UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Rahasia Mendidik Anak

Kang Karim hanya lulusan Madrasah Mu’allimin (Sekolah Guru). Kami sekolah di Madrasah yang sama, tetapi Kang Karim dua tahun di atas saya. Lulus dari Mu’allimin, Kang Karim diangkat menjadi Guru Agama Negeri (PNS) di kota kelahiran kami. Istrinya jebolan pesantren tradisional yang tidak mengenal ijazah, dan selepas mesantren dia mengabdikan diri menjadi guru ngaji bagi anak-anak yang datang ke rumahnya.

Mereka bedua dianugerahi lima orang anak: dua perempuan dan tiga lelaki. Salah seorang anak perempuannya menjadi dosen negeri, dan yang satu lagi menjadi guru agama negeri (PNS) di SD. Ada pun ketiga anaknya yang lelaki, yang paling besar menjadi pegawai bank di Kabupaten, yang seorang lagi menjadi karyawan PLN, dan Si Bungsu, yang paling ganteng di antara ketiga anak lelakinya, baru saja diterima menjadi CPNS di Pemda. Untuk ukuran kampung kami, itu sudah luar biasa, apalagi jika anak-anaknya taat beribadah.

Itu sebabnya, maka sudah lama sekali saya ingin bertanya kepada Kang Karim tentang rahasia keberhasilannya mendidik anak-anaknya. Tetapi saya baru bisa bersilaturahmi dengan Senior saya itu sesudah beberapa tahun tidak berkunjung ke rumahnya.

Ketika kami bertemu, Kang Karim memeluk saya rapat sekali. Sepertinya dia sangat rindu kepada saya. Lalu, sesudah bernostalgia tentang madrasah kami dan kawan-kawan sepermainan kami dulu, saya pun bertanya tentang rahasia itu. Tetapi Kang Karim hanya menjawab dengan senyum-simpul sambil berkerut dahi, seakan-akan sedang mencari-cari jawaban yang begitu sulit dia temukan.

Ternyata jawaban yang saya tunggu-tunggu tidak muncul. Yang ada cuma tawa lirihnya. Sesudah ngobrol lagi ke sana ke mari, saya kembali mendesak Kang Karim untuk membeberkan rahasia suksesnya. Alhamdulillah dia menjawab. Begini jawabannya, “Ah, nggak ada apa-apanya, ya biasa-biasa saja, kayak sampeyan gitu…”
Kang Karim, Kang Karim, kalau memang “kayak saya”, ngapain saya harus nanya-nanya segala?

Walhasil, sampai saya pamit kepada kedua suami-isteri yang saya kagumi itu, saya cuma mendapat jawaban, “ ya, kayak sampeyan gitu…”

Saya baru mendapat kemungkinan jawaban yang saya anggap lebih mendekati kebenaran, ketika saya bertanya kepada Cak Toha, saat kami selesi shalat Zhuhur berjam’ah di masjid kecil di kampung kami.

Tentang kunci keberhasilan Kang Karim, Cak Toha mengatakan, “Menurutku, mereka berhasil karena rizki yang mereka makan halal….” [Afif Muhammad]