UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Sumpah Waktu Tahun Baru

Tuhan bersumpah dengan menggunakan waktu. Ini banyak kita temukan dalam senarai firman-Nya. Demi waktu asar, demi fajar, demi waktu duha, demi siang, dan demi malam.

Dimensi waktu ketika digunakan sebagai diksi untuk mewadahi sumpah, tentu mengandung arti tentang makna penting posisi waktu dalam kehidupan kita. Tidak mungkin bersumpah, kalau tidak menghajatkan perhatian yang lebih.

Dalam kenyataannya kita mafhum bahwa keberadaan kita tidak terlepas dari ruang dan waktu. Ruang sebagai tempat di mana kita tinggal, dan waktu merumuskan ihwal penanda masa silam, sekarang dan yang akan datang.

Orang yang tidak memiliki kesadaran tentang ruang dan waktu bukan hanya patut dipersoalkan makna kehadirannya, namun bisa jadi dia sudah berada di luar kategori yang normal. Hanya orang gila dan yang mengalami amnesia yang tidak sadar hakikat keberadaan waktu, dan tidak paham sedang di mana dia berada. Atau minimal sedang ditimpa penyakit lupa.

Di sinilah misalnya kita dituntut bukan hanya mampu merumuskan visi masa depan untuk menyongsong kehidupan yang lebih gemilang, namun juga dituntut memiliki kecakapan dalam memahami dan memaknai masa silam yang sering disebut dengan sejarah.

Kata Harold R. Issacs “Jika masa lampau itu ‘mati’, maka mayat-mayat hidup itu akan menari-nari di atas makam-makam baru di mana-mana, setiap hari dan setiap waktu apa saja. Setiap benturan atau bentrokan ‘baru’ dalam suatu cara yang lain seakan-akan menghidupkan kembali konflik-konflik yang tidak dapat ditahan dan umumnya berakar dari beberapa permasalahan yang kurang lebih berasal dari masa lalu.”

Ini juga yang menjadi alasan utama mengapa kitab suci banyak menyediakan ruang untuk mengupas jatuh dan bangunnya peradaban silam, menghadirkan potret masa lalu dengan segala dinamika dan kompleksitas masalah yang melingkupinya:

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Q.S. Ali Imran/3: 137).

“Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); jadi perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (Q.S. al-Araf/7: 84).

Masa silam
Dalam kenyataannya tidak ada orang, masyarakat, umat dan atau bangsa yang tidak terikat masa lampau. Alih-alih membebaskan diri dari bayang-bayang masa lampau malah seringkali justru masa lampau dibaptis sebagai pengesah masa sekarang. Sebagian kita bernostalgia dan menobatkan sebagai masa yang ideal yang harus dihadirkan kembali dalam konteks kekinian. Eliade pernah mencatat, “Orang akan menyusun kembali waktu yang menakjubkan itu, dan oleh karenanya dengan cara-cara tertentu akan menjadi sezaman dengan dewa-dewa atau para pahlawan”.

Gerakan Hijbut Tahrir Indonesia adalah ormas yang membayangkan kembali kejayaan sistem khalifah; NII adalah sekelompok orang yang merasa bahwa cita-cita ideologi Islam yang dahulu diperjuangkan belum selesai dan harus berupaya untuk ditegakkan; Orang Jepang menjadikan Pemerintah Meiji pada tahun 1873 sebagai contoh ideal rujukan pemerintahannya. Orang Sunda sampai hari ini tidak pernah berhenti mencari tautan masa silamnya yang layak dijadikan haluan utama dalam merumuskan etos politik, budaya, ekonomi dan sosialnya ketika hari ini dianggap tidak cukup ideal mewadahi seluruh hasrat ki Sunda. Demikian pula masyarakat Barat dengan rasa bangga menobatkan peradaban Yunani silam sebagai mataair pembentuk kemajuan mereka pada saat sekarang.

Begitu juga gerakan keagamaan dan politik baik yang berhaluan kiri atau kanan seringkali menjadikan masa silam dengan rujukan utamanya.

Bagi saya, “haul”, “ulang tahun”, “milad” , “peringatan tahun baru” yang diselenggarakan baik oleh individu, negara atau partai politik secara ontologis mencerminkan tentang kerinduan untuk menghadirkan kejayaan masa silam, minimal menjadikan masa lalu sebagai energi untuk memberikan insiprasi gerakan saat ini dan masa mendatang. Nomenklatur seperti ini sama sekali tidak ada urusannya dengan “bidah” dan stigma keagamaan lainnya, tapi sepenuhnya adalah persoalan sosial kebudayaan sebagai refleksi pencarian manusia (bangsa) akan identitas dirinya, identitas kulturalnya, identitas politiknya, termasuk identitas religiositasnya.

Kita pun mafhum, masa lampaulah yang dengan cermat dapat mendefiniskan keberadaan kita: siapa kita? Hendak ke mana? Apa yang telah dilakukan? Bagaimana nasib kita ke depan? Masa lampau juga pada titik tertentu dan bagi sebagian orang menjadi suatu harapan yang harus dituntaskan atau sebuah obsesi untuk hadirnya kembali kejayaan silam ketika sekarang kita berada dalam keterpurukan, kalah, tertindas, mengharukan dan sama sekali tidak membanggakan.

Masa lampau sesungguhnya yang menjadi daya militansi kaum Yahudi. Bagaimana mereka dalam kurun 2000 tahun lebih menjadi kelompok yang tidak memiliki tanah air. Di tanah orang lain mendapat perlakuan buruk dianggap hina dan dipandang sebelah mata sebagai kerumunan berstatus rendah dan puncaknya terjadi pada tragedi hitlerisme itu. Semua itu kuncinya tidak lain, spirit sejarah yang telah mendarah daging, masa lampau yang tidak pernah pudar: sejarah bahwa mereka adalah umat terpilih yang diberi tugas suci untuk melakukan pekerjaan Tuhan di muka bumi.

Waktu yang telah lalu, sebagaimana diulas Harold R. Isaacs, yang dialami bersama masuk ke dalam pembentukan hidup individu pada setiap kebudayaan di waktu yang telah lampau maupun di waktu sekarang di mana hal itu akan muncul dalam samaran mitos yang berhubungan dengan apa yang dibayangkan tentang waktu “sakra” atau sebagai sejarah yang mempunyai visi untuk menceritakan ‘fakta’ kebenaran dari waktu yang kronologis. Inilah yang dinamakan “kenangan sejarah” oleh sosiolog Durkhaim atau “ketidaksadaran rasial” dalam ideom psikolog Jung.

2012 tentu masa lampau dalam hitungan yang masih dekat. Peralihan tahun menuju 2013 kita renungkan justru untuk memutus jerat tindakan negatif menuju harapan dan mimpi 2013 yang lebih baik.

Esais dan dekan di IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya dan Dosen UIN SGD Bandung.

Sumber, 31 Desember 2012