UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Tahun Kepura-puraan

Di pengujung Desember, kita merayakan dua hari besar yang diperingati umat Islam dan umat Kristiani yang tanggalnya beriringan: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal Isa Almasih, dan kemudian dipungkas peralihan tahun.

Bagi saya, pesan moral yang relevan dari kelahiran kedua nabi besar itu  adalah harus lekas melucuti sikap kepura-puraan dalam segenap hal. Segeralah menghentikan kebohongan demi menyambut fajar kehidupan yang berkeadaban.

Menghentikan kepura-puraan ini penting sebab hari ini, diakui atau tidak, kepura-puraan telah mengepung kita. Nyaris merata  dari atas sampai bawah. Simak saja sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang sudah digelar dan menyita perhatian bangsa Indonesia pada akhirnya berujung antiklimaks, berakhir pada drama kepura-puraan. Alih-alih membacakan amar keputusan, MKD malah terbawa arus irama politik Setya Novanto, membacakan surat pengunduran dirinya dari Ketua DPR. Riwayat kelanjutannya, Novanto kemudian beralih ke posisi strategis, Ketua Fraksi Golongan Karya, tanpa merasa bersalah dan tanpa beban politik apa pun. Ekspektasi masyarakat untuk dapat melihat tata kenegaraan yang transparan masih jauh panggang dari api.

Memang sidang etik digelar lengkap dengan panggilan yang kemudian menjadi trending topic, “Yang Mulia”, tetapi semua serba berjubahkan kepura-puraan. Diksi etika yang melekat dalam MKD tak terhindarkan menjadi contradictio in terminis. Menjadi pura-pura ditanya, pura-pura menjawab, dan pura-pura tidak tahu keputusan apa yang hendak diambil. Sebab, pada akhirnya mereka sadar, mereka tidak sedang merepresentasikan wakil rakyat yang paham aspirasi khalayak, tetapi hanya pura-pura mewakili.

Coba saja simak, ternyata apa yang dipikirkan jauh berbanding terbalik dengan angan-angan pemilihnya. Bukan melambangkan konsep diri “para penyambung lidah rakyat”, tetapi lebih menampilkan gerombolan politisi-meminjam istilah Nietzsche-yang lebih dingin daripada monster yang paling dingin, serupa vampir yang mengisap darah kehidupan sehingga politik jadi lunglai dan tersesat di jalur entah ke mana dan di mana.

Atau mungkin kita ditakdirkan sebagai bangsa yang menjadikan kepura-puraan sebagai  bagian dari jati diri. Ini tidak saja terjadi hari ini, tetapi bahkan dengan sangat sempurna selama 32 tahun negara despotik Orde Baru berkuasa, isinya tak lebih hanya kontes dongeng kolosal politik  kepura-puraan demi kepura-puraan yang dikemas secara canggih lewat idiom “pembangunan”. Pura-pura akan tinggal landas, ternyata benar-benar tinggal di landasan. Pura-pura hidup rukun lewat paket SARA yang dipidatokan secara gencar, tetapi ternyata seiring robohnya Orde Baru kekerasan demi kekerasan seperti mendapatkan katupnya. Pura-pura memuliakan kaum perempuan, ternyata isinya tak lebih hanya kelas “dharma wanita”.

Visi kenabian

Mungkin benar apa yang dibilang Mochtar  Lubis tentang 12 identitas negatif “manusia Indonesia”, salah satunya adalah hipokrit dan suka pura-pura. Kepura-puraan ini kian artikulatif ketika diekspresikan kerumunan politisi primitif  atau hari ini lebih halus dikemas dalam istilah politik “pencitraan”.

Tepat ketika Presiden Joko Widodo mengundang para pelawak ke Istana Negara berbarengan sidang MKD, bagi saya ini adalah olok-olok cerdas  sepanjang 2015: satire yang sangat menohok jantung perpolitikan kita. Pesan yang hendak disampaikan kira-kira adalah bahwa kaum politisi sesungguhnya tidak sedang bersidang, tetapi tengah saling berargumen dengan lelucon murahan. Mereka sedang menelanjangi watak aslinya yang penuh dusta, saling menyandera, dan jahiliah.

Di sinilah peringatan kelahiran dua nabi besar di pengujung tahun ini menemukan relevansinya. Kedua nabi itu tidak pernah lelah mempromosikan hidup yang diacukan pada haluan asketisisme. Hidup dalam terang kebenaran dan kesederhanaan. Bahwa iman yang lurus identitas utamanya tidak diletakkan pada gemuruh  perayaan ritual, tetapi sejauh mana iman itu efektif menggerakkan manusia untuk bersikap amanah dalam mengelola kekuasaan yang digenggamnya. Kata Muhammad SAW, “Tidak beriman mereka yang tidak bisa bersikap amanah.”

Iman di tangan kedua nabi itu kebenarannya tak terkonfirmasi pada gagasan-gagasan abstrak, tetapi justru pada sejauh mana iman itu mampu menjadi nyala keyakinan yang bisa menjadi pandu mentransformasikan seseorang ke arah tindakan politik yang bijak. Iman yang  bisa bergerak berbarengan ke dua arah: ke dalam mampu memperkaya penghayatan religiositas dan ke luar menjadi obor yang membawa kehidupan menjadi santun. Iman personal sekaligus sosial, metafisis sekaligus ideologis.

Di titik inilah menjadi dapat dipahami seandainya kedua nabi itu dalam menyampaikan risalahnya lebih mengedepankan visi keteladanan ketimbang seruan-seruan verbalistik. Mengambil pilihan politik adiluhung daripada memburu kekuasaan. Kehidupan dikelola sedemikian rupa sehingga mencapai maqam keadaban tidak dengan kekerasan, tetapi kelembutan, tidak lewat pentungan, tetapi kasih sayang. Kedua nabi itu adalah yang terakhir kali merasakan “kenyang” sebelum umatnya dapat dipastikan terpenuhi sandang pangannya terlebih dahulu.

Nabi Isa terkenal sebagai pribadi welas asih yang apabila ditampar pipi kirinya, diberikanlah pipi kanannya, jemaahnya lebih banyak kaum papa, menjadi panutan khalayak dalam segenap lakunya. Nabi Muhammad setiap hari dilempari seorang  Yahudi. Ketika dilaporkan si Yahudi itu tergolek di rumah sakit, beliau sendiri yang pertama kali menjenguk dan menyuapinya. Muhammad SAW lebih memilih tempat tinggalnya menyatu dengan mihrab daripada meminta para sahabat membangunkan istana megah layaknya raja-raja Persia dan Romawi saat  itu. 

Interupsi di pengujung tahun

Di penghujung tahun 2015, kedua nabi besar itu  seolah hendak melakukan interupsi religius bahwa problem kemanusiaan hanya bisa diselesaikan manakala keberagamaan dikembalikan ke garis khitahnya. Agamalah yang mampu menanggalkan  sikap kepura-puraan para pemeluknya, yang bisa menginjeksikan kesadaran bahwa politik yang benar itu manakala mampu mewujudkan keutamaan publik. Ia menciptakan relasi sosial yang lapang, dapat memasuki fakta keragaman dalam pengalaman kemajemukan yang intim, bisa menunjukkan bahwa tata kelola ekonomi dianggap sahih ketika bisa memberikan kesejahteraan   dan meneguhkan hukum yang tidak diskriminatif.

Kedua nabi itu adalah mata air keteladanan tak pernah kering yang seolah mengajarkan bahwa kekuasaan itu tidak penting sama sekali kalau hanya dijadikan alat memburu rente, memperkaya diri dan mempertahankan kursi dengan menghalakan segala cara. Kemuliaan kekuasaan itu terletak pada sikap kesediaan berkhidmat kepada jemaat dan umat.

Kelahiran dan tahun baru dirayakan adalah sebagai penanda bahwa semangat “dilahirkan kembali”  adalah semangat kebaruan yang harus terus digelorakan sebagai siasat agar kita tidak dibajak hal-hal artifisial, supaya kita tidak disandera tubuh material yang bikin mata batin kehilangan sensitivitas. Bahwa roh kerukunan tidak hanya wajib  diupayakan, tetapi juga panggilan iman. Dalam iman murni tidak ada “aku” dan “kamu”, tetapi “kita”, yang semua sama kedudukannya sebagai kafilah yang sedang meretas jalan menuju Maha Cahaya.

Kekitaan sebagai  modus eksistensial kehadiran setiap warga. Kekitaan yang berada di bawah napas Ilahiah yang pada gilirannya mampu secara sosiologis membedakan mana politik kepura-puraan dan yang otentik, mana keberagamaan hakiki dan mana yang ornamental semata.

Trilogi Maulid, Natal, dan Tahun Baru, seharusnya dijadikan momentum untuk melahirkan kesadaran-kesadaran seperti itu. Kesadaran-kesadaran yang akan  menjadi oksigen yang akan bikin hidup kita tidak berujung sia-sia. Semuanya harus dipastikan bergerak ke arah itu. Jika tidak, setiap perayaan hanya berhenti sebatas upacara, hanya menyisakan kemacetan mengisi liburan panjang. Akhirnya, selamat Maulid, Natal, dan Tahun Baru.

Asep Salahudin  ;  Dosen UIN SGD Bandung; Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya, Tasikmalaya; Dosen di FISS Universitas Pasundan, Bandung.

Sumber, Kompas, 02 Januari 2016