UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Umrah Untuk Semua

Umrah untuk semua. Judul tersebut diambil dari salah satu testimoni alumni jamaah umrah Qiblat Tour 23 Nopember 2017. Salah satu kata kuncinya adalah Allah Swt memberangkatkan yang mampu dan memampukan orang yang berangkat menajdi tamu-Nya. Berawal dari kisah seorang jamaah yang dengan keterbtasan fisikmya hendak melakukan ibadah umrah. Dengan bekal niat yang lurus dan tulus, ia mulai mempelajari sekaligus mempraktekan segala sesuatu yang berhubungan dengan umrah, baik dalam manasik di bandung maupun pendalaman manasik di kota Madinah. Keterbatasan fisiknya, tidak menghalangi sedikitpun semangat untuk menyempurnakan ibadah umrahnya. Dikalangan para temen serombongannya ia terkenal santun dan sangat welcome kepada siapapun, bahkan gurauan dan candanya menyelingi perjalanan suci dengan harapan ia dapat menikmatinya seperti halnya manusia yang normal secara fisik.   

Sejak awal perjalanan sampai puncaknya ibadah, ia senantiasa mengikuti dengan seksama semua anjuran dan saran pembimbing. Alhasil, Alhamdulillah semua rangkaian ibadah umrah dapat ia lalui dengan baik dan isnya Allah sempurna, bahkan ia mampu m,enmgerjakan beberapa pekerjaan sunnah yang terkadang jarang dilakukan oleh yang sempurna secara fisik. Ia selalu mengikuti program towaf sunnah, merapat di ka’bah bahkan dapat mencium hajar aswad.  Singkat cerita, ia bertutur ketika ditanya, apa kunci keksuksesannya mampu menyempurnakan ibadah umrah? Sepontan ia menjawab :

Pertama, luruskan niat hanya karena Allah. Pentingnya meluruskan niat karena dalam menjalankan ibadah haji dan jumrah menjadi hal yang sangat dominan dan dapat dirasakan langsung oleh para jamah. Dengan lurus niat hanya karena Allah Swt, maka yang jauh menjadi dekat, yang sulit menjadi mudah, yang mustahil manjadi mungkin, yang sakit menjadi sembuh, yang pelit menjadi bageur,  dan lain sebagainya. Dalam dirinya tertanam dan selalu hadir pertolongan Allah. Malaikat rahmat selalu mendampinginya di setiap jengkal perjalanannya. Kalimat Labbaikallahumma labbaik “ya Allah aku penuhi panggilan-Mu… bukan hanya basah dibibir tetapi juga menjadi bagian dalam dirinya sehingga apapun  yang terjadi adalah taqdir terbaik baginya. Ia menajdi Tamu Allah dengan berbagai jamauan yang akan dinikmatinya. 

Kedua,  Bekali diri dengan taqwa. Taqwa bukan saja hasil dari prosos ibadah seorang hamba melainkan juga merupakan proses yang harus dimiliki ketika ibadah itu dilakukan. Bekal taqwa dalam haji dan umrah dapat diimplementasikan dalam beberapa karakter seorang muslim, antara lain : syukur. Keterbatasan fisik tidak menguranginya untuk tetap bersyukur kepada Allah swt. Sabar, dengan kesabaran yang tidak terbatas dalam rangka menyempurnakan ibadah, maka pertolongan dan kemudahan dari allah akan datang kepadanya. Solat. Solatnya terjaga diawal waktu dan selalu berjamaah dapat menajadikannya pribadi disiplin dan penuh tanggungjawab. Selalu ada dalam kesucian sebagaimana yang Allah sukai dalam firman-Nya “sesungguhnya Allah suka orang-orang yang mensucikan dirinya”. 

Ketiga, Jaga silaturahmi. Silaturahmi dalam umrah dapat dirasakan selalu kerjasama dan toleransi antar jamaah. Kerjasama terjalin di semua kalangan tanpa membedakan apapun. Semua punya tyujuan yang sama yakni memenuhi panggil;an Allah. Kerjasama itu terasa dengan jalinan pertemanan dan persahabatan abadi baik di tanah suci maupun di tanah air sendiri. Dengan kerjasama terpadu, maka tidak lagi dirasakan kekurangan baik fisik maupun  pskikis. Ia membutuhkan orang lain, bukan dibutuhkan orang lain. Banyaknya kendala dan masalah yang dihadapi dapat teratasi dengan jaringan kerjasama dan toleransi antar jamaah.

Dengan tiga modal tersebut sesungguhnya Allah tidak pernah memandang siapapun dan apapun untuk dipanggil menjadi tamu-Nya dalam rangka menyempurnakan kualitas keislamannya. Sunnguh, umrah milik semua. Wallahu a’lam bil shawab.[]  

Aden Rosadi, Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 13 Desember 2017