UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Seminar Hari Pers Nasional

[uinsgd.ac.id] Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Menggelar seminar yang mengusung tema “Reorientasi Peran Media Massa,” Kamis (9/2). Acara yang menghadirkan dua orang pembicara dari wartawan biro SCTV-Jabar Patria Hidayat dan pengamat televisi sekaligus penulis buku Cerdas Nonton TV Dede Mulkan, digelar di Aula Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Seminar berlangsung mulai pukul 09.00-12.00 WIB membahas mengenai orientasi media dewasa ini yang cenderung mengenyampingkan misinya sebagai agen yang turut dalam mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Program-program televisi memiliki dua kepala sisi yaitu sebagai industri budaya, dan sebagai lembaga bisnis yang mau tidak mau ujungnya adalah mengenai uang. Televisi selalu menjadi ajang penjualan produk dan mengikuti aturan pasar. Rating menjadi ukuran utama dalam sebuah televisi. Hal tersebut disampaikan salah satu pemateri Dede Mulkan saat menyampaikan materi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurut Dede, televisi merupakan ruang publik, bisa dimasuki oleh siapa saja dan bisa diikuti oleh siapa saja, bisa ditonton dan bisa didengar oleh masyarakat umum secara keseluruhan. Ruang publik ini sesuatu yang netral yang tidak boleh diracuni oleh apapun.Media Massa seperti Televisi yang profesional harus menyampaikan nilai-nilai informasi, tunduk pada Undang-undang, agama, moral, dan nilai-nilai sosial. Namun, seprofesional apapun media itu tetap akan ada sisi yang sulit dihilangkan yaitu sisi komersialisme, bahkan kini sudah banyak televisi yang juga bermain politik. “Kita Harus pintar memilih tayangan yang bisa mencerdaskan tentunya. Atau bikin gerakan yang mengkritisi tayangan televisi yang tidak mencerdaskan,” tutur pemateri yang meninggalkan Aula di tengah-tengah acara berlangsung dengan alasan ada kepentingan lain.Acara ini terselenggara dalam upaya mempertajam kompetensi di jurusan khususnya untuk kejurnalistikan. Dan juga dalam upaya meningkatkan citra Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung. Dr. Enjang AS ketua jurusan Ilmu Komunikasi UIN Bandung yang baru dilantik tahun ini mengatakan, kegiatan seminar dan kuliah umum akan diadakan rutin setiap satu bulan sekali untuk seluruh mahasiswa Jurnalistik. Para praktisi ahli akan dihadirkan dalam setiap acara yang akan digelar.Melalui seminar dan kuliah umum diharapkan dapat memperkuat dan menambah wawasan bagi mahasiswa, serta mempertajam kompetensi di jurusan khususnya jurnalistik dan memperkaya nuansa keprodian. “Kegiatan kedepannya akan diadakan rutin satu bulan sekali, agar tidak hanya teori namun ada prakteknya,” kata Enjang.Sebanyak 233 peserta hadir dan memadati ruang aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang masih terbilang bangunan baru. Antusias peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada para pemateri saat sesi tanya jawab berlangsung. Acara ini selain dihadiri oleh peserta dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik hadir pula peserta dari mahasiswa jurusan-jurusan dan perguruan tinggi lain yang manaruh minat pada dunia jurnalistik.Salman Alfarisi salah satu peserta seminar, mengatakan cukup antusias dengan acara tersebut. Tetapi Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Humas UIN Bandung ini sedikit menyayangkan dengan pembahasan materi yang lebih terfokus pada media televisi. “Kalau pembahasannya mengangkat awal mula hari pers dan pers hari ini, mungkin akan lebih menarik. Karena masih ada juga yang belum tahu mengenai hal tersebut,”Begitupun dengan Hilmi Fauziah mahasiswi Ilmu komunikasi Jurnalistik UIN bandung ini menyayangkan acara yang seharusnya penting ini dicederai dengan penempatan posisi pemateri yang tidak dapat dijangkau oleh semua peserta yang memadati Aula. “penempatan pemateri kurang komunikatif karena pemateri ada disudut kanan peserta. Sehingga untuk peserta di bagian sebelah kiri menjadi tidak fokus terhadap materi yang disampaikan pemateri,” tutur mahasiswi semester empat ini.Acara ini dihadiri pula oleh teman-teman media massa diantaranya Republika, MQ Nasional, Seputar Indonesia, dan Inilahjabar.com.[] Iqbal, Riska-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Menggelar seminar yang mengusung tema “Reorientasi Peran Media Massa,” Kamis (9/2). Acara yang menghadirkan dua orang pembicara dari wartawan biro SCTV-Jabar Patria Hidayat dan pengamat televisi sekaligus penulis buku Cerdas Nonton TV Dede Mulkan, digelar di Aula Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Seminar berlangsung mulai pukul 09.00-12.00 WIB membahas mengenai orientasi media dewasa ini yang cenderung mengenyampingkan misinya sebagai agen yang turut dalam mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Program-program televisi memiliki dua kepala sisi yaitu sebagai industri budaya, dan sebagai lembaga bisnis yang mau tidak mau ujungnya adalah mengenai uang. Televisi selalu menjadi ajang penjualan produk dan mengikuti aturan pasar. Rating menjadi ukuran utama dalam sebuah televisi. Hal tersebut disampaikan salah satu pemateri Dede Mulkan saat menyampaikan materi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurut Dede, televisi merupakan ruang publik, bisa dimasuki oleh siapa saja dan bisa diikuti oleh siapa saja, bisa ditonton dan bisa didengar oleh masyarakat umum secara keseluruhan. Ruang publik ini sesuatu yang netral yang tidak boleh diracuni oleh apapun.Media Massa seperti Televisi yang profesional harus menyampaikan nilai-nilai informasi, tunduk pada Undang-undang, agama, moral, dan nilai-nilai sosial. Namun, seprofesional apapun media itu tetap akan ada sisi yang sulit dihilangkan yaitu sisi komersialisme, bahkan kini sudah banyak televisi yang juga bermain politik. “Kita Harus pintar memilih tayangan yang bisa mencerdaskan tentunya. Atau bikin gerakan yang mengkritisi tayangan televisi yang tidak mencerdaskan,” tutur pemateri yang meninggalkan Aula di tengah-tengah acara berlangsung dengan alasan ada kepentingan lain.Acara ini terselenggara dalam upaya mempertajam kompetensi di jurusan khususnya untuk kejurnalistikan. Dan juga dalam upaya meningkatkan citra Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung. Dr. Enjang AS ketua jurusan Ilmu Komunikasi UIN Bandung yang baru dilantik tahun ini mengatakan, kegiatan seminar dan kuliah umum akan diadakan rutin setiap satu bulan sekali untuk seluruh mahasiswa Jurnalistik. Para praktisi ahli akan dihadirkan dalam setiap acara yang akan digelar.Melalui seminar dan kuliah umum diharapkan dapat memperkuat dan menambah wawasan bagi mahasiswa, serta mempertajam kompetensi di jurusan khususnya jurnalistik dan memperkaya nuansa keprodian. “Kegiatan kedepannya akan diadakan rutin satu bulan sekali, agar tidak hanya teori namun ada prakteknya,” kata Enjang.Sebanyak 233 peserta hadir dan memadati ruang aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang masih terbilang bangunan baru. Antusias peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada para pemateri saat sesi tanya jawab berlangsung. Acara ini selain dihadiri oleh peserta dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik hadir pula peserta dari mahasiswa jurusan-jurusan dan perguruan tinggi lain yang manaruh minat pada dunia jurnalistik.Salman Alfarisi salah satu peserta seminar, mengatakan cukup antusias dengan acara tersebut. Tetapi Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Humas UIN Bandung ini sedikit menyayangkan dengan pembahasan materi yang lebih terfokus pada media televisi. “Kalau pembahasannya mengangkat awal mula hari pers dan pers hari ini, mungkin akan lebih menarik. Karena masih ada juga yang belum tahu mengenai hal tersebut,”Begitupun dengan Hilmi Fauziah mahasiswi Ilmu komunikasi Jurnalistik UIN bandung ini menyayangkan acara yang seharusnya penting ini dicederai dengan penempatan posisi pemateri yang tidak dapat dijangkau oleh semua peserta yang memadati Aula. “penempatan pemateri kurang komunikatif karena pemateri ada disudut kanan peserta. Sehingga untuk peserta di bagian sebelah kiri menjadi tidak fokus terhadap materi yang disampaikan pemateri,” tutur mahasiswi semester empat ini.Acara ini dihadiri pula oleh teman-teman media massa diantaranya Republika, MQ Nasional, Seputar Indonesia, dan Inilahjabar.com.