UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ushuluddin Harus Jadi Garda Terdepan Suarakan Islam Moderat

Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung harus menjadi garda terdepan dalam pengembangan Islam moderat di Indonesia. “Dengan karakter yang terbuka, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi persamaan. Keberadaan Ushuluddin harus menjadi pengarusutama dalam menyuarakan gerakan Islam moderat, moderasi Islam atau Islam wasathiyah di Indonesia. Mengingat angka kekerasan cukup tinggi. Hasil temuan Setara Institute erdapat 109 peristiwa pelanggaran dengan 136 tindakan, ” ungkap Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin dalam acara Rapat Kerja Fakultas Ushuluddin tahun 2019 bertajuk”Meningkatkan Komitmen dan Profesionalitas Menuju Ushuluddin yang Unggul dan Kompetitif” digelar di Kamojang Green Hotel & Resort, Jalan Raya Kamojang No.KM.3, Samarang, Kabupaten Garut, dari tanggal 22-24 Januari 2019.

Acara Raker diikuti 100 peserta yang dibuka oleh Wakil Rektor II, Prof. Dr. H. Oyo Sunaryo Mukhlas, M.Si didampingi Wakil Dekan I, Dr. H. Mulyana, Lc., M.Ag., Wakil Dekan II, Dr. Wawan Hernawan, M.Ag., Wakil Dekan III, Dr. H. Engkos Kosasih, M.Ag.

Menurut Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., Islam moderat adalah pemahaman dan prilaku keberagamaan yang melahirkan sikap toleransi dalam menghadapi keragaman, tertutama menyangkut isu pluralisme agama, sehingga mewujudkan nilai-nilai damai dalam Islam.

“Sikap ini sangat diperlukan dalam konteks merawat kebineka-tunggalikaan Indonesia yang memiliki banyak keragaman. Moderasi Islam sesungguhnya ini seiring dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, ” jelasnya, Rabu (23/01).

Untuk menyuarakan gerakan Islam moderat di Indonesia kata Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., diperlukan, “Ini harus menjadi komitmen bersama dalam mengarusutamakan Islam moderat yang berusaha menghadirkan Islam yang sejuk, indah, menghargai segala perbedaan dan menjunjung tinggi persamaan,” tegasnya.

Sebagai bukti dari upaya menyebarluarkan gerakan Islam moderat ini, “Bisa diliahat dari beberapa karya dan hasil penelitian dosen. Sekretaris Jurusan Aqidah Filsafat Islam, Bapak Iu Rusliana sudah melakukan penelitian terhadap Guru. Jadilah guru moderat. Wakil Dekan II, Bapak Wawan Hernawan memotret Gerakan Islam Moderat di Jawa Barat; Pandangan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Ummat Islam, Persatuan Islam, dan Jam’iyatul Washliyah terhadap Kasus Intoleransi. Pada saat 70 Tahun Prof. Afif Muhammad, M.A diluncurkan buku Islam Moderat; Refleksi Pemikiran Prof. Dr. H. Afif Muhammad, M.A. Ini merupakan turunan dari misi Fakultas Ushuluddin yang mendeklarasikan diri sebagai pengarusutama Islam moderat di tanah air,” jelasnya.

Hasil penelitian Iu Rusliana tentang Guru Moderat menyimpulkan: Pertama, Potensi radikalisme tidak muncul dari guru agama PAI yang merupakan lulusan PTKAI, tapi dari para guru pembina kerohanian yang latarbelakang pendidikannya dari non PTKAI. Kedua, Guru-guru PAI alumni PTKAI memiliki pemahaman keagamaan yang moderat dan bersedia aktif menjadi agen-agen penyebar Islam Moderat di sekolah masing-masing. Ketiga, Di sekolah-sekolah umum, baik SMA maupun SMK, dengan jumlah jam pelajaran PAI yang sedikit, idealnya harus diperbanyak dengan kegiatan intra dan ekstrakurikuler, dimana guru PAI harus aktif membimbing pemahaman keagamaan siswa. Keempat, Dibutuhkan modul-modul tambahan untuk pengayaan materi pendidikan agama di SLTA, mengingat bahan ajar yang ada selama ini tidak spesifik membahas topik Islam moderat.

Temuan Wawan Gunawan menunjukkan, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Ummat Islam, Persatuan Islam, dan Jami’atul Washliyah, sampai hari ini masih menunjukkan eksistensinya di masyarakat sebagai pengusung Islam moderat. Gerak amal mereka sangat dinantikan oleh umat Jawa Barat senantiasa diidentikkan sebagai provinsi paling intoleran di Indonesia.

Bagi Iu Rusliana, penguatkan sikap moderat dan menahan diri untuk tidak mudah menuding, menstigmatisasi saudara kita yang berbeda pendapat ini sangat penting.

Jauhi sesat pikir yang bisa menyeret pada konflik tiada akhir. Ketidakwarasan berpikir yang menjadikan solusi membangun sebagai jalan keluar ditolak karena ditentukan oleh siapa yang menyampaikan, bukan apa isi pesan. Kecurigaan kepada pihak lain menguat, api kebencian dipelihara agar tetap menyala dan ego kelompok dikuatkan.

“Butuh sikap moderat sebagai jalan keluar. Moderat bukan tidak punya sikap, apalagi sekedar cari aman, berlindung dari kelemahan. Beberapa kawan yang keliru memahami sikap moderat menuding bahwa itu model berpikir dan bertindak yang sekedar mencari untung, menyelamatkan diri. Sikap moderat adalah ketegasan pada prinsip dan pengetahuan yang dipahami,” paparnya.

Iu Rusliana berharap “moderat merupakan jalan tengah dari semua sikap yang berkembang atas dasar sikap kritis dan keterbukaan untuk setiap jalan kebenaran yang dipilihkan,” pungkasnya.
(Kurnia)

Sumber Ada Berita Net, 23 Januari 2019