Cintailah Ilmu, Jalan Cahaya Menuju Kejayaan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Awal pekan yang lalu, tepatnya 8 Oktober 2025, seorang dosen tamu berkunjung ke  kelas kampus kita dan menghadiahkan sebuah buku berjudul “Menjadi Cahaya: Catatan Seorang Guru.” Buku itu mengingatkan kita bahwa guru sejati bukan hanya pengajar, tetapi pembawa cahaya.

Mereka menyalakan pelita ilmu dalam hati murid-muridnya, meski harus mengorbankan kenyamanan pribadi. Itulah teladan cinta ilmu yang sejati. Maka, cintailah ilmu sebagaimana kita mencintai cahaya, karena tanpa ilmu, hati menjadi gelap; tanpa adab, ilmu menjadi liar; tanpa iman, ilmu kehilangan arah.

Untuk itu, marilah kita menumbuhkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan karena mencintai ilmu menjadi jalan cahaya menuju kejayaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya, “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS.Az-Zumar ayat 9).

Ayat ini menegaskan betapa besar perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Ilmu adalah cahaya, sementara kebodohan adalah kegelapan. Dengan ilmu, manusia mengenal Tuhannya, memahami agamanya, dan mengelola kehidupan dunianya.

Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir (jilid 23 halaman 260) menjelaskan bahwa orang berilmu sejati adalah mereka yang mengambil manfaat dari ilmunya dan mengamalkannya dalam kehidupan. Adapun orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya, maka ia seperti orang yang tidak berilmu. Dari tafsiran ini, kita dapat mengambil tiga pembelajaran penting. Pertama, Ilmu yang Sejati adalah Ilmu yang Menghidupkan Iman dan Amal. Ilmu bukan sekadar hafalan, tetapi cahaya yang menghidupkan hati dan menumbuhkan ketundukan kepada Allah SWT. Allah berfirman:

“إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ”

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”( QS. Fathir: 28).

Ayat QS. Fathir: 28 menegaskan bahwa di antara hamba-hamba Allah, hanya orang-orang yang berilmu (ulama) yang benar-benar takut kepada-Nya karena pengetahuan mereka tentang kebesaran dan kekuasaan Allah memperdalam rasa takut dan kagum mereka, yang kemudian mendorong mereka untuk taat dan mengamalkan ajaran-Nya.

Penjelasan Ayat diatas: 1) Makna “Ulama”: Dalam konteks ayat ini, ulama bukanlah sekadar orang yang memiliki gelar atau pakaian tertentu, melainkan siapa pun yang memiliki ilmu pengetahuan mendalam tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan ciptaan-Nya. 2) Ilmu sebagai Kunci Ketakutan: Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang kebesaran Allah, semakin sempurna pula ketakutannya. Rasa takut ini adalah takut yang positif, mendorong untuk patuh dan mengagungkan-Nya. 3) Konsekuensi Pengetahuan: Para ulama, dengan pengetahuan mereka, dapat memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, seperti fenomena alam, dan hal ini membuat mereka semakin tunduk dan takut kepada Sang Pencipta. 4) Ketakutan yang Mendorong Amal: Ketakutan yang benar kepada Allah ini akan menjadi motivasi untuk membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, serta melaksanakan ibadah lainnya, karena mereka mengharapkan balasan dari Allah yang tidak akan pernah merugikan.

Ayat ini menekankan hubungan erat antara pengetahuan dan rasa takut kepada Allah. Orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan yang benar tentang Allah akan cenderung memiliki rasa takut yang lebih mendalam kepada-Nya, yang berimplikasi pada ketaatan dan amal saleh.  Semakin dalam ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam pula rasa takutnya kepada Allah. Ilmu yang sejati membimbing manusia menjadi rendah hati, bukan tinggi hati; menjadi bijak, bukan sombong; menjadi penyebar cahaya, bukan sumber kegelapan.

Kedua, Ilmu yang Tidak Diamalkan Sama dengan Kegelapan. Syekh Wahbah Zuhaili menegaskan, ilmu yang tidak diamalkan tidak memberi manfaat. Rasulullah SAW bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim)

Makna yang terkadung dari “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat” adalah permohonan kepada Allah agar dijauhkan dari ilmu yang tidak memberikan kebaikan, tidak diamalkan, tidak menjadikan seseorang semakin bertakwa, dan justru menimbulkan keburukan di dunia maupun akhirat. Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak mengantarkan pemiliknya pada keridaan Allah, tidak memberikan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain, serta tidak menambah pemahaman tentang kebenaran.

Penjelasan Makna Ilmu yang Tidak Bermanfaat: 1) Tidak Memberikan Kebajikan:  Ilmu yang dipelajari tidak membawa pada perilaku yang baik atau sesuai dengan tuntunan agama. 2) Tidak Diikuti Amal: Seseorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkan pengetahuannya untuk kebaikan adalah tanda ilmu yang tidak bermanfaat. 3) Menyesatkan:  Ilmu yang digunakan untuk tujuan yang buruk, seperti untuk korupsi, adalah ilmu yang tidak bermanfaat dan bahkan berbahaya. 4) Tidak Menjadikan Bertaqwa: Ilmu tersebut tidak mampu membuka pandangan hati seseorang untuk lebih dekat kepada Allah atau menjauhkan diri dari perbuatan dosa. 5) Hanya Mengutamakan Dunia: Ilmu yang hanya berfokus pada kepentingan duniawi tanpa mengingat akhirat juga termasuk ilmu yang tidak bermanfaat.

Adapun, Perbedaan dengan Ilmu yang Bermanfaat; Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang: 1) Mengantarkan kepada Allah: Membimbing pemiliknya untuk lebih bertakwa dan mencari keridaan Allah; 2) Dapat Diamalkan: Mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesame; 3) Memberi Pencerahan: Membuka hati dan pikiran untuk membedakan kebaikan dan keburukan, serta berusaha menjauhi keburukan.

Singkat kata; Ilmu akan menjadi beban berat jika tidak diiringi amal. Gelar setinggi langit tidak bernilai bila tidak membawa manfaat bagi sesama. Maka, kemuliaan ilmu bukan pada sertifikat, tetapi pada amal nyata dan keteladanan.

Ketiga, Ilmu adalah Cahaya yang Menuntun Peradaban. “Ilmu adalah Cahaya yang Menuntun Peradaban,” Ilmu menjadi pembeda antara masyarakat yang maju dan masyarakat yang terbelakang” adalah sebuah metafora yang menekankan peran sentral ilmu dalam kemajuan manusia dan masyarakat. Ilmu dapat diibaratkan cahaya karena menerangi kegelapan kebodohan, memberikan arah, dan membedakan kebenaran dari kekeliruan, sehingga mampu memajukan peradaban, sedangkan ketiadaan ilmu akan menjerumuskan masyarakat ke dalam keterbelakangan.  Untuk hal itu. Ilmu menjadi pembeda antara masyarakat yang maju dan masyarakat yang terbelakang. Allah SWT berfirman:

“يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ”

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” ( QS. Al-Mujadilah: 11).

Bangsa yang mencintai ilmu akan menjadi bangsa yang beradab dan bermartabat. Sebaliknya, masyarakat yang memusuhi ilmu akan tenggelam dalam kegelapan kebodohan. Karena itu, mencintai ilmu adalah mencintai masa depan umat dan bangsa.

Rasulullah SAW sangat menekankan keutamaan ilmu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Darda’, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim lebih utama dibanding ahli ibadah, sebagaimana keutamaan bulan atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang banyak.”

Maka, cintailah ilmu sebagaimana kita mencintai cahaya, karena tanpa ilmu, hati menjadi gelap; tanpa adab, ilmu menjadi liar; tanpa iman, ilmu kehilangan arah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Ilmu yang dimaksud bukan hanya ilmu agama saja, tetapi juga ilmu sains, teknologi, dan pengetahuan dunia yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa para ulama besar dahulu bukan hanya ahli dalam tafsir, hadits, dan fiqih, tetapi juga ahli dalam kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat.    Kita mengenal nama Ibnu Sina, seorang ilmuwan besar dalam kedokteran; Al-Khawarizmi, bapak Aljabar dalam matematika; dan Al-Biruni dalam ilmu astronomi. Mereka adalah contoh bagaimana seorang Muslim mencintai ilmu agama sekaligus ilmu sains.

Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita jadikan cinta ilmu sebagai bagian dari hidup kita. Ajak anak-anak kita belajar dengan gembira, jadikan rumah-rumah kita bercahaya dengan bacaan Al-Qur’an, kitab, dan buku-buku ilmu pengetahuan. Jangan sampai kita lalai, karena umat Islam hanya akan mulia jika dekat dengan ilmu.   Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang disebut dalam firman-Nya, “Dan Dia (Allah) telah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui, dan karunia Allah atasmu sangatlah besar.”

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *