UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

UIN SGD Bandung Kembangkan Psikologi Islam

[www.uinsgd.ac.id] Upaya mengembangkan Psikologi Islam modern itu harus bersumber dari Psikologi Islam klasik, “dengan berpijak pada khasanah tasawuf Islam yang melakukan penelitian empiris dalam konsep Nafs, Qolb dan penyakit hati,” ungkap Prof. H. Subandi, M.Psi., Ph.D (Ketua Asosiasi Psikologi Islami dan Guru Besar Fakultas Psikologi UGM) pada Orasi Ilmiah Dies Natalis ke X Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung bertajuk “Sinergi untuk Kemajuan” diselenggarakan Aula Mutlipurpose, Senin (29/2).

Menurutnya, “Psikologi Islam modern itu bukan merupakan satu pemikiran. Ada berbagai perspektif dan teori. Salah satunya perspektif tasawuf, teori anchor dan Psikologi kenabian,” paparnya. 

Untuk perkembangan Psikologi Islam modern di Indonesia kita bisa lihat dari segi tokoh, institusi dan organisasinya.  “Pada tokoh ada Achmad Mubarok, Abdul Mujib, Djamaludin Ancok, Fuad Nashori, Yadi Purwanto, Bagus Riyono, Aliah B Purwakania dan Subandi. Untuk insitusi ada Program studi Psikologi di UIN, Program studi Psikologi Islam PT, Prodi Psikologi Pendidikan Islam dan Konsorsium Keilmuwan Psikologi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang baru diresmikan di Yogyakarta pada tanggal 13 Agustus 2015. Untuk organisasi profesi Psikologi Islam ada Asosiasi Psikologi Islam dan International Association of Moslem Psychologist yang berpusat di Malayasia,” terangnya.

Strategi yang harus dikembangkan dalam mewujudkan Psikologi Islam itu “perlu penguasaan ilmu Psikologi Barat, penguasaan ilmu keIslaman dan mengembangkan psikolog muslim. Bukan hanya dalam bidang kelimuan, tapi harus bisa membuat aplikasi, seperti tes psikotes Islam,” paparnya.

Paling tidak ada dua startegi untuk pengembangan Psikologi Islam; “Pertama, Keilmuan dasar Psikologi Islam modern yang harus menguasi konsep Nafs, konsep Qolb, kepribadian Qurani, tafsir psikologi dalam melakukan penelitian empiris; kedua, Aplikasi modern di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan untuk kenaikan pangkat dan golongan diperlukan tes Psikotes Islam,” sambungnya.

Melalui dua bentuk ini diharapkan melahirkan; “Pertama, Pengembangan Psikologi Islami yang berangkat dari Psikologi Barat yang mengintegrasikanya dengan Islam. Misal Terapi kognitif Islami, Kebersyukuran Islami; Kedua, Pengembangan Psikologi Islam yang berangkat dari konsep-konsep Islam yang tentunya dijabarkan dan diempiriskan,” terangnya.

Dengan begitu tercipta; Pertama, Psikologi Islami itu yang berusaha melangitkan apa yang di bumi, seperti Psikologi Barat (empiris), Fisafat Islam, Quran dan hadist; Kedua, Psikologi Islam itu yang berusaha membumikan apa yang di langit, seperti segala sesuatu yang berasal dari Al-Quran Hadis, Filsafat Islam dan Psikologi Barat empiris.” 

Usaha mengembangkan Psikologi Islam itu “mesti berpijak pada penguasaan metodologi, bukan hanya pada survey, eksperimen, tapi harus melakukan penelitian nyata dan semua hasil penelitian itu harus dipublikasi baik melalui jurnal maupun buku,” pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]