UINSGD.AC.ID (Humas) — Problematika keumatan dewasa ini dapat diselesaikan melalui pendekatan keagamaan. Di tengah meningkatnya kerusakan ekologis dan menguatnya kepekaan sosial umat beragama, muncul kebutuhan untuk meninjau ulang hakikat dakwah yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Selama ini, dakwah kerap dipersempit menjadi ceramah, khutbah, atau aktivitas verbal yang bersifat normatif dan ritualistik. Padahal, dalam khazanah Islam klasik, dakwah tidak sekadar menyeru dengan lisan, tetapi juga mengajak dengan tindakan nyata menuju kebaikan dan kemaslahatan seluruh ciptaan Tuhan.
Maka, saat bumi menjerit dan manusia kehilangan arah kasih, tibalah waktunya kita memaknai dakwah sebagai gerakan profetik-ekoteologis berbasis cinta — sebuah dakwah yang meneladani kenabian, menumbuhkan kesadaran ekologis, dan digerakkan oleh kasih terhadap sesama makhluk.
Krisis ekologis sejatinya bukan hanya problem lingkungan, melainkan juga krisis spiritualitas. Kerusakan hutan, pencemaran laut, dan perubahan iklim merupakan cerminan kegagalan manusia dalam menempatkan dirinya secara teologis di hadapan Tuhan dan semesta. Dalam perspektif tauhid, manusia bukan pemilik bumi, melainkan khalifah yang diamanahi untuk memakmurkan dan merawatnya.
Namun, dalam praktiknya, relasi ini sering berubah menjadi relasi dominasi dan eksploitasi. Manusia memperlakukan alam seperti objek tanpa ruh—sumber daya yang boleh dieksploitasi tanpa batas—bukan sebagai sesama ciptaan yang juga memuji Tuhan dengan caranya sendiri.
Al-Qur’an secara tegas menggambarkan keseimbangan kosmos sebagai tanda kebesaran Ilahi. Alam bukan sekadar latar dunia manusia, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung. Ketika keseimbangan itu rusak, bukan hanya alam yang menderita, tetapi juga batin manusia.
Di sinilah tampak bahwa krisis ekologis sesungguhnya berakar dari krisis cinta: cinta yang salah arah—yang menumpuk pada kepemilikan, kekuasaan, dan konsumsi—bukan pada kasih sayang terhadap kehidupan.

Cinta sebagai Basis Dakwah Profetik
Dalam konteks inilah, dakwah profetik-ekoteologis berbasis cinta menemukan relevansinya. Cinta, dalam pandangan sufistik, adalah inti dari seluruh ajaran kenabian. Nabi Muhammad SAW diutus bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menyempurnakan akhlak dan menebar rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
Cinta, dalam kerangka dakwah, bukan perasaan sentimental, melainkan energi spiritual yang melahirkan kepedulian, keadilan, dan keberlanjutan. Cinta menjadikan dakwah sebagai praksis yang membebaskan, bukan memaksa; menghidupkan, bukan menghakimi. Dakwah berbasis cinta berarti mengajak manusia untuk menyayangi bumi sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri.
Artinya, ajakan untuk menjaga sungai, menanam pohon, dan mengurangi sampah bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ekspresi tauhid yang hidup—ibadah ekologis. Dalam tafsir profetik, mencintai alam berarti meneladani sifat kenabian: menyampaikan kebenaran (tabligh), menumbuhkan empati (amanah), memperjuangkan keadilan (‘adl), dan menjadi teladan moral (fathanah). Nilai-nilai itu seharusnya menjadi fondasi gerakan dakwah hari ini—dakwah yang tidak lagi memisahkan antara ibadah dan kehidupan ekologis.
Dakwah profetik memandang tugas kenabian bukan sekadar menyampaikan wahyu, tetapi juga membumikan keadilan dan kasih sayang di tengah masyarakat.
Dalam Surah Ali Imran ayat 110, umat Islam disebut ummatan wasathan—umat penengah, adil, dan menjadi saksi bagi umat lain. Tugas kesaksian itu mengandung makna sosial: menjadi umat yang hadir dalam penderitaan dunia, bukan sekadar dalam urusan akhirat.
Dakwah yang profetik menuntut keberpihakan terhadap yang lemah, termasuk bumi yang kini menjadi korban kerakusan manusia. Ketika hutan ditebangi untuk kepentingan korporasi, ketika laut tercemar oleh limbah industri, ketika udara penuh racun—dakwah profetik harus bersuara. Ia tidak boleh diam di balik mikrofon masjid sementara makhluk Tuhan yang lain sekarat.
Menanam pohon, mendirikan bank sampah, mendampingi petani kecil, atau mengajarkan gaya hidup sederhana bisa menjadi bagian dari dakwah profetik. Ia menghidupkan pesan kenabian dalam tindakan konkret.
Sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, cinta kepada alam tampak dalam laku kesehariannya: beliau melarang menebang pohon tanpa alasan, melarang membuang air di sungai yang mengalir, menyuruh menyingkirkan duri dari jalan, bahkan menegur sahabat yang memisahkan induk burung dari anaknya.
Semua itu menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar urusan akidah dan ibadah, tetapi juga perilaku ekologis yang mencerminkan kasih. Dakwah profetik sejati tidak berhenti pada kata-kata, melainkan mewujud dalam perbuatan yang menghidupkan semesta.

