UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ushuluddin, Pusat Studi & Informasi Keagamaan di Jabar

[www.uinsgd.ac.id] Sebagai bentuk kepedulian Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati atas maraknya aksi kekerasan atas nama agama dan perilaku intoleransi di Jawa Barat, merasa perlu untuk ikut bertanggungjawab dan terlibat dalam mengurai serta menyelami makna radikalisme agama secara lebih dalam, maka digelar Seminar Nasional bertajuk Menangkal Radikalisme Pemahaman Keagamaan dengan menghadirkan narasumber; Guru Besar Fakultas Ushuluddin (Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si, Prof. Dr. Abdul Razak, M.Ag, Prof. Dr. H. Nurshomad Kamba, Prof. Dr. H. Afif Muhammad, MA), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (Marsekal Muda TNI Chairul Akbar) Republika (H. Rahmat Santosa Basarah) yang dipandu oleh Dr. H. Dody S. Truna, M.A. dan Dr. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag yang  dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor I, Prof. Dr. H. Afifuddin, MM. di ruangan Nusantara Lantai IV Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor Sumedang, Selasa (3/7).

Menurut Ketua Pelaksana, Drs. Adnan, M.Ag. menjelaskan acara yang diikuti oleh 100 peserta aktif yang terdiri dari mahasiswa, dosen, wartawan ini. “Sebagai acara puncak dari isu radikalisme agama yang tema besar diskusi dosen bulanan yang diselenggarakan oleh Laboratorium Fakultas Ushuluddin tahun 2012 ini,” tegasnya

Rangkaian diskusi tematik bulanan ini dimulai pada tanggal 17 Februari 2012 dengan menghadirkan narasumber narasumber awal adalah Dr. Noorhaedi Hasan, MA, Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta yang dibuka secara resmi oleh Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah, SH. M.Hum. Dari sisi filsafat, dibahas soal akar-akar kekerasan yang saat itu sebagai narasumbernya Dr. Yasraf Amir Pilliang dan Dr. Nurrohman, yang dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2012. Dari sisi sosial politik menghadirkan narasumbernya Prof.Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, MA dan Drs. M Yusuf Wibisono, M.Ag yang dilaksanakan pada 11 April 2012.

Adnan berharap “Insya Allah, hasil dari paket Seminar Nasional ini akan dihimpun dan didokumentasikan dalam bentuk buku,” paparnya

Adnan menembahkan “Acara Seminar nasional ini bentuk kepedulian kami. Karena Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati merasa perlu untuk ikut bertanggungjawab dan terlibat dalam mengurai dan menyelami makna radikalisme agama secara lebih dalam. Sebagai lembaga yang tumbuh dari rahim akademik, Ushuluddin hendak melihat radikalisme agama dalam sosoknya yang multi dimensi sehingga diperoleh gambaran yang utuh dan integral tentang apa sebenarnya radikalisme agama itu,” ujarnya

Bagi Dekan Ushuluddin, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. menguraikan “Fakultas Ushuluddin pada tahun 2004 telah melakukan Seminar Nasional yang sama dengan hari ini. Radikalisme dan Masa Depan Agama yang telah dibukukan. Bedanya sekarang mencoba kajian isu radikalisme dari kontek Jabar mengingat Jabar merupakan provinsi yang paling tinggi melakukan kekerasan.”

Dengan adanya kegiatan ini kita bisa melihat akar-akar kekerasan dari multi disiplin ilmu yang diharapkan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa ini.

Rosihon berkeyakinan “Puncak dari diskusi tematik ini merupakan perwujudan dari visi Fakultas Ushuluddin sebagai pusat studi dan informasi keagamaan di Jawa Barat,” optimisnya

Pihak Rektorat yang diwakili oleh Prof. Dr. H. Afifuddin, MM sangat mendukung dan mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan Seminar nasional ini. “Kami sangat mengapresiasi positif dari kalangan Perguruan Tinggi, khususnya Fakultas Ushuluddin yang berusaha mencoba menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat,” katanya.

Meskipun kajian radikalisme masih bersifat umum. “Yang tidak hanya mengangkut pemahaman, aliran, sekte, bahka telah menjadi kajain yang mendunia. Seperti terjadinya kekerasan di Palestina,” ungkapnya

Untuk itu, kajian dari segi sosial, pendidikan menjadi bagain penting dalam melihat tindakan kekerasan ini mengingat Jabar adalah provinsi yang sering melakukan kekerasan atas nama agama. “Yang diakibatkan dari kondisi masyarakat yang tidak adil, kejujuran, terpinggirkan, dan kemiskinan yang memicu tumbuhnya radikalisme. Oleh karena itu, diperlukan rumusan yang terencana dan terfokus dalam menangkal radikalisme pemahaman keagamaan ini,” saranya. [Ibn Ghifarie, Zacki]