UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Seminar Internasional dan Review Kurikulum

[www.uinsgd.ac.id] Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN SGD Bandung menggelar kegiatan Seminar Nasional dan Review Kurikulum, pada Selasa (25/04/2017) bertempat di Ruang Sidang Gedung O. Djauharuddin AR, Jl. AH. Nasution No. 105 Cibiru Bandung.  Kegiatan tersebut dihadiri  oleh Wakil Rektor I UIN SGD Bandung Prof. Dr. H. Asep Muhyiddin, M.Ag, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Dr. Ah. Fathonih,  M.Ag, jajaran pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, serta para ketua dan sekretaris jurusan.

Mereview kurikulum pada hakikatnya membantu sebuah program studi atau perguruan tinggi dalam rangka introspeksi diri, agar kurikulum yang disuguhkan selalu update dan selaras dengan perkembangan zaman. “Bahkan kita termasuk dzalim jika aspek fisik saja yang berubah, sedangkan kurikulum dan sistem pembelajarannya tidak berubah, atau menggunakan yang 10 tahun lalu (ketinggalan zaman), ” kata Prof. Jamhari, seraya mengungkapkan bahwa belum satu pun PTKIN yang bisa menembus 300 terbaik dunia.

Jika suatu Perguruan Tinggi lebih mengutamakan pembangunan secara fisik, “Perguruan Tinggi seperti itu malah akan ditinggalkan peminatnya, karena kurikulumnya tidak pernah di-update. Para dosen hanya mempertahankan mata kuliahnya, sekadar melanggengkan lahan pekerjaannya,  tanpa mempertimbangkan masa depan mahasiswa,” kata guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Jamhari Makruf, MA saat pembukaan Seminar Internasional dan Review Kurikulum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN SGD Bandung.

Kegiatag Seminar Internasional tersebut menghadirkan narasumber Prof. Tim Lindsey (guru besar Melbourne University), Prof. Simon Butt (guru besar Sidney University), dan Dr. Mary Calagher (Australian Chatolic University). Menurut Prof Tim, konsep world Class university memposisikan mahasiswa sebagai subjek pembelajaran. “Mahasiswa diberi kesempatan untuk merancang struktur kurikulum maupun mengubah sistem pembelajaran. Berarti, mahasiswa menentukan karir seorang dosen, masih layak mengajar atau tidak? Jika suatu mata kuliah tidak penting bagi masa depan mahasiswa, dosennya pun bisa nganggur,” katanya. Setidaknya ada 20 perguruan  di Australian sudah world class university. Dan, review kurikulum wajib dilakukan setiap tahun. Risikonya, selain ada penentangan, mahal, juga dan tak urung mengundang konflik internal.

Pada kesempatan yang sama,  Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Dr. Ah. Fathonih mengucapkan terima kasih kepada para guru besar dari Australia, atas perhatian dan keilkhlasannya untuk me-review kurikulum di dua fakultas selama tiga hari. Bagi FSH, ini sangat relevan seiring dengan perubahan gelar SH di semua prodi di Fakultas Syariah dan Hukum (kecuali Jurusan Majemen Keuangan Syariah).

“Kehadiran para guru besar diharapkan bisa mengangkat harkat martabat UIN SGD menjadi lebih baik lagi. Namun, tetap kita tekankan pentingnya kurikulum muatan lokal yang menjadi pembeda antara lulusan Fakultas Syariah dan Hukum dengan fakultas hukum di perguruan tinggi lain. Silakan ubah struktur kurikulum, tapi jangan lupa muatan lokalnya,” pinta Dekan. [Nanang Sungkawa/Humas al-Jami’ah]