UINSGD.AC.ID (Humas) — Setiap tanggal 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum reflektif atas perjalanan panjang bangsa dalam membangun jati diri, kemerdekaan, dan peradaban.
Penetapan Hari Kebangkitan Nasional dilakukan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 untuk memperingati berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Dalam konteks kekinian, kebangkitan tidak lagi hanya diukur dari gerakan fisik, melainkan dari kemajuan intelektual, integritas moral, dan daya saing bangsa di kancah global.
Pendidikan menjadi faktor kunci strategis dalam menggerakkan perubahan tersebut.
Pertanyaannya adalah: Apakah sistem pendidikan kita saat ini telah dikelola secara optimal untuk melahirkan kebangkitan baru melalui generasi unggul yang menjadi agen perubahan?
Pendidikan sebagai Fondasi Bangsa
Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa. Karena Pendidikan dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, — menghasilkan kualitas sumber daya manusia, — memperluas akses informasi dan jejaring sosial, — serta mampu membentuk karakter dan nilai-nilai bangsa.
Sahlberg, seorang tokoh Pendidikan negara Finlandia, dalam bukunya yang memenangkan nominasi Grawemeyer Award 2013, What Can the World Learn from Educational Change in Finland? Menurutnya, “If we all think the same way, none of us probably thinks very much”. Betapa nilai kreativitas, inovasi, dan distingsi dalam pemikiran anak-anak sekolah sangat penting sebagai pondasi perubahan paradaban suatu bangsa.
Senada dengan itu, Sir Michael Barber, seorang ahli kebijakan Pendidikan, juga sebagai Chief Adviser to the Secretary of State for Education on School Standards selama masa jabatan pertama Perdana Menteri Tony Blair, tahun 1997-2001) bahwa Pendidikan menjadi bagian penting dari pelayanan publik yang harus dikelola secara efektif untuk memberikan dampak perubahan nyata bagi Masyarakat.
Pendidikan sebagai sektor publik harus direformasi dengan pendekatan performance-driven, agar mampu merumuskan visi yang jelas, pelaksanaan yang konsisten, dan penggunaan data yang akuntabel dalam manajemen Pendidikan.
Gagasan itu ditulis dalam bukunya berjudul: “Instruction to Deliver: Fighting to Transform Britain’s Public Services” tahun 2007. Dengan enam pilar utama pendidikan:
1. Kepemimpinan yang efektif. Terwujudnya perubahan kepemimpinan yang efektif di semua level/jenjang pendidikan, baik ditingkat nasional, daerah hingga sekolah. Kepemimpinan efektif dilevel sekolah menjadikan kepala sekolah sebagai aktor perubahan utama dalam desain arah kebijakan Pendidikan yang bersifat button-up.
2. Deliverology (Disiplin Pelaksanaan Kebijakan). Mengubah arah Pendidikan tidak cukup dengan Ide kebijakan, harus ada sistem pelaksanaan yang konsisten dan menjadi tanggungjawab bersama di semua tingkatan dengan fokus pada hasil yang bisa diukur (outcome-oriented).
3. Akuntabilitas Berbasis Data. Reformasi Pendidikan harus disertai sistem yang mampu memantau kemajuan dengan indikator yang jelas. Data digunakan untuk intervensi yang cepat dan tepat, bukan sekedar evaluasi administrasi.
4. Kolaborasi antar lembaga. Stakeholder pendidikan harus berkolaborasi dalam sistem yang saling mendukung. Tidak pernah ada perubahan besar tanpa koordinasi lintas sektoral.
5. Profesionalisme Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, pengelola, dan pegawai sekolah merupakan kunci reformasi pendidikan.
6. Transparansi Publik dan Komunikasi efektif. Masyarakat harus mengetahui kemajuan sistem pendidikan melalui keterbukaan informasi publik. Di era media sosial yang sangat masif, institusi pendidikan harus memiliki perangkat sumber daya yang bisa mengimbangi masyarakat lintas generasi. Bahkan gaya komunikasi publik melalui media sosial harus sesuai dengan style era anak-anak zaman sekarang, terkhusus Gen-M, Gen-Z, Gen-A tanpa meninggalkan saluran komunikasi pada era sebelumnya.
Manajemen Pendidikan Berdampak
Pendidikan tidak akan berdampak jika tidak dikelola dengan manajemen yang tepat (efektif, efisien, produktif, bermutu, dan berdampak). Manajemen pendidikan tidak hanya berbicara tentang administratif, melainkan suatu ilmu dan seni dalam redesain visi organisasi, arah kebijakan strategis, distribusi sumber daya yang berdaya, kompetensi SDM yang terstandarisasi, hingga partisipasi Masyarakat yang peduli, aktif dan kontributif.
Sayangnya, kita masih dihadapkan pada berbagai tantangan klasik: ketimpangan akses dan sarana antar wilayah, perubahan kurikulum yang cendrung politis, beban administratif guru yang berlebihan, arah dan dampak anggaran Pendidikan yang belum tepat sasaran, desruptif teknologi informasi, serta lemahnya konektivitas mutu lulusan dengan dunia kerja. Hal ini menjadi pekerjaan rumah kita, bahwa manajemen pendidikan masih memerlukan reformasi struktural dan kultural.
Manajemen pendidikan yang baik adalah manajemen yang berorientasi pada hasil jangka panjang: mampu melahirkan manusia berpikir kritis, berintegritas, dan mampu beradaptasi atas perubahan zaman di tengah era disruptif teknologi informasi.
Manajemen pendidikan yang berdampak adalah kunci utama dalam membangun bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berkarakter. ada enam ciri manajemen pendidikan berdampak:
1. Meningkatnya kualitas pembelajaran yang efektif, efisien, dan menyenangkan bagi siswa dan guru.
2. Adanya pengelolaan sumber daya manusia dan lembaga yang optimal, sehingga berdampak langsung pada peningkatan layanan dan kepuasan pelanggan pendidikan.
3. Terwujudnya profesionalisme guru dan staf melalui pengembangan kompetensi, jenjang karir, dan jabatan.
4. Adanya kepemimpinan yang visioner, yang memiliki visi yang jelas, mendorong lahirnya inovasi, dan membangun budaya kolaboratif.
5. Adanya peningkatan mutu dan akreditasi sesuai standar mutu, dan mampu menghasilkan kepercayaan masyarakat.
6. Mampu beradaptasi atas perubahan dengan baik, cepat dan tepat.
Era Kebangkitan Pendidikan
Momentum Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi alarm korektif bahwa kita tidak bisa berharap banyak pada kebangkitan politik dan ekonomi saja tanpa terlebih dahulu membangkitkan mutu pendidikan.
Sebagai insan akademik, kita yakin perubahan bangsa hanya akan terjadi jika perubahan itu bermula dari ruang-ruang kelas, guru yang tercerahkan harkat dan maratabatnya, peserta didik yang merdeka dalam berpikir dan mendapatkan fasilitas layanan yang baik dan setara, serta kepemimpinan sekolah yang profesional, kreatif, inovatif dan berdaya saing.
Mari memperingati Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar dengan upacara seremonial, melainkan dengan aksi nyata: membenahi manajemen pendidikan secara holistik — dari kebijakan pusat hingga implementasi di tingkat lokal
Seperti pepatah Sunda mengingatkan: “Lamun digawé, ulah sawaréh — kudu jero pikir, pageuh lampah, nepi ka hasil.” (Kalau bekerja, jangan setengah — harus matang dalam pikiran, kuat dalam tindakan, hingga berbuah hasil.)
Selamat Hari Kebangkitan Nasional, mari kita mulai kebangkitan yang baru — kebangkitan dari dunia pendidikan yang mutu dan berkeadilan untuk semua.
Muhammad Amar Khana, Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.