Di Balik Tirai Kesunyian

Ilustrasi sujud/ Foto: iStock

Ode untuk Kesyahduan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah hujan rintik-rintik yang mengguyur kota Hujan, suara Sang Arif billâh merasuk jiwa melalui streaming, mengurai “Misteri dari Kesendirian”.

Ia menuturkan bahwa seringkali kita salah mengartikan kesendirian sebagai kesepian atau sebaliknya. Padahal, bagi seorang salik (penempuh jalan spiritual), kesendirian dan kesunyian adalah “kamar pengantin” tempat jiwa bercengkrama mesra dengan Kekasih Sejati. Sang pengantin sangat butuh kesunyian agar kebersamaan dapat terkondisikan

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang bising, di mana setiap detiknya kita dituntut untuk “tampil”, “bersuara”, dan “terlihat”, jiwa kita perlahan mengering. Kita menjadi asing dengan diri sendiri. Di sinilah kesendirian (uzlah atau khalwat) bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Mengapa? Karena Tuhan seringkali meletakkan rahasia-Nya bukan di pasar yang ramai, melainkan di hening malam yang syahdu. Walaupun, hal ini bukan kemutlakan, tetapi keumumannya (ghalib).

Jejak al-Mushtafa: Sebelum Cahaya, Ada Keheningan

Lihatlah Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebelum wahyu pertama mengguncang semesta, sebelum beliau memikul beban risalah yang berat, beliau terlebih dahulu melakukan tahannuts (beribadah dalam kesunyian).

Beliau mendaki Jabal Nur, masuk ke dalam Gua Hira. Beliau meninggalkan riuh rendah Makkah yang penuh kemusyrikan dan degradasi moral. Di gua yang sempit dan sunyi itu, beliau melatih batinnya untuk peka menangkap sinyal langit.

Keheningan Gua Hira adalah madrasah pertama Nabi. Di sana, beliau belajar bahwa untuk mendengar suara kebenaran, seseorang harus terlebih dahulu mematikan kebisingan makhluk. Jika Sang Kekasih Allah saja membutuhkan kesendirian untuk mempersiapkan jiwanya, lantas siapakah kita yang merasa cukup dengan ibadah yang “sekadarnya” di tengah keramaian?

—-

Pandangan Para Arif Billah: Kesendirian sebagai Laboratorium Jiwa

Para ulama dan ahli makrifat sepakat bahwa tidak ada hati yang bisa benar-benar bening tanpa melewati fase kesendirian.

1. Ibnu Athaillah as-Sakandari (Penulis Al-Hikam)

Dalam salah satu hikmahnya yang paling masyhur, beliau berkata dengan sangat puitis namun menohok:

Idfin wujudaka fi ardhil khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu nitajuhu.”

“Kuburlah eksistensimu di dalam bumi kerendahan (kesembunyian/ketiadaan). Sebab, sesuatu yang tumbuh tanpa dipendam (ditanam), tidak akan sempurna buahnya.”

Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa jika kita ingin “berbuah” (memberi manfaat sejati dan mencapai makrifat), kita harus berani “dikubur” dalam kesunyian. Kita harus berani tidak dikenal, berani sendiri bersama Allah, jauh dari tepuk tangan manusia. Tanpa fase “penguburan” ini, ibadah kita hanyalah tanaman kerdil yang layu sebelum berkembang.

—-

2. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Beliau menggambarkan betapa butuhnya hati pada kesendirian untuk “mengumpulkan” kembali serpihan diri yang berserakan:

“Di dalam hati terdapat kekusutan yang tidak bisa diluruskan melainkan dengan menghadap kepada Allah. Di dalamnya terdapat kegelisahan yang tidak bisa ditenangkan melainkan dengan menyendiri bersama-Nya.”

Kesendirian adalah momen rekonsiliasi. Saat sendiri, topeng sosial kita lepas. Kita tidak lagi menjadi “pejabat”, “guru”, atau “tokoh”. Kita kembali menjadi hamba yang fakir, yang menangis tanpa rasa malu, yang merengek tanpa takut dihakimi.

Dadan Rusmana Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *