UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ramadan Sebagai Madrasah Ruhaniyah

“Qod jaakum syahrun mubarokun”, sungguh telah datang bulan yang penuh berkah, yakni bulan Ramadan, itulah sabda Nabi yang disampaikan kepada sahabatnya pada saat bulan Ramadan tiba. Lebih lanjut beliau berkata, “Aatakum rhomadhonu sayyidus syuhuuri famarhaban bihi waahlan’, telah datang kepadamu bulan Ramadan penghulu segala bulan sampaikanlah selamat datang kepadanya.”

Sabda nabi yang kedua ini menyiratkan sebuah seruan kepada kita untuk melakukan peyambutan atas kedatangan bulan suci Ramadan sebagai penghulu segala bulan dengan penuh suka cita. 

Sekaitan dengan itu ada keterangan yang menegaskan, “Man farriha bi dzhulu ramadhan harromallohu jasadahu ‘alan niiron.”barang siapa yang berbahagia menyambut kedatangan bulan suci Ramadan maka diharamkan jasadnya tersentuh api neraka. Sungguh sebuah jaminan amat mulia yang dijanjikan Baginda Nabi bagi kaum muslimin yang bahagia menyambut Ramadan.

Dalam khazanah sufistik bulan Ramadan seringkali disebut sebagai madrasah ruhaniyah, yakni sebuah media edukasi yang berorientasi memberikan nutrisi ruhani secara sistemik dan holistik, untuk peningkatan kualitas iman dan taqwa serta penjagaan kaum muslimin dari segala jebakan dan jeratan kemaksiatan.

Posisi keimanan manusia adalah fluktuatif yakni ada kalanya naik dan ada kalanya turun. Baginda nNabi menegaskan “al-imanu yajidu wayanqusu”. Sekaitan dengan fluktuasi iman ini, para ulama tauhid membagi iman manusia itu dalam lima kategori; Pertama iman matbu, yakni iman yang menjadi tabiat, iman yang menjadi karakter atau iman yang menjadi potensi.

Iman ini adalah derajat iman tertinggi, yakni imannya para malaikat. Mereka sebagaimana dijelaskan al-Qur’an, “wayaf’aluna maa yu’marun” selalu mengerjakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dengan “sami’na wa’atho’na bila kaifa”, yakni mendengar dan mentaati tanpa argumentasi.

Kedua iman ma’sum, yakni iman yang terjaga. Iman ini miliknya para nabi dan rasul. Keimanan mereka kepada Allah terjaga dari segala kemusrikan, terjaga dari segala kemunafikan dan terjaga dari segala sifat-sifat rendahan lainnya. Sama halnya dengan iman matbu, iman ma’sum adalah derajat iman tertingi.

Ketiga iman maqbul, yakni iman yang diterima. Iman ini merupakan kolaborasi sinergis antara ilmu dengan amal. Jika kita mengharap memiliki iman maqbul , maka keimanan kita kepada Allah harus disertai dengan ilmu tentang esensi, eksistensi dan transfigurasi Allah. Lebih jauh keimanan kita kepada Allah harus disertai dengan amalnya. Begitupun keimananya kepada Rasululloh harus merupakan kolaborasi antara ilmu tentang eksistensi Rasululloh dan amal, yakni setia mengikuti sunnahnya. Singkatnya iman maqbul ini adalah imannya mukmin sejati.Sekaitan dengan itu, dalam khazanah sosio-kultural kita diintrodusir ada tiga kualitas mu’min, yakni mukmin pedati, mukmin merpati dan mukmin sejati.

Mukmin pedati adalah mukmin yang pasif. Layaknya pedati, ia hanya bisa maju kalau ada kuda yang menariknya. Kalau mukmin merpati adalah mukmin yang keimanannya sangat tergantung pada stimulus material. Keimanannya sangat ditentukan oleh iming-iming materi. Lihat saja merpati ia akan dekat dengan kita kalau kita lempari makanan, jika makanan sudah habis dia akan terbang tinggi.Mukmin yang keimanannya tidak tergantung pada dorongan dan tarikan orang lain serta stimulus material adalah mukmin sejati. Dialah pemilik iman maqbul sebagai iman tertinggi setelah para malaikat dan nabi.

