UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Rektor Jadi Pemateri FGD tentang Poros Maritim

[www.uinsgd.ac.id] Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud menjadi pemateri pada Focus Group Discusion (FGD) Poros Maritim yang diselenggarakan oleh Staf Khusus Presiden di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta Rabu, (12/4). 

Rektor menyampaikan materi tentang “Mengembangkan SDM Maritim untuk Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia” sesuai Pidato di East Asian Summit tahun 2014, Presiden menyampaikan 5 (lima) pilar Pembangunan Poros Maritim yang mencakup: (i) membangun budaya maritim; (ii) menjaga dan mengelola sumberdaya laut; (iii) pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim; (iv) memperkuat diplomasi maritim dan (v) sebagai Negara yang menjadi titik tumpu dua samudera, Indonesia wajib membangun kekuatan pertahanan maritim.

“Sebagai orang Pendidikan, saya melihat bahwa kelima pilar di atas, akan berjalan secara optimal jika ditopang oleh kualitas (mental, kesadaran, pengetahuan dan skill) SDM yang mempunyai wawasan kemaritiman sesuai dengan cita-cita kelima pilar tersebut,” tegasnya.

Upaya membangun sumber daya manusia kemaritiman, Rektor menjelaskan, mayoritas penduduk indonesia (hampir 90%) memeluk agama Islam, maka untuk meningkatkan daya saing sdm indonesia tidak ada cara lain kecuali meningkatkan kualitas umat Islam Indonesia yang hampir 90% itu. “Jika yang 90% itu berkualitas dan berdaya saing maka otomatis, Indonesia akan berdaya saing pula. Sebaliknya jika yang 90% itu tidak berkualitas maka bisa dipastikan bangsa indonesia pun tidak akan berkualitas.”

Mengenai urgensi nilai agama, Rektor menguraikan; Pertama, kita masih ingat pelajaran sejarah; bahwa poros maritim majapahit sebagai nagara mandala tegak di antara dua hukum agama yaitu agama siwa (dharmadhyaksa kasaiwan) dan agama Budha (dharmadhyaksa kasogatan). “Jadi agama sebagai sumber moral tidak dilepas.” Kedua, karena  agama mayoritasnya adalah agama siwa jumlah sang pamegat hukum siwa lebih banyak dibanding sang pamegat hukum budha. tapi mereka hidup berdampingan karena ada ungkapan “shiwa-budha bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa (agama hindu dan budha berbeda tetapi satu, sebab kebenaran tidak pernah mendua). Ketiga, Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujaraat: 13). Keempat, membangun SDM umat Islam merupakan sebuah tuntutan realitas, agar umat islam yang mayoritas lebih optimal berperan dalam membangun bangsa. Kelima, adanya kelompok radikal di kalangan umat Islam dalam konteks keberagamaan, dikarenakan masih ada umat Islam yang pemahaman keislamannya belum sesuai dengan misi kenabian. Mereka masih mengedepankan akidah (eksternal) atau fiqh (internal) belum mengedepankan akhlak. 

 Usaha meningkatkan kualitas umat Islam Indonesia dalam konteks kemaritiman itu harus mengacu pada norma agama. “Islam itu wajib memakmurkan alam, seperti dalam Q.S. Huud ayat 61, “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.

“Karena penghubung (bukan pemisah) pulau-pulau di Indonesia ini adalah laut (negara kelautan-bukan kepulauan terbesar didunia) maka kita harus memakmurkannya (laut),” paparnya.  

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran di atas memberi isyarat bahwa laut sebagai medan ekonomi dan tempat mencari sumber-sumber kehidupan, yaitu: (1) potensi perikanan (lahm thariyya); (2) potensi perhiasan (hilyah); (3) potensi transportasi (al-fulk mawakhira); (4) potensi pertambangan, dll (tabtaghu min fadhlih); dan bahkan berdasarkan surat al-Anbiya ayat 30, maka kita memiliki potensi peradaban air (tsaqafah al-muyah) karena kita merupakan negara maritim, sedangkan air asal mula hidup dan kehidupan, sebagaimana adagium mengatakan dimana ada air disitu ada kehidupan.

Namun demikian, agar bisa menjadi pemakmur laut maka (khususnya umat Islam Indonesia) harus menguasai ilmu tentang kelautan (termasuk air).

Fisikawan Muslim abad ke-12 M, Al-Khazini (1115-1130 M) telah menyusun pelbagai teori penting dalam sains yang alat ujinya menggunakan air yaitu teori tentang keseimbangan hidrostatis, menguji hipotesis kerapatan air saat ia berada dekat pusat bumi, mengobservasi pipa-pipa kapiler dan menggunakan aerometer untuk mengukur temperatur zat-zat cair.

“Agar menguasai Sains, Umat Islam Indonesia harus mengenal ilmu-ilmu dari berbagai sumber khususnya Ilmuwan Muslim dan karya-karyanya. Jika umat Islam mengikuti tradisi keilmuan muslim terhadulu tentu akan menjadi rahmatan lil ‘alamin,” terangnya. 

Untuk lingkungan PTKIN saat ini memiliki konsorsium yang tujuannya menggali, menguji kembali dan mengembangkan temuan ilmuwan muslim klasik. langkah-langkahnya: (1), mengoleksi sebanyak mungkin karya dan temuan muslim; (2), menerjemahkan karya tersebut ke dalam bahasa Indonesia; (3), membelajarkan karya tersebut di madrasah dan perguruan tinggi Islam; (3), membangun laboratorium untuk menguji dan mengembangkan-nya kembali; (4), membangun museum sains islam (termasuk maritim islam nusantara); (5), memanfaatkan untuk pembangunan nasional.

Peta kebijakan yang menempatkan sektor laut sebagai fokus garapan pemerintah adalah Kebijakan Cerdas, mesti dijadikan peta konsep pembangunan negeri ini secara berkelanjutan. “Sebagai negara kepulauan yang lautnya lebih besar daripada daratannya, maka tuntutannya dalam pembangunan harus mengutamakan fakta geografis ini, supaya arah kebijakan tepat sasaran dalam menciptakan kejayaan negeri tercinta,” pungkasnya. (Humas Al-Jamiah).