UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Tanamkan Jiwa Tertib Peraturan sedari Dini

Operasi Zebra 2017 telah usai digelar pada 14 November lalu. Operasi yang digelar Polri tersebut serentak dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dari 1-14 November 2017. Polri menggelar operasi tahunan tersebut dengan tujuan menurunkan jumlah pelanggaran soal lalu lintas kendaraan bermotor sekaligus mengurangi angka kecelakaan.

Pelanggaran dalam lalu lintas memang menjadi faktor penyebab kecelakaan di jalan raya. Dilansir dari Nasional.tempo.com, Maret 2017, data Kepolisian Daerah Jawa Timur pada Operasi Simpatik Semeru 2017 menyebutkan, dalam 20 hari, korban mencapai 152 orang. Artinya, dalam sehari ada 7-8 orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. 

Pelanggaran dalam lalu lintas sudah seharusnya ditekan agar tidak bertambah dan menjadi faktor penyebab kecelakaan. Masyarakat seolah cuek akan keselamatan di jalan raya dengan tidak tertib akan peraturan berlalu lintas. Contohnya saja tidak memakai helm saat mengendarai motor di jalan raya dengan dalih buru-buru, jaraknya dekat, ataupun tidak akan lama kok, cuma ke situ. Belum lagi pelanggaran lain, seperti melawan arus, tidak menyalakan lampu, menaiki trotoar, berhenti di zebra cross, serta penggunaan rotator dan sirene yang baru-baru ini marak dipakai pengendara.

Bila diketahui petugas kepolisian, mereka tentunya akan dikenai sanksi, dari sanksi ringan berupa teguran hingga penilangan. Namun, tindak penilangan terhadap pelanggar seakan hanya jadi bahan tantangan bagi setiap pengendara yang tidak tertib berlalu lintas. Banyak pengendara yang malah semakin berani melanggar peraturan lalu lintas saat di jalan raya seakan dialah yang berkuasa di jalan tersebut. Padahal, saat melihat petugas polisi sedang melaksanakan operasi atau razia, banyak yang langsung bersembunyi dan berpura-pura belok untuk berhenti.

Mereka khawatir jika ketahuan petugas akan diberhentikan dan dikenai sanksi tilang. Sekalipun mereka tertangkap, ribuan alasan diutarakan untuk membela diri agar dapat lolos dari sanksi tilang tersebut atau berusaha menyogok petugas kepolisian. Hal tersebut membuat usaha menurunkan angka pelanggaran lalu lintas menjadi sia-sia saja. Toh nyatanya masyarakat yang ingin punya peraturan sendiri, tidak mau tertib kepada peraturan yang telah ada.

Pola pikir yang demikian itu menjadi gambaran masyarakat banyak yang enggan tertib dalam mematuhi peraturan lalu lintas. Untuk itu, sedari kecil warga harus sudah diberi pendidikan untuk mengikuti tata tertib dalam segala sesuatu. Begitu pun saat berlalu lintas. Jiwa tertib sudah sepatutnya tertanam dalam diri seseorang supaya timbul dalam hati untuk selalu mematuhi peraturan di manapun itu.

Jangan naik motor jika tidak ingin pakai helm, jangan gunakan kendaraan bermotor jika suka melawan arus. Janganlah melanggar per aturan jika tidak ingin diberhentikan dan ditilang oleh petugas. Saling hargai sesama pengguna kendaraan, jangan jadi ratu saat di jalanan. Jadilah duta keselamatan lalu-lintas yang selalu mematuhi tertib peraturan.[]

Reffi Ahmad, Mahasiswa UIN SGD Bandung

Sumber, Forum Media Indonesia 24 November 2017