UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

UIN Sunan Gunung Djati Pastikan Unggul dan Kompetitif

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Prof. Mahmud, mengatakan unggul dan kompetitif mesti menjadi kenyataan yang dimiliki universitasnya. Pernyataan ini disampaikannya saat membuka acara rapat kerja (raker) yang bertema “Merajut Kebersamaan Melalui Pengutan Moderasi Keberagamaan” di Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, Selasa (11/3/2019).

Raker UIN SGD yang diselenggarakan mulai 11-14 Maret ini diikuti oleh 183 peserta dari rektorat, senat universitas, fakultas, lembaga, dan unit-unit kerja. Rapat tersebut merupakan evaluasi tahun 2018, rujukan tahun 2019, dan persiapan tahun 2020.

“Sudah banyak yang sudah kita capai tapi tidak boleh berbangga sebab ke depan tantangan lebih banyak lagi”, ujar dia.

Mahmud mengatakan tata kelola sudah berjalan baik tetapi penguatan harus dilakukan terutama tata kelola berbasis teknologi. “Kita sadari sampai saat ini butuh penyempurnaan. Kebersamaan kita dalam menggunakan aplikasi SALAM harus menyatu, terintegrasi antara Fakultas, Jurusan,” ungkapnya.

Aspek pengembangan IPTEK dan inovasi misalnya riset dan publikasi, menurutnya telah mencapai hasil yang melebihi harapan. “Capaian jurnal ilmiah terakreditasi pun melampaui kontrak kerja saya dengan Kemenag RI,” papar Mahmud.

“Hanya saja masih ada titik lemahnya yaitu belum meratanya di semua Prodi. Ini harus dipikirkan bagaimana strateginya kita dorong. Harus ada kolaborasi antar-Fakultas dan Prodi. Kolaborasi harus menjadi solusi dalam penguatan jurnal ilmiah”, tambah dia.

Mahmud mengarahkan agar Tridharma Perguruan Tinggi terintegrasi. “Riset kita harus termanfaatkan untuk pengajaran dan pengabdian. Pengajaran berbasis riset harus menjadi kenyataan. Ini poin penting yang harus kita bahas”, papar Mahmud. 

Menurut dia, seluruh aspek harus dikuatkan mencakup kelembagaan, sumber daya, baik dosen maupun tenaga kependidikan, dengan memperkuat Badan Layanan Umum (BLU).

Aspek lain yang perlu disoroti adalah percepatan Guru Besar, partisipasi menjadi Asesor BAN-PT, membangun jaringan kerja sama, baik dalam negeri maupun luar negri, dan pengembangan Rumah Al-Qur’an.

Rektor berharap agar dalam kegiatan raker ini para peserta yang akan melaksanakan sidang komisi dapat mengevaluasi program kegiatan yang telah dilakukan pada 2018, mencermati program-program UIN pada 2019, dan menyiapkan rekomendasi program-program yang akan dilaksanakan di 2020.

“Semua itu kembangkan dan kuatkan. Manfaatkan momentum ini agar UIN SGD Unggul dan Kompetitif tepat guna dan bisa direalisasikan”, jelas dia.

Prof. Oyo Sunaryo Mukhlas, Ketua Pelaksana yang juga Wakil Rektor II UIN SGD menjelaskan, kegiatan raker ini diikuti 183 peserta yang terdiri dari unsur pimpinan dari mulai Wakil Rektor, Kepala Biro sampai Ketua Jurusan. “Dengan mengangkat tema ini dapat terus merajut kebersamaan untuk menyebarluaskan moderasi keberagamaan yang menghadirkan ajaran agama yang damai, sejuk,” paparnya. 

Oyo berharap berbagai informasi yang disampaikan unsur pimpinan bisa dicermati dan menjadi bahan untuk melakukan evaluasi, koordinasi, dan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi untuk program tahun 2019. 

Prof Yudian Wahyudi, Rektor UIN Yogyakarta, menjelaskan salah satu cara untuk mewujudkan umat Islam Indonesia yang unggul harus dimulai dengan mempelajari filsafat sebagai induknya ilmu pengetahuan.

Faktor penyebab mundurnya umat Islam, kata dia, di antaranya adalah konflik internal dan menghilangnya segala temuan ilmu pengetahuan hasil eksperimen sains yang puncaknya dengan terjadi pembubaran khilafah pada masa Turki Usmani.

“Sudah saatnya kembali ke filsafat dengan menggabungkan eksperimen metafisika dan fisika karena falsafah dari perubahan IAIN ke UIN merupakan perpaduan dari hasil eksperimen sains seperti ITB dan metafisika seperti IAIN. Jadilah UIN,” tegasnya.

Ia menuturkan, pondasinya umat Islam adalah harus menguasai dan mahir Bahasa Arab, Inggris, teknologi. “Kuncinya rajin membaca sesuai dengan wahyu pertama Iqra. Dalam konteks kurikulum di sekolah dan pesantren unggulan itu harus diterapkan penguasaan bahasa Arab, Inggris dan penguasaan teknologi, sehingga kehadiran revolusi industri 4.0 tidak menjadikan umat Islam tergilas tantangan zaman ini, tapi tampil kedepan dengan berbasiskan pada Wahyu yang memandu segala temuan ilmu dan teknologi,” ujar dia. (Adi Ginanjar Maulana)

Sumber, Ayo Bandung 12 Maret 2018