[] Iqbal, Riska-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Menggelar seminar yang mengusung tema “Reorientasi Peran Media Massa,” Kamis (9/2). Acara yang menghadirkan dua orang pembicara dari wartawan biro SCTV-Jabar Patria Hidayat dan pengamat televisi sekaligus penulis buku Cerdas Nonton TV Dede Mulkan, digelar di Aula Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Seminar berlangsung mulai pukul 09.00-12.00 WIB membahas mengenai orientasi media dewasa ini yang cenderung mengenyampingkan misinya sebagai agen yang turut dalam mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Program-program televisi memiliki dua kepala sisi yaitu sebagai industri budaya, dan sebagai lembaga bisnis yang mau tidak mau ujungnya adalah mengenai uang. Televisi selalu menjadi ajang penjualan produk dan mengikuti aturan pasar. Rating menjadi ukuran utama dalam sebuah televisi. Hal tersebut disampaikan salah satu pemateri Dede Mulkan saat menyampaikan materi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurut Dede, televisi merupakan ruang publik, bisa dimasuki oleh siapa saja dan bisa diikuti oleh siapa saja, bisa ditonton dan bisa didengar oleh masyarakat umum secara keseluruhan. Ruang publik ini sesuatu yang netral yang tidak boleh diracuni oleh apapun.Media Massa seperti Televisi yang profesional harus menyampaikan nilai-nilai informasi, tunduk pada Undang-undang, agama, moral, dan nilai-nilai sosial. Namun, seprofesional apapun media itu tetap akan ada sisi yang sulit dihilangkan yaitu sisi komersialisme, bahkan kini sudah banyak televisi yang juga bermain politik. “Kita Harus pintar memilih tayangan yang bisa mencerdaskan tentunya. Atau bikin gerakan yang mengkritisi tayangan televisi yang tidak mencerdaskan,” tutur pemateri yang meninggalkan Aula di tengah-tengah acara berlangsung dengan alasan ada kepentingan lain.Acara ini terselenggara dalam upaya mempertajam kompetensi di jurusan khususnya untuk kejurnalistikan. Dan juga dalam upaya meningkatkan citra Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung. Dr. Enjang AS ketua jurusan Ilmu Komunikasi UIN Bandung yang baru dilantik tahun ini mengatakan, kegiatan seminar dan kuliah umum akan diadakan rutin setiap satu bulan sekali untuk seluruh mahasiswa Jurnalistik. Para praktisi ahli akan dihadirkan dalam setiap acara yang akan digelar.Melalui seminar dan kuliah umum diharapkan dapat memperkuat dan menambah wawasan bagi mahasiswa, serta mempertajam kompetensi di jurusan khususnya jurnalistik dan memperkaya nuansa keprodian. “Kegiatan kedepannya akan diadakan rutin satu bulan sekali, agar tidak hanya teori namun ada prakteknya,” kata Enjang.Sebanyak 233 peserta hadir dan memadati ruang aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang masih terbilang bangunan baru. Antusias peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada para pemateri saat sesi tanya jawab berlangsung. Acara ini selain dihadiri oleh peserta dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik hadir pula peserta dari mahasiswa jurusan-jurusan dan perguruan tinggi lain yang manaruh minat pada dunia jurnalistik.Salman Alfarisi salah satu peserta seminar, mengatakan cukup antusias dengan acara tersebut. Tetapi Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Humas UIN Bandung ini sedikit menyayangkan dengan pembahasan materi yang lebih terfokus pada media televisi. “Kalau pembahasannya mengangkat awal mula hari pers dan pers hari ini, mungkin akan lebih menarik. Karena masih ada juga yang belum tahu mengenai hal tersebut,”Begitupun dengan Hilmi Fauziah mahasiswi Ilmu komunikasi Jurnalistik UIN bandung ini menyayangkan acara yang seharusnya penting ini dicederai dengan penempatan posisi pemateri yang tidak dapat dijangkau oleh semua peserta yang memadati Aula. “penempatan pemateri kurang komunikatif karena pemateri ada disudut kanan peserta. Sehingga untuk peserta di bagian sebelah kiri menjadi tidak fokus terhadap materi yang disampaikan pemateri,” tutur mahasiswi semester empat ini.Acara ini dihadiri pula oleh teman-teman media massa diantaranya Republika, MQ Nasional, Seputar Indonesia, dan Inilahjabar.com.