Cinta Pada Persib

Bobotoh sebutan pendukung Persib saat euforia mendukung Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).Foto: KOMPAS.com/Adil Nursalam

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam acara wisuda ke-103 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebuah pemandangan yang tak biasa terjadi. Di tengah barisan toga dan senyum bahagia para wisudawan, Paduan Suara Mahasiswa menyanyikan lagu “We Will Stay Behind You” karya Kuburan Band. Bukan lagu kebangsaan, bukan lagu pujian, bukan pula mars akademik. Tapi sebuah lagu yang lahir dari tribun stadion, dari cinta yang sering dianggap remeh: cinta pada Persib Bandung.

Siapa pun yang mendengarnya tahu, ini lebih dari sekadar lagu dukungan untuk sebuah klub sepak bola. Di tangan para mahasiswa, lagu ini menjadi semacam doa. Nada-nadanya menggema bukan hanya di aula Anwar Musadad, tapi juga di ruang batin: tentang harapan, tentang keberanian, dan tentang kesetiaan yang tak pernah hilang.

Persib, bagi banyak orang Sunda, bukan sekadar klub. Ia adalah entitas yang mengandung semangat kolektif, kebanggaan identitas, dan titik temu antar generasi. Ia seumpama cermin. Dalam kemenangan dan kekalahannya, seperti melihat diri sendiri: semangat yang tak pernah padam, dan cinta yang tak menuntut balasan. Persib bukan sekadar tentang sepak bola, tapi juga tentang bagaimana menjadi manusia: jatuh, bangkit, dan terus melangkah meski tertatih.

Lagu itu, saat dinyanyikan oleh paduan suara di sebuah acara akademik, menjadi jembatan antara dunia kampus dan dunia nyata. Setelah toga dilipat dan ijazah disimpan, kehidupan sesungguhnya baru dimulai. Dan di luar sana, tak ada kurikulum yang menjamin kemenangan. Tapi seperti Persib yang tak pernah berjalan sendiri, kita pun tidak pernah benar-benar sendirian.

“We Will Stay Behind You”, kami akan tetap di belakangmu. Kalimat itu, dalam banyak hal, adalah “janji” masyarakat Sunda pada anak-anaknya. Sebuah ikrar yang tak perlu dikatakan dalam kalimat formal, namun hidup dalam tiap tindakan, tiap dukungan, tiap pengorbanan. Seumpama suara seorang ibu yang melepas anaknya merantau dengan air mata. Suara bapak yang bekerja keras agar anaknya bisa kuliah.

Bisa jadi, akan ada anggapan nyanyian itu sebagai momen selingan. Tapi bagi yang mendengarkan dengan hati terbuka, itu seperti perenungan tentang asal dan tujuan. Bahwa hidup bukan soal cepat atau lambat, bukan soal tinggi atau rendah. Tapi tentang apakah kita mampu tetap setia, pada diri sendiri, pada nilai-nilai, atau pada mereka yang ada di belakang kita.

Dengan menyanyikan lagu ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak hanya menyisipkan identitas lokal dalam seremoni akademik, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam: bahwa pendidikan tinggi bukan untuk melupakan akar, melainkan untuk tumbuh lebih tinggi dengan dasar yang kuat.

Di tanah Parahyangan ini, Persib menjadi metafora bagi semangat perjuangan, dan “We Will Stay Behind You” menjadi komitmen untuk saling menjaga, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Dan mungkin, di titik inilah kita mengerti bahwa cinta pada klub bola bisa menjadi cermin cinta yang lebih besar, cinta pada tanah, pada nilai, dan pada sesama. Dan saya kira, dalam altar kehidupan yang kita cari bukan hanya kemenangan, melainkan kebersamaan yang membuat kita sanggup bertahan.

Radea Juli A. Hambali Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *