UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

UIN SGD Siap Cetak Dosen Profesional

[www.uinsgd.ac.id] Lembaga Penjaminan Mutu UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Workshop ‘Pengembangan Didaktik Metodik Tahap I’ bertempat di Aula Rektorat (Kamis, 19/11/2015). Kegiatan yang melibatkan Dosen tersebut langsung dibuka oleh Rektor, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si didampingi oleh Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Asep Muhyidin, M.Ag dan Ketua LPM Dr. H. Dindin Jamaludin, M.Pd.

Dalam sambutanya Rektor menjelaskan workshop ini sebagai salah satu cara mempersipkan dan mencetak dosen di lingkungan UIN SGD Bandung yang profesional dan memberikan keteladanan yang baik untuk dijadikan panutan.

Untuk itu kegiatan ini harus diikui oleh dosen di lingkungan UIN SGD Bandung mengingat, “Pertama, Pentingnya metodologi pengajaran ini. Kedua, Sebagai dosen pribadinya itu harus memberikan keteladanan bagi mahasiswa dan lingkungan kampus. Oleh karena itu, penyampaian materi dengan metode pembelajaran yang bagus itu penting, tapi alangkah indahnya jika dibarengi dengan kepribadian yang bagus. Jadi keteladanan dan profesionalisme dosen itu sangat penting,” tegasnya.   

Bagi Guru Besar Bidang Pendidikan Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M.Pd menjadi pembicara utama, menyampaikan materi dengan tema ‘Menjadi Dosen Profesional’.

Menurut pria kelahiran Majalengka tersebut, seorang dosen tidak baik jika 100 % hadir di kelas tetapi tidak memiliki kontribusi perubahan untuk masyarakat. “Saat saya berbicang, dosen yang hadir 100 % di kelas justeru ditertawakan, kapan dong penelitiannya? Kapan pengabdiannya kepada masyarakat? Ujarnya berkelakar.

“Ketidakhadiran dosen di kelas bisa jadi karena ia sedang memenuhi tugas lain yang bermanfaat untuk masyarakat. Oleh karena itu dosen harus bisa mengatur waktu,”tegasnya.

Menurutnya, di Era Globalisasi, bicara lembaga, UIN jangan dibandingkan dengan UPI atau perguruan tinggi dalam negeri, tapi bandingkan dengan Universitas Malaya, Nanyang University atau universitas-universitas minimal yang berada di ASEAN. Begitu juga dengan dosen-dosennya, menghadapi era ACFTA yang paling utama adalah kualitas. Yang tidak berkualitas akan terpinggirkan, begitu juga dosen-dosennya. “Dosen yang akan diakui oleh masyarakat adalah dosen yang yang berkualitas”tegasnya lagi.

Dalam makalahnya ia menuliskan bahwa Menjadi dosen profesional adalah rasionalisasi dari tuntutan era global dengan cara pengembangan SDM dan peningkatan mutu pendidikan. “Alasan kenapa dosen harus profesional karena dosen merupakan fasilitator perkuliahan yang perlu dijaga kualitasnya, dosen profesional juga menentukan hasil pendidikan, sehinga diperlukan adanya pengembangn kompetensi dosen yang berkesinambungan,”tulisnya.

Ia menawarkan 7 kunci untuk menjadi dosen profesional, yaitu: Berakhlakul karimah, visioner, kreatif, mandiri dan inovatif, mandiri, tahu hak dan kewajiban, paham tupoksi, serta memiliki komptensi.

Selain E. Mulyasa, LPM juga menghadirkan Erliany Syaodah, dan Doktor bidang Kurikulum Sri Widaningsih.***[Humas UIN SGD Bandung]