[] Iqbal, Riska-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Menggelar seminar yang mengusung tema “Reorientasi Peran Media Massa,” Kamis (9/2). Acara yang menghadirkan dua orang pembicara dari wartawan biro SCTV-Jabar Patria Hidayat dan pengamat televisi sekaligus penulis buku Cerdas Nonton TV Dede Mulkan, digelar di Aula Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Seminar berlangsung mulai pukul 09.00-12.00 WIB membahas mengenai orientasi media dewasa ini yang cenderung mengenyampingkan misinya sebagai agen yang turut dalam mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Program-program televisi memiliki dua kepala sisi yaitu sebagai industri budaya, dan sebagai lembaga bisnis yang mau tidak mau ujungnya adalah mengenai uang. Televisi selalu menjadi ajang penjualan produk dan mengikuti aturan pasar. Rating menjadi ukuran utama dalam sebuah televisi. Hal tersebut disampaikan salah satu pemateri Dede Mulkan saat menyampaikan materi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurut Dede, televisi merupakan ruang publik, bisa dimasuki oleh siapa saja dan bisa diikuti oleh siapa saja, bisa ditonton dan bisa didengar oleh masyarakat umum secara keseluruhan. Ruang publik ini sesuatu yang netral yang tidak boleh diracuni oleh apapun.Media Massa seperti Televisi yang profesional harus menyampaikan nilai-nilai informasi, tunduk pada Undang-undang, agama, moral, dan nilai-nilai sosial. Namun, seprofesional apapun media itu tetap akan ada sisi yang sulit dihilangkan yaitu sisi komersialisme, bahkan kini sudah banyak televisi yang juga bermain politik. “Kita Harus pintar memilih tayangan yang bisa mencerdaskan tentunya. Atau bikin gerakan yang mengkritisi tayangan televisi yang tidak mencerdaskan,” tutur pemateri yang meninggalkan Aula di tengah-tengah acara berlangsung dengan alasan ada kepentingan lain.Acara ini terselenggara dalam upaya mempertajam kompetensi di jurusan khususnya untuk kejurnalistikan. Dan juga dalam upaya meningkatkan citra Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung. Dr. Enjang AS ketua jurusan Ilmu Komunikasi UIN Bandung yang baru dilantik tahun ini mengatakan, kegiatan seminar dan kuliah umum akan diadakan rutin setiap satu bulan sekali untuk seluruh mahasiswa Jurnalistik. Para praktisi ahli akan dihadirkan dalam setiap acara yang akan digelar.Melalui seminar dan kuliah umum diharapkan dapat memperkuat dan menambah wawasan bagi mahasiswa, serta mempertajam kompetensi di jurusan khususnya jurnalistik dan memperkaya nuansa keprodian. “Kegiatan kedepannya akan diadakan rutin satu bulan sekali, agar tidak hanya teori namun ada prakteknya,” kata Enjang.Sebanyak 233 peserta hadir dan memadati ruang aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang masih terbilang bangunan baru. Antusias peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada para pemateri saat sesi tanya jawab berlangsung. Acara ini selain dihadiri oleh peserta dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik hadir pula peserta dari mahasiswa jurusan-jurusan dan perguruan tinggi lain yang manaruh minat pada dunia jurnalistik.Salman Alfarisi salah satu peserta seminar, mengatakan cukup antusias dengan acara tersebut. Tetapi Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Humas UIN Bandung ini sedikit menyayangkan dengan pembahasan materi yang lebih terfokus pada media televisi. “Kalau pembahasannya mengangkat awal mula hari pers dan pers hari ini, mungkin akan lebih menarik. Karena masih ada juga yang belum tahu mengenai hal tersebut,”Begitupun dengan Hilmi Fauziah mahasiswi Ilmu komunikasi Jurnalistik UIN bandung ini menyayangkan acara yang seharusnya penting ini dicederai dengan penempatan posisi pemateri yang tidak dapat dijangkau oleh semua peserta yang memadati Aula. “penempatan pemateri kurang komunikatif karena pemateri ada disudut kanan peserta. Sehingga untuk peserta di bagian sebelah kiri menjadi tidak fokus terhadap materi yang disampaikan pemateri,” tutur mahasiswi semester empat ini.Acara ini dihadiri pula oleh teman-teman media massa diantaranya Republika, MQ Nasional, Seputar Indonesia, dan Inilahjabar.com.[] Iqbal, Riska-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Menggelar seminar yang mengusung tema “Reorientasi Peran Media Massa,” Kamis (9/2). Acara yang menghadirkan dua orang pembicara dari wartawan biro SCTV-Jabar Patria Hidayat dan pengamat televisi sekaligus penulis buku Cerdas Nonton TV Dede Mulkan, digelar di Aula Fakultas Dakwah dan komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Seminar berlangsung mulai pukul 09.00-12.00 WIB membahas mengenai orientasi media dewasa ini yang cenderung mengenyampingkan misinya sebagai agen yang turut dalam mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Program-program televisi memiliki dua kepala sisi yaitu sebagai industri budaya, dan sebagai lembaga bisnis yang mau tidak mau ujungnya adalah mengenai uang. Televisi selalu menjadi ajang penjualan produk dan mengikuti aturan pasar. Rating menjadi ukuran utama dalam sebuah televisi. Hal tersebut disampaikan salah satu pemateri Dede Mulkan saat menyampaikan materi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurut Dede, televisi merupakan ruang publik, bisa dimasuki oleh siapa saja dan bisa diikuti oleh siapa saja, bisa ditonton dan bisa didengar oleh masyarakat umum secara keseluruhan. Ruang publik ini sesuatu yang netral yang tidak boleh diracuni oleh apapun.Media Massa seperti Televisi yang profesional harus menyampaikan nilai-nilai informasi, tunduk pada Undang-undang, agama, moral, dan nilai-nilai sosial. Namun, seprofesional apapun media itu tetap akan ada sisi yang sulit dihilangkan yaitu sisi komersialisme, bahkan kini sudah banyak televisi yang juga bermain politik. “Kita Harus pintar memilih tayangan yang bisa mencerdaskan tentunya. Atau bikin gerakan yang mengkritisi tayangan televisi yang tidak mencerdaskan,” tutur pemateri yang meninggalkan Aula di tengah-tengah acara berlangsung dengan alasan ada kepentingan lain.Acara ini terselenggara dalam upaya mempertajam kompetensi di jurusan khususnya untuk kejurnalistikan. Dan juga dalam upaya meningkatkan citra Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung. Dr. Enjang AS ketua jurusan Ilmu Komunikasi UIN Bandung yang baru dilantik tahun ini mengatakan, kegiatan seminar dan kuliah umum akan diadakan rutin setiap satu bulan sekali untuk seluruh mahasiswa Jurnalistik. Para praktisi ahli akan dihadirkan dalam setiap acara yang akan digelar.Melalui seminar dan kuliah umum diharapkan dapat memperkuat dan menambah wawasan bagi mahasiswa, serta mempertajam kompetensi di jurusan khususnya jurnalistik dan memperkaya nuansa keprodian. “Kegiatan kedepannya akan diadakan rutin satu bulan sekali, agar tidak hanya teori namun ada prakteknya,” kata Enjang.Sebanyak 233 peserta hadir dan memadati ruang aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang masih terbilang bangunan baru. Antusias peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepada para pemateri saat sesi tanya jawab berlangsung. Acara ini selain dihadiri oleh peserta dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik hadir pula peserta dari mahasiswa jurusan-jurusan dan perguruan tinggi lain yang manaruh minat pada dunia jurnalistik.Salman Alfarisi salah satu peserta seminar, mengatakan cukup antusias dengan acara tersebut. Tetapi Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Humas UIN Bandung ini sedikit menyayangkan dengan pembahasan materi yang lebih terfokus pada media televisi. “Kalau pembahasannya mengangkat awal mula hari pers dan pers hari ini, mungkin akan lebih menarik. Karena masih ada juga yang belum tahu mengenai hal tersebut,”Begitupun dengan Hilmi Fauziah mahasiswi Ilmu komunikasi Jurnalistik UIN bandung ini menyayangkan acara yang seharusnya penting ini dicederai dengan penempatan posisi pemateri yang tidak dapat dijangkau oleh semua peserta yang memadati Aula. “penempatan pemateri kurang komunikatif karena pemateri ada disudut kanan peserta. Sehingga untuk peserta di bagian sebelah kiri menjadi tidak fokus terhadap materi yang disampaikan pemateri,” tutur mahasiswi semester empat ini.Acara ini dihadiri pula oleh teman-teman media massa diantaranya Republika, MQ Nasional, Seputar Indonesia, dan Inilahjabar.com.[] Iqbal, Riska-Magang/SUAKA