian kekerasan sejak Desember 1998, berlanjut pada April 2000, dan mencapai puncaknya pada Mei–Juli 2000. Bentrokan antara kelompok Islam dan Kristen kala itu menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan parah, termasuk peristiwa tragis di Desa Sintuwulemba.

Upaya perdamaian akhirnya ditempuh melalui Deklarasi Malino yang ditandatangani pada 20 Desember 2001. Kesepakatan ini berhasil menurunkan intensitas kekerasan secara bertahap dan memulihkan stabilitas sosial di Poso.

Salah satu lembaga yang berperan penting dalam proses rekonsiliasi dan pemulihan sosial adalah Institut Mosintuwu, sebuah organisasi masyarakat akar rumput yang berfokus pada perdamaian dan keadilan, baik saat konflik maupun pascakonflik. Lembaga ini berdiri atas keprihatinan terhadap kekerasan berlatar agama dan ketimpangan pengelolaan sumber daya alam yang merugikan masyarakat miskin serta perempuan akar rumput di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk dukungan terhadap semangat perdamaian dan penguatan moderasi beragama, Rumah Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Dialog Kemanusiaan, Toleransi, Anti-Kekerasan, dan Penerimaan Budaya Lokal pada Rabu–Kamis, 8–9 Oktober 2025.

Kegiatan ini melibatkan Institut Mosintuwu sebagai mitra Non-Governmental Organization (NGO) internasional, serta menggandeng Pondok Pesantren Walisongo dan Kementerian Agama Kabupaten Poso. Melalui dialog ini, seluruh pihak berkomitmen memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan menjaga stabilitas sosial agar Poso tetap damai dan harmonis.

Direktur Eksekutif RMB Dr. H. Usep Dedi Rostandi, LC., MA., Sekretaris Eksekutif RMB Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag., dan Staf RMB Eko Agus Purwanto

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *