Dari Kosmologi ke Religi Ramadan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Perpindahan waktu adalah momentum spiritual yang mengajak manusia merenungi ketaatan, tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam menyadari keteraturan alam semesta dan ciptaan Allah secara keseluruhan.

Fenomena kosmologi menunjukkan keteraturan luar biasa dimana matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang di galaksi bergerak harmonis dalam orbitnya masing-masing. Diperkirakan terdapat lebih dari 10²⁴ (trilyun-trilyun) bintang di alam semesta, jumlah yang sulit dibayangkan manusia dan semua mengikuti hukum gravitasi dan mekanika kosmik yang Allah tetapkan. Allah berfirman:

وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Dan matahari dan bulan berjalan menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)

Selain kosmologi, bumi menunjukkan keteraturan melalui siklus air. Air menguap atas panas matahari, membentuk awan, turun sebagai hujan, mengalir di sungai, dan kembali ke laut. Bumi memiliki sekitar 1.332 juta kilometer³ air, tersebar di laut, sungai, dan danau. Setiap titik air mengikuti siklus yang Allah tetapkan, menyuburkan tanah dan mendukung kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

“Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, lalu dengan hujan itu Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering).” (QS. Al-Hijr: 22)

Selain alam luar, tubuh manusia sendiri menunjukkan tatanan kosmik dalam skala mikro. Tubuh manusia terdiri dari sekitar 37 triliun sel, masing-masing menjalankan fungsi khusus dan bekerja secara harmonis agar manusia tetap hidup dan sehat. Semua sel ini saling berkoordinasi, mirip keteraturan planet dan siklus air, menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari sistem ciptaan Allah yang sangat komplek.

Allah SWT berfirman

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Analogi kosmologi ini mengajarkan ketertiban alam semesta menjadi pelajaran untuk disiplin dan konsistensi ibadah. Kepatuhan manusia terhadap Allah meniru kepatuhan matahari, bulan, bintang, dan siklus air.

Dzikir dan ibadah di Lailatul Qadar bulan Suci Ramadan menyelaraskan hati dengan ketertiban kosmos, menumbuhkan ketenangan dan kesadaran spiritual.

Shaum mengajarkan disiplin dan kepatuhan untuk menahan lapar, menahan hawa nafsu, dan menyelaraskan diri dengan hukum Allah. Sama halnya dengan jagat raya, siklus air, dan tubuh manusia, semuanya berjalan sesuai aturan Allah. Bila manusia lalai menjaga diri dan lingkungan, bencana seperti banjir, longsor, dan penyakit menjadi peringatan Allah.

Kesadaran ini dapat diperkuat melalui dzikir, menyadari bahwa setiap ciptaan berupa matahari, bulan, bintang, hujan, dan sel tubuh manusia adalah bukti kebesaran Allah. Allah berfirman:

أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Manusia dapat berdzikir setiap kali menyaksikan keteraturan alam semesta atau memikirkan tubuhnya sendiri:

سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar.”

Dengan menyelaraskan diri pada alam, menjaga lingkungan, dan berdzikir, manusia tidak hanya menjadi makhluk yang taat, tetapi juga bagian dari keseimbangan ekosistem dan tatanan kosmik ciptaan Allah. Shaum adalah momentum untuk menumbuhkan taqwa, kesadaran ekologis, dan dzikir yang konsisten, sehingga hidup manusia selaras dengan alam dan hukum Allah.

Masjid Miftahul Jannah.

 

S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *