Berjihadlah dari Rumah

Kata Nabi, dalam sebuah hadis sahih, wabah itu sejatinya merupakan rahmat bagi kaum beriman. Mungkin orang mengernyitkan dahi. Rahmat itu kan kasih sayang, bagaimana bisa wabah Allah maksudkan sebagai rahmat-Nya bagi kaum beriman?

Aisyah suatu hari bertanya kepada Nabi Muhammad SAW ihwal wabah. Nabi menjelaskan, “Wabah itu merupakan azab yang Allah turunkan atas siapa pun yang Ia kehendaki. Tapi, bagi bagi kaum beriman, Allah jadikan wabah sebagai rahmat (sebentuk ungkapan kasih-sayang).”

Bagaimana mungkin Allah mengasihi hamba-Nya dengan menurunkan wabah? “Maka,” lanjut Nabi, “orang yang ketika terjadi wabah tetap stay at home secara sabar, ikhlas, penuh harap kepada Allah, seraya yakin bahwa tidak akan ada sesuatu yang menimpanya kecuali atas ketentuan Allah, pastilah ia meraih pahala senilai orang mati syahid.” (HR Bukhari No 3474; Nasai No 7527; Ahmad No 26139.)

Meraih fadilah dan pahala syahid hanya dengan tinggal di rumah, bukankah itu sebuah kasih-sayang Allah untuk hamba-Nya? Di luar situasi wabah, fadilah dan pahala syahid itu hanya mungkin diraih oleh orang yang dengan gagah berani keluar rumah menuju medan sabilillah bertaruh nyawa. Di tengah wabah, kasih sayang Allah memungkinkan seorang mukmin meraih nilai keutamaan syahid hanya dengan tetap tinggal di rumah.

Mengapa stay at home menandingi fadilah dan pahala syahid? Nilai penting yang menyamakan stay at home di tengah wabah dengan berjihad di tengah medan sabilillah adalah kesabaran, keikhlasan, kebesaran hati, ketawakalan, dan keyakinan akan qadha dan qadar. Lebih dari itu, bila tetap tinggal di rumah, itu memiliki kontribusi penting dalam menghentikan persebaran Covid-19. Bukankah itu senilai dengan menyelamatkan nyawa manusia seluruhnya? 

Perhatikanlah Alquran surah al-Maidah (5) ayat 32, “Orang yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, ia seakan-akan telah membunuh manusia seluruhnya. Orang yang memelihara kehidupan seorang manusia, ia seolah-olah telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” Maka, tetap tinggal di rumah di tengah wabah memiliki nilai perjuangan kemanusiaan, persis seperti misi kesyahidan demi mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, meraih fadilah dan pahala Jumatan, Tarawih, majelis taklim, dan semisalnya hanya dengan tetap tinggal di rumah, itu juga merupakan segi kerahmatan wabah bagi kaum mukmin. Wallahu a’lam. 


DINDIN SOLAHUDIN, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Hikmah Republika 15 Mei 2020

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *