UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Workshop Pengembangan Kurikulum Sains & Teknologi

[www.uinsgd.ac.id] Seluruh dosen di lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SGD Bandung, mengikuti acara Workshop Pengembangan Kurikulum Sains dan Teknologi dalam Perspektif Wahyu Memandu Ilmu Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. A. Tafsir, Guru Besar UIN SGD Bandung dan Muhamad A. Martoprawiro, Ph.D, Ketua Himpunan Kimia Indonesia (HKI) yang dibuka secara resmioleh Dekan FST Dr. Opik Taupik Kurahman di Hotel Puri Khatulistiwa, Selasa (22/3).

Dalam sambutannya Dekan menjelaskan, pada masyarakat Barat, pengembangan kurikulum sains dan teknologi hanya berdasar pada tiga sumber yakni perkembangan ilmu, perkembangan masyarakat, dan perkembangan mahasiswa. Satu hal yang utama, sengaja ditinggalkan yakni Tuhan. Tuhan ditinggalkan dalam kurikulum. Bagi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Bandung, Wahyu (dalam arti luas yakni Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai ruh utama pengembangan kurikulum. Idealnya perkembangan ilmu, masyarakat, dan mahasiswa sebagai peserta didik dipandu oleh wahyu. Inilah tugas utamanya.

Dekan selanjutnya mengatakan “KKNI sebetulnya hanya salah satu aspek saja dari tuntutan perkembangan masyarakat,  dan ini harus ditindaklanjuti oleh konsorsium ilmu, atau asosiasi profesi menjadi standar-standar minimal yang disepakati sebelum diturunkan kedalam kurikulum, supaya pengembangan kurikulum tidak menyimpang dari tujuan awalnya”. “Oleh karena itu, secara kelembagaan diperlukan segera pembentukan konsorsium ilmu bidang sains dan teknologi dan pusat studi integrasi ilmu”

Menurut Prof. Tafsir bila kita melihat perkembangan sains dan teknologi di zaman sekarang ini sebagiannya meninggalkan unsur-unsur agama. Upaya mengintegrasikan agama dan sains ini menjadi penting bagi kalangan umat Islam. Salah satu cara memadukannya dengan mengambil teori dari barat itu, lalu kita sesuaikan dengan nilai-nilai Islam.

Salah  satu usaha pengembangan kurikulum ini melalui penyusunan mata kuliah dengan pendistribusiannya dalam silabi. Untuk silabi ini harus sesuai dengan induk keilmuanya, sehingga bahan ajar dengan 16 kali pertemuan yang setiap pertemuanya menulis 5 lembar itu dapat menjadi buku. Menulislah buku sebagai bentuk karya intelektual.

Bagi Martoprawiro komputerisasi sains menjadi penting bagi citivas akademika karena sains tanpa proses dan praktek melalui pengamatan, eksperimen tidak akan bermanfaat untuk kepentingan bersama. Untuk itu, kita harus memahami alur dan proses sains, sehingga yang masuk pada struktur kurikulum bukan hanya produk sains dan teknologi tetapi juga seluruh proses dan tata nilainya. [Humas Al-Jamiah]