UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

UIN SGD Bandung Tembus 402 Index Scopus

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, sebagai perguruan tinggi yang berada di bawah pembinaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan publikasi pada jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional.

Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si., menempati posisi sentral sebagai “Pemimpin Publikasi Ilmiah UIN SGD Bandung”. Pada periode kepemimpinan Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si., UIN Bandung menyusun sasaran strategis meningkatnya publikasi ilmiah.

“Saat kepemimpinan periode 2015-2019, publikasi ilmiah UIN SGD Bandung mengalami lonjakan. Ini terlihat dari data publikasi index Scopus, yakni sejak Tahun 2009 sampai Tahun 2019 yang mencapai 402 dokumen”, ujar Wahyudin Darmalaksana, Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan (Puslitpen), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), UIN SGD Bandung, Kampus I, Jl. AH. Nasution No. 105 Cibiru Kota Bandung, Sabtu (20/04/2019).

Mengingat perguruan tinggi mendapat peran meningkatkan publikasi ilmiah. Keberadaan lembaga pengindeks sangat dibutuhkan untuk mengukur performa publikasi ilmiah di Perguruan Tinggi.

Urgensi Lembaga Index

Untuk lingkungan Diktis Kemenag RI tengah mengembangkan portal Moraref (Ministry of Religious Affairs Reference). Moraref memiliki peran untuk mengukur performa publikasi ilmiah PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam).

Sementara itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Kemenristek Dikti RI. mengembangkan portal Sinta (Science and Technology Index). Sinta dirancang untuk mengukur performa publikasi ilmiah Perguruan Tinggi di lingkungan Ristek Dikti RI.

Selainnya, institusi pengindeks publikasi ilmiah, Scopus. Institusi yang dimiliki oleh Elsevier ini merupakan perusahaan pengindeks terbesar di dunia. Publikasi ilmiah internasional reputasi global disebut “index Scopus”. Elsevier berkantor pusat di Amsterdam, Belanda.

Menurut Kepala Puslitpen jumlah publikasi dihitung menurut dokumen. Adapun sebarannya, yaitu: 2 dokumen Tahun 2009; 10 dokumen Tahun 2010; 17 dokumen Tahun 2011; 15 dokumen Tahun 2012; 12 dokumen Tahun 2013; 20 dokumen Tahun 2014; 16 dokumen Tahun 2015; 30 dokumen Tahun 2016; 53 dokumen Tahun 2017; 214 dokumen Tahun 2018; dan 13 dokumen Tahun 2019. Data ini diambil dari portal Sinta 20 April 2019.

“Kampus harus memiliki pangkalan data sendiri. Ini penting untuk mengintegrasikan berbagai sumber”, sambung Yudi, sapaan akrab Kepala Puslitpen.

“Portal Scopus mencatat 372 dokumen. Sedangkan portal Sinta mencatat 402 dokumen. Portal Scopus mencatat dokumen menurut afiliasi institusi. Portal Sinta mencatat menurut authors”, lanjut Yudi.

“Pasalnya, tidak semua authors mencantumkan afiliasi UIN SGD Bandung. Juga tidak semua authors UIN SGD Bandung teregistrasi di Sinta. Praktis, tidak semua dokumen tercatat di portal Sinta. Juga dokumen index Scopus author UIN SGD Bandung menyebar (tercecer, red.) tidak semuanya terhimpun pada profil UIN SGD Bandung di portal Scopus”, tegas Yudi.

Puslitpen LP2M UIN SGD Bandung menemukan angka index Scopus lebih dari 402 dokumen. “Ini sedang ditelusuri. Namun terkendala aplikasi. Kampus perlu menyiapkan aplikasi pangkalan data internal untuk menguatkan Moraref”, papar Yudi.

UIN SGD Bandung melalui Puslitpen LP2M betekad menguatkan platform Moraref. “Sebab, portal pengindeks yang dikembangkan oleh Diktis Kemenag RI. ini memiliki urgensi mengkur kinerja publikasi ilmiah fokus bidang keagamaan Islam,” pungkasnya.

Sumber, Ada Berita Net 20 April 2019