Keempat iman mauquf yakni iman yang diragukan. Iman ini adalah kualitas iman yang tidak disertai dengan ilmunya. Karena itu adakalanya keimanan kepada Allah dikolaborasi dengan keimanan kepada selain Allah. Disatu sisi dia iman kepada Allah namun disisi lain diapun iman kepada dukun.

Disatu sisi dia percaya kepada Allah, tapi di sisi lain diapun amat kagum pada ramalan paul si gurita ajaib pada momen world cup kemarin. Iman ini adalah imannya orang-orang awam, yakni orang-orang yang tidak cinta pada ilmu dan tafakur.

Kelima iman mardud, yakni iman yang ditolak. Iman ini adalah iman milik orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang “idzharul imani billisani wa kitmanul kufri bilqolbi”, menampakan keimanan dalam lisannya namun menyembunyikan kekufuran dalam hatinya. Orang munafik kata baginda nabi lebih berbahaya dari pada orang kafir.

Sekaitan denga derajat iman ini, sebagai madrasah ruhaniyah bulan suci Ramadan akan menghantarkan ummat Islam melakukan evolusi bahkan revolusi sistemik keimanan. Dari iman derajat terendah, yakni iman mardud (iman tertolak) menuju iman mauquf (iman yang diragukan), kemudian dari mauquf menuju maqbul (iman yang di terima), bahkan tidak menutup kemungkinan mi’raj dari maqbul menuju ma’sum (iman yang terjaga, seperti para nabi) dan matbu (iman yang menjadi karakter, seperti malaikat)

Ramadan dan Peningkatan Kualitas KetaqwaanSudah sangat mafhum dan ma’lum bahwa ultimate goal dari ibadah Ramadan adalah melahirkan mukmin yang bertaqwa kepada Allah. Secara organik, Allah memberikan dua potensi kontradiktif kepada manusia sekaligus, yakni ilham fujur (potensi hawa nafsu) dan ilham taqwa (potensi kebaikan), “fa’alhamaha fuzuroha wa taqwaha”.

Hidup manusia pada hakikatnya adalah interaksi dominative atau pertarungan antara potensi kebaikan dan potensi hawa nafsu. Hakikat taqwa adalah menjadikan potensi kebaikan panglima atas potensi hawa nafsu.Pada ranah operasional menjadikan potensi kebaikan panglima atas potensi hawanafsu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, namun kata Imam Ali yakini juga tidak sesulit memindahkan rembulan ke pangkuan tangan. Rumus sederhananya, potensi kebaikan kita harus mendapat supley nutrsi dan energy.

Bulan Ramadan melalui serangkaian ibadah di dalamnya khsususnya qiyamu Ramadan (sholat taraweh) adalah media dialog imajiner dan komunikasi transcendental antara kita dengan Allah, yang memberikan nutrisi kepada potensi kebaikan untuk memiliki inner energy bahkan inner power untuk bisa mengendalikan potensi hawa nafsu. Bagi mereka yang komitmen mendirikan qiyamu ramadhan maka sudah bisa diprediksi mereka akan memiliki kualitas ketaqwaan.

Pada bulan Ramadan ini sejatinya kita berharap benar-benar menjadi madrasah ruhaniyah, sehingga pada akhir Ramadan nanti kita akan menjadi wisudawan Allah di madrasah ruhaniyah, yang memiliki kualifikasi iman dan taqwa serta manusia yang terjaga dari segala malapetaka kemaksiatan. Semoga. Wallahu’alam.

Aang Ridwan, Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Galamedia Jumat, 19 Juni 2015 | 08:52 

 

WIB