UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Puasa dan Kemerdekaan

Ibadah puasa tahun ini terasa berbeda. Senyatanya,umat Islam Indonesia akan menjalani shaum sekaligus memperingati kemerdekaan Ri yang ke-66. Dan fakta tersebut,menguak lembaran manis masa lalu,saat pekik proklamasi dikumandangkan saat bulan ramadhan pula.

Melihat waktu, mungkin saja orang bergumam bahwa ‘kebetulan’ saja dulu proklamasi terjadi saat ramadhan,seperti yang diyakini M.C. Ricklefs sejarahwan dari Universitas Nasional Singapore menerangkan dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:444-445) bersatunya peristiwa penting antara kemerdekaan RI ke-1 (17 Agustus 1945) dengan peristiwa nuzulul Al-Qur’an (17 ramadhan) itu hanya kebetulan (accidental) semata.

Pertanyaan yang muncul dari seorang ilmuwan, di mana ia lebih banyak menjelaskan fenomena-fenomena alam berdasarkan logika keilmuan semata. Sulit menerima argumentasi transenden, apalagi berkaitan dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi luput dari kekuasaan dzat Yang Maha Tahu.

Seperti halnya kejadian tahun ini, di mana bertemunya kejadian 17 ramadhan dan 17 Agustus, memberikan nuansa yang berbeda bagi umat Islam Indonesia. Satu sisi ia akan menikmati sajian ramadhan dengan momentum turunnya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Sisi lain, ia akan berada pada fase kehidupan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Seorang muslim harus mampu memahami Alquran agar dapat diimplementasikan dengan baik. Pada saat yang sama, ia harus dapat mereflesikan sebagai bagian dari bangsa yang yang telah merdeka. Karenanya perlu telaah lebih dalam, kemampuan manusi yang telah diberikan keutamaan akal akan uji kedahsyatannya. Semakin baik ia menjalami hidup dan kehidupan sebagai seorang Muslim dan Bangsa Indonesia.

Bagi Nurcholish Madjid, bertemunya kedua peristiwa melalui buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan (1998) tidak kebetulan. Hakikatnya merupakan rencana Allah SWT (grand design Sang Khalik) secara sunatullah. Namun, secara kasat mata terlihat bersifat kebetulan bagaikan kisah dibuangnya Nabi Ismail AS bersama Siti Hajar (ibunya) ke Mekkah, yang berhasil menemukan sumur Zam-zam untuk bisa bertahan hidup. Air berkah itu pertama kali dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Pemaknaan tentang grand design Allah menjadi penting sebagai kajian seorang Muslim. Hal ini, kembali menguak distingsi yang tipis antara ikhtiar dan takdir.

Turunnya Alquran pada 17 Ramadhan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang dialami Rasulullah SAW, tentu telah berlangsung sekitar 14 abad lalu. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa pada 17 Agustus 1945, sebuah bangsa akan merdeka. Bukan saja peristiwa yang akan terjadi lama, untuk hari esok saja manusi tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagimana firman Alah yang artinya “Tidaklah seseorang tahu apa yang akan terjadi esok, dan akan di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya” Demikian halnya para founding father kita. Proses menuju kemerdekaan tentu menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan nyawa. Artinya, takdir yang terjadi bagi Bangsa Indonesia untuk mendafatkan kemerdekaannya, harus direbut dengan segalam macam iktiar yang luar biasa beratnya.

Oleh karena itu, kebermaknaan proklamasi RI pada bulan ramadhan bagi umat islam, tentu bukan kejadian yang kebetulan. Dalam catatan sejarah RI penentuan angka 17 itu tidak tanpa sebab. Sampai-sampai Bung Karno harus rela diasingkan ke Rengasdengklok Karawang.

Perdebatan penentuan hari kemerdekaan RI antara kalangan muda (Sukarni) dengan tua (Soekarno) tak terhindarkan lagi, yang digambarkan oleh Lasmidjah Hardi dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984: 61), “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.“Mengapa justru diambil tanggal 17, tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni,

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua sedang berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Kedua Alquran diturunkan tanggal 17 Ramadan, saat turunnya petunjuk bagi umat manusia. Ketiga, orang Islam salat 17 rakaat. Oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” jawab Bung Karno.

Ramadhan tentu bukan bulan biasa. Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Misalnya, ramadhan sebagai bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Kita melakukan ibadah di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Tantang hal itu, tentu saja tidak ada keraguan bagi umat Islam dimanapun adanya. Secara sosiologis, keutamaan Ramadhan tidak hanya dapat dinikmati oleh umat Islam semata. Bulan itu telah berbaur dengan segenap manusia dari berbagai penjuru, tanpa membedakan warna kulit dan bahasa. Akan tetapi, tentu saja keutamaan ramadhan secara hakiki hanya milik Muslim yang benar-benar melekukan shaumnya.

Bagi seorang muslim, tidak hanya persoalan mistik tentang angka-angka tersebut. Ada Dzat yangg mengatur mengapa proklamasi hadir pada ramadhana. Refleksi kita selaku muslim yg tengah menjalani ibadah puasa dan sebagai warga negara RI adalah;Pertama, memaknai shaum sebagai bagian integral dari pembentukan manusia paripurna. Proses hidup manusia harus mampu menyeimbangkan diri. Tidak terlena krn sdng superior,atau memelas karena inferior.

Kedua, shaum adalah salah satu bentuk dari kemerdekaan diri. Yakni bahwa tidak ada kemerdekaan yangg tanpa batas, semuanya harus ada aturannya. Tidak semena-mena, walaupun dalam kondisi yang sedang top performance.Ketiga, merdeka juga berarti harus menahan diri dalam konteks introspeksi. Setiap muslim yang merdeka, harus mampu menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.Keempat, mencapai takdir kemerdekaan dan turunnya Quran harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal.

Untuk itu, mari kita jadikan puasa Ramadhan tahun ini sebagai jalan untuk menuju hakikat kemerdekaan, yakni pengendalian diri dari segala sifat yang jelak.

Dr H Dindin Jamaluddin, Dosen Fak Tarbiyah UIN SGD Bandung dan Wakil Ketua ICMI Jabar

Sumber lenyepaneun Republika, 10 Agustus 2011

Ibadah puasa tahun ini terasa berbeda. Senyatanya,umat Islam Indonesia akan menjalani shaum sekaligus memperingati kemerdekaan Ri yang ke-66. Dan fakta tersebut,menguak lembaran manis masa lalu,saat pekik proklamasi dikumandangkan saat bulan ramadhan pula.

Melihat waktu, mungkin saja orang bergumam bahwa ‘kebetulan’ saja dulu proklamasi terjadi saat ramadhan,seperti yang diyakini M.C. Ricklefs sejarahwan dari Universitas Nasional Singapore menerangkan dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:444-445) bersatunya peristiwa penting antara kemerdekaan RI ke-1 (17 Agustus 1945) dengan peristiwa nuzulul Al-Qur’an (17 ramadhan) itu hanya kebetulan (accidental) semata.

Pertanyaan yang muncul dari seorang ilmuwan, di mana ia lebih banyak menjelaskan fenomena-fenomena alam berdasarkan logika keilmuan semata. Sulit menerima argumentasi transenden, apalagi berkaitan dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi luput dari kekuasaan dzat Yang Maha Tahu.

Seperti halnya kejadian tahun ini, di mana bertemunya kejadian 17 ramadhan dan 17 Agustus, memberikan nuansa yang berbeda bagi umat Islam Indonesia. Satu sisi ia akan menikmati sajian ramadhan dengan momentum turunnya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Sisi lain, ia akan berada pada fase kehidupan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Seorang muslim harus mampu memahami Alquran agar dapat diimplementasikan dengan baik. Pada saat yang sama, ia harus dapat mereflesikan sebagai bagian dari bangsa yang yang telah merdeka. Karenanya perlu telaah lebih dalam, kemampuan manusi yang telah diberikan keutamaan akal akan uji kedahsyatannya. Semakin baik ia menjalami hidup dan kehidupan sebagai seorang Muslim dan Bangsa Indonesia.

Bagi Nurcholish Madjid, bertemunya kedua peristiwa melalui buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan (1998) tidak kebetulan. Hakikatnya merupakan rencana Allah SWT (grand design Sang Khalik) secara sunatullah. Namun, secara kasat mata terlihat bersifat kebetulan bagaikan kisah dibuangnya Nabi Ismail AS bersama Siti Hajar (ibunya) ke Mekkah, yang berhasil menemukan sumur Zam-zam untuk bisa bertahan hidup. Air berkah itu pertama kali dