Dari Hijaz ke Priangan, Kiprah KH. Anwar Musaddad dalam Pejuang Islam dan Diplomat Kemanusiaan

Cover buku KH Anwar Musaddad

UINSGD.AC.ID (Humas) — Nama KH. Anwar Musaddad tidak hanya lekat dengan sejarah perjuangan umat dan bangsa, tetapi juga dengan lahirnya tradisi keilmuan Islam di Jawa Barat. Ia dikenal sebagai Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus penggagas berdirinya perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) di Indonesia, terutama di lingkungan Priangan.

Dari ruang kelas hingga gelanggang sejarah, kiprah KH. Anwar Musaddad menandai perjumpaan antara ilmu, iman, dan pengabdian kebangsaan.

Buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025), hadir sebagai upaya penting untuk menelusuri dan merekonstruksi jejak intelektual, kemanusiaan, dan perjuangan tokoh sentral ini dalam lintasan sejarah Indonesia modern.

Buku ini berusaha menghadirkan potret sejarah seorang ulama besar Priangan yang kiprahnya melintasi ruang pesantren, perjuangan kemanusiaan, hingga dunia akademik. KH. Anwar Musaddad dikenal sebagai Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus penggagas awal pendirian kampus perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) di Jawa Barat.

Dari fondasi akademik inilah, peran beliau kemudian meluas sebagai ulama, pemimpin, dan aktor sejarah yang terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa penting bangsa.

Buku terbaru Iip D Yahya berjudul K.H. Anwar Musaddad, Ketua Kokesin dan Pendiri Hizullah Priangan. Foto: Iip D Yahya

Buku ini menempatkan KH. Anwar Musaddad dalam dua fase penting sejarah, yakni keterlibatannya dalam Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin) dan perannya dalam Hizbullah Priangan. Kokesin dibentuk di Hijaz pada awal 1940-an sebagai respons atas penderitaan ribuan mukimin Indonesia yang terlantar akibat Perang Dunia II.

Terhentinya jalur pelayaran membuat mereka terjebak tanpa kepastian hidup. Dalam situasi inilah KH. Anwar Musaddad tampil sebagai figur sentral. Ia memimpin Kokesin pada fase akhir, mengoordinasikan bantuan, menjalin diplomasi dengan berbagai pihak, serta mengupayakan pemulangan mukimin ke tanah air. Puncaknya, ia memimpin rombongan terakhir kembali ke Indonesia pada tahun 1941 melalui perjalanan laut yang panjang dan penuh risiko.

Keistimewaan KH. Anwar Musaddad, sebagaimana digambarkan dalam buku ini, terletak pada kemampuannya memadukan keteguhan keilmuan pesantren dengan kecakapan diplomasi modern.

Ia mampu berkomunikasi dengan otoritas kolonial, konsulat, serta organisasi Islam nasional tanpa kehilangan independensi sikap dan keberpihakan pada umat. Peran ini menunjukkan bahwa ulama bukan hanya aktor spiritual, tetapi juga pelaku sejarah yang aktif dalam urusan kemanusiaan dan kebangsaan.

Fase berikutnya yang dikaji dalam buku ini adalah kiprah KH. Anwar Musaddad dalam pembentukan dan penguatan Hizbullah Priangan. Pada masa revolusi kemerdekaan, ia terlibat dalam konsolidasi laskar santri yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Melalui Hizbullah, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga basis pembentukan kesadaran bela negara. KH. Anwar Musaddad berperan dalam pembinaan mental, ideologis, dan organisatoris, sehingga perjuangan fisik tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.

Selain menyoroti dua peran besar tersebut, buku ini juga merekam kiprah KH. Anwar Musaddad sebagai pendidik dan tokoh masyarakat pasca-perang. Ia tetap konsisten mengabdikan diri pada dakwah, pendidikan, dan penguatan umat di Priangan.

Dengan pendekatan historis berbasis arsip dan dokumen, penulis berhasil menampilkan sosok KH. Anwar Musaddad sebagai ulama yang hidup di tengah denyut sejarah, bukan di pinggirnya.

Secara keseluruhan, buku ini menegaskan bahwa KH. Anwar Musaddad adalah figur ulama pejuang dan pendidik visioner yang menjembatani nilai keagamaan, kemanusiaan, dan nasionalisme. Di Antara Kokesin dan Hizbullah Priangan bukan sekadar biografi tokoh, melainkan cermin peran strategis ulama dalam membangun tradisi keilmuan, perjuangan, dan institusi pendidikan Islam yang menjadi fondasi PTKIN hingga hari ini.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *