UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Teori Hadis

Hadis Nabi Muhammad SAW., sebagai dasar dan pokok ajaran Islam kedua setelah Al-Quran, merupakan sumber ajaran kehidupan bagi umat Islam. Hal ini karena bersamaan dengan kewajiban menaati Allah SWT., umat Islam dituntut untuk mengikuti dan menaati Rasulullah SAW. dalam kehidupan sehari-hari. Otoritas hadis bersumber dari pernyataan eksplisit di dalam Al-Quran dan bertolak dari kebenaran yang tersurat dan tersirat dalam Al-Quran dan berkaitan dengan realitas lingkungan sosial. Berbeda dengan Al-Quran yang diyakini kebenarannya dan diakui qath’i wurud-nya, perkembangan hadis dalam realitas historis tidak semulus Al-Quran karena berbagai keraguan atau penolakan seiring pertumbuhan dan perkembangan hadis tersebut.

Esensi dan hakikat hadis tidak dapat dipahami hanya dengan ta’rif terminologis, tetapi harus diketahui secara nyata dengan ta’rif penunjukan atau ostensif. Hadis secara real adalah semua hadis yang termaktub pada kitab hadis, yaitu diwan hasil dari proses riwayah dan tadwin yang ditekuni oleh para muhadditsin sampai abad ke-4 dan ke-5 Hijriah. Kitab-kitab tersebut adalah kitab Mushannaf yang di-tadwin awal abad ke-2 Hijriah, yaitu kitab Al-Muwatha’ yang disusun Malik. Kitab kedua adalah kitab Muanad yang disusun pada pertengahan abad ke-2 sampai awal abad ke-3 Hijriah dan selanjutnya, yaitu Musnad: Hanafi, Syafi’i, Ahmad, Ya’qub, ‘Ubaidillah, Khumaidi, Musaddad, dan Ath-Thayalisi. Kitab jenis ketiga adalah kitab Sunan yang disusun pada abad ke-3, ke-4, dan ke-5 Hijriah, yaitu Sunan: Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Majah, Darimi, Dailami, Daraquthni, dan Baihaqi. Adapun jenis keempat adalah kitab Shahih yang disusun pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah, yaitu Shahih: Bukhari, Muslim, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimah, Ibn Jarud, Abu ‘Awanah, dan Mustadrak Hakim.

Melalui periwayatan, hadis Nabi Muhammad SAW. yang diterima sahabat dengan mendengar sesuatu yang disabdakan dan melihat perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad SAW., kemudian dipelihara (dhabth) dalam hafalan, amalan, dan tulisan, kemudian disampaikan (at-tahrir/al-ada) kepada sahabat lain atau kepada tabiin (generasi muslim yang bertemu sahabat dan tidak bertemu Nabi Muhammad SAW.). Selanjutnya, tabiin menyampaikannya kepada tabiin at-tabiin melalui proses tahammul wa al-ada. Sejak thabaqah ini, riwayat diisi dengan tadwin resmi sampai terkoleksinya hadis pada kitab-kitab hadis tersebut.

Judul : Teori Hadis

Penulis : Drs. H. Ayat Dimyati, M.Ag. Dr. Beni Ahmad Saebani, M.Si. 

ISBN 979-979-076-635-8

Tahun terbit/Cetakan ke-1: November 2016.

Penerbit : Pustaka Setia