UINSGD.AC.ID (Humas) — Siklus hidup manusia dimulai dari reproduksi, lahir, tumbuh jadi anak, dewasa, tua dan mati. Begitupula dalam kesehariannya diawali bangun tidur, makan minum, beraktifitas, istirahat, kemudian tidur lagi. Aktifitas dapat diisi dengan beragam pekerjaan, ada yang bermain, belajar, bekerja, berdiam diri atau bahkan tidur lagi seperti didendangkan dalam lagu: Bangun Tidur Ciptaan Mbah Surip.
Sedemikian sederhana kehidupan manusia jika tanpa pemaknaan hidup lebih baik di masa depan (visioner). Alih-alih bermanfaat malah akan terjebak pada rutinitas yang berujung pada kebosanan. Penelitian dari Chin, Markey, Bhargava, Kassam dan Loewenstein (2017) menemukan bahwa manusia memang mudah merasa bosan. Rasa bosan nampaknya akan mendorong kemalasan dalam hidup. Oleh karena itu, manusia akan selalu berusaha menghindari kebosanan dan malas dengan membangun perubahan-perubahan (dinamika sosial) berupa kreatifitas.
Hal ini yang menjadi anggapan bahwa kreatifitas tumbuh akibat dari kemalasan. Kemajuan teknologi serba digital pada era industri 4.0 sekarang merupakan bukti dari kemalasan yang mendorong kreatifitas. Seseorang yang malas membeli barang ke warung atau toko, kini difasilitasi oleh sebagian orang kreatif untuk menyediakan layanan serba online hingga menyentuh seluruh aspek kehidupan termasuk agama.
Dalam ajaran Islam jika melihat rutinitas kehidupan manusia, disebut hanya permainan dan senda gurau belaka. Firman Allah SWT: “Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui”. (Q.S. Al-Ankabut: 64). Islam mengajarkan hidup visioner dengan menetapkan tujuan hidup semata untuk kebahagiaan akhirat.
Ajaran tersebut berikutnya berwujud ritual yang relatif memaksa melatih umat Islam untuk melaksanakannya, dan yang paling nyata ada pada ritual umrah terutama pada thawaf dan sa’i. Jema’ah umrah melaksanakan thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh putaran dari kanan ke kiri mulai dari rukun hajar aswad. Setelah selesai, dilanjutkan sa’i atau berlari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah juga tujuh kali dengan hitungan Shafa ke Marwah, dihitung satu kali, sehingga pada putaran ke tujuh berakhir di Marwah.
Ritual ini paling tidak mengandung tiga hikmah, pertama rutinitas dalam kehidupan pasti terjadi dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manusia, oleh karenanya harus dilalui sebagai syariat yang bersifat tauqifi atau ketetapan dari Allah SWT dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka penting bagi setiap manusia untuk bersabar dan ikhlas dalam mengahadapi rutinitas kehidupan.
Kedua, sebagaimana struktur otak manusia ada otak kanan dan otak kiri. Roger Wolcolt Sperry seorang neuropsikolog pemenang Nobel Prize Medicine mengemukakan bahwa kecenderungan otak kanan pada imajinasi sementara otak kiri berkecenderungan pada cara berpikir masuk akal (logis, rasional). Maka memulai thawaf dari kanan ke kiri, seakan mengajak manusia untuk senantiasa berpikir sebagaimana sejatinya manusia disebut sebagai hayawanun nathiq (hewan yang berpikir).
Ketiga, sebagaimana ritual, rutinitas kehidupan manusia pun pasti akan berakhir entah apapun yang menghentikannya, bisa sakit atau kematian. Dengan demikian prosesi thawaf dan sa’i mengajarkan manusia agar sadar pada ujung dari segalanya yaitu kematian. Maka seyogyanya dalam berkreasi menghindar kebosanan diluar rutinitas kehidupan hendaknya sadar mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Wallahu a’lam
Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.