Ilustrasi sujud/ Foto: NU Online
Ekoteologi: Menyatukan Langit dan Bumi
Ekoteologi Islam berangkat dari kesadaran bahwa alam adalah bagian dari realitas teologis. Setiap ciptaan mengandung ayat-ayat Tuhan (ayat kauniyah), dan manusia ditugasi untuk membacanya dengan hati dan akal. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan ekologi: memahami Tuhan lewat keindahan ciptaan-Nya serta menjaga ciptaan sebagai bentuk syukur.
Dalam ekoteologi, cinta menjadi jembatan antara iman dan tindakan ekologis. Tanpa cinta, teologi bisa menjadi kering dan dogmatis; tanpa teologi, cinta bisa kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah ekoteologis berbasis cinta berusaha memadukan keduanya: menghidupkan spiritualitas yang menumbuhkan kepedulian ekologis sekaligus membumikan kesadaran tauhid dalam tindakan ekologis yang konkret.
Gerakan ini dapat diwujudkan, misalnya, melalui pesantren hijau yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan konservasi lingkungan, atau lewat khutbah Jumat yang bukan hanya berbicara soal surga dan neraka, tetapi juga tentang pentingnya daur ulang, efisiensi energi, dan solidaritas terhadap korban bencana iklim. Dakwah tidak lagi hanya berbicara kepada manusia, tetapi juga berbicara untuk bumi.
Berbeda dengan dakwah yang berorientasi pada retorika, dakwah berbasis cinta lebih menekankan keteladanan dan dialog. Ia mengubah paradigma dakwah dari “mengislamkan” menjadi “menginsankan”, dari penyeragaman menuju penyadaran. Dalam konteks ekologis, cinta menjadi daya transformasi yang menghubungkan manusia dengan seluruh makhluk dalam jalinan kasih.
Cinta inilah yang membuat seseorang rela menanam meski tahu ia tak akan memanen hasilnya; cinta yang membuat seorang aktivis lingkungan terus berjuang meski sering dianggap utopis.
Cinta juga menjadi jalan menuju teologi yang membebaskan. Jika selama ini teologi sering dipersepsikan sebagai relasi vertikal yang kaku antara manusia dan Tuhan, maka teologi cinta menghadirkan wajah Tuhan yang ramah, lembut, dan menyertai kehidupan. Tuhan tidak hadir hanya di langit, tetapi juga di hutan yang rimbun, di suara hujan, dan di sungai yang mengalir. Maka, merusak alam berarti menodai wujud kasih Tuhan itu sendiri.
Dakwah profetik berbasis cinta tidak berhenti pada mengingatkan manusia akan neraka, tetapi mengajak manusia untuk jatuh cinta pada kehidupan—karena cinta yang tulus akan selalu melahirkan penjagaan.

Dari Spiritualitas ke Gerakan Sosial
Tantangan terbesar dakwah profetik-ekoteologis berbasis cinta adalah menjadikannya gerakan sosial yang sistematis. Dakwah cinta tidak boleh berhenti pada level individu; ia harus masuk ke ranah kebijakan dan pendidikan.
Masjid-masjid perlu menjadi pusat gerakan ekoteologi: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam pohon di halaman, mengelola sampah, hingga memanfaatkan energi surya. Pesantren dan madrasah dapat menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini, menjadikan ibadah tidak terpisah dari tanggung jawab ekologis.
Demikian pula para da’i, ustaz, dan kiai perlu memperluas horizon dakwahnya: dari ceramah moral menuju kesadaran ekologis. Ketika umat diajak mencintai Tuhan, mestinya mereka juga diajak mencintai ciptaan-Nya. Dalam cinta itu ada tanggung jawab, dan dalam tanggung jawab itu ada ibadah.
Dakwah profetik berbasis cinta sejatinya adalah panggilan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya: menjadi penjaga kehidupan, bukan perusaknya.
Secara keseluruhan, penulis menggarisbawahi bahwa dakwah profetik-ekoteologis berbasis cinta bukanlah gagasan baru, melainkan kebangkitan kembali semangat kenabian dalam konteks zaman yang terluka. Di tengah dunia yang semakin materialistik dan terpolarisasi, cinta menjadi bahasa universal yang melampaui sekat agama dan ideologi.
Cinta mengajarkan bahwa berbicara tentang Tuhan berarti berbicara tentang kasih terhadap seluruh ciptaan. Jika dakwah profetik adalah dakwah yang menegakkan kebenaran dan keadilan, maka dakwah ekoteologis berbasis cinta adalah wajah lembutnya: dakwah yang merangkul, bukan memukul; menanam, bukan menebang; menghidupkan, bukan menghakimi.
Dalam cinta yang demikianlah bumi menemukan kembali harapannya, dan manusia menemukan kembali kemanusiaannya.
Asep Shodiqin Maulana, Wadek III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung