Catatan Workshop tentang Implementasi WMI dalam Kurikulum


Ini tentang identitas yang secara sengaja dipilih dan kita lekatkan pada diri sendiri. Memiliki identitas seumpama menjejakkan telapak kaki sehingga orang bisa mengenali ciri dan jejak kaki yang kita miliki. Dengan ini, identitas meniscayakan kekhasan dan ketaksamaan dengan yang dimiliki orang lain.

Paradigma Wahyu Memandu Ilmu adalah identitas UIN SGD Bandung. Sebagai identitas, ia tidak hadir hanya karena kita ingin berbeda semata dengan yang lain, tapi juga merupakan respon akademik intelektual terhadap laju dan tumbuhnya ilmu pengetahuan yang semakin pesat.

Paradigma Wahyu memandu Ilmu adalah juga kerja preventif bahkan siasat antisipasi atas mewabahnya efek negatif yang sering nampak mengemuka dari hadirnya ilmu pengetahuan yang sering tak terduga.

Sebagai identitas pembeda, jargon Wahyu Memandu Ilmu tidak boleh berhenti menjadi gagasan yang abstrak filosofis. Mengkhidmati gerak sejarah dan sebagai bukti keberpihakan terhadap kehidupan dalam matra yang lebis luas, ia harus menjadi gagasan yang fungsional implementatif. Dalam kerangka pendidikan, ia mesti diinjeksikan pada kurikulum (RPS) yang menjadi acuan dalam proses belajar mengajar.

Di sinilah letaknya. Gagasan tentang implementasi WMI dalam kurikulum bisa menjadi distingsi UIN dengan Perguruan Tinggi lain. Kurikulum WMI dengan itu tidak hanya menjadi spirit dasar dalam pengembangan kelimuan tetapi juga menjadi alas dalam bersikap.

Penerapan kurikulum berbasis WMI mengubah orientasi bahkan hendak mendudukan ilmu berbasis wahyu yang disajikan dalam mata kuliah tertentu bukan sebagai mata kuliah suplement (pelengkap) tetapi juga menjadi mata kuliah wajib.

Sekalipun implementasi WMI dalam kurikulum menjadi niscaya, ia masih harus dikaji ulang di tataran konsep juga aplikasinya secara terukur dan kapabel terutama dalam relasinya dengan kurikulum berbasis KKNI/OBE dalam bingkai 9 kriteria akreditasi lembaga.

Menjadi tantangan tersendiri buat fakuktas Ushuluddin untuk merumuskan desain besar, terutama pada upaya untuk membangun relasi dengan disiplin ilmu yang berbeda dalam hal metodologi dan konsep dasar keilmuan.

Ini “proyek” masa depan. Jika kita gembira menyambutnya, maka ini akan menjadi kontribusi penting dan amal jariyah yang pasti bermanfaat untuk generasi mendatang.

Allahu a’lam[]

Lembang, 19 November 2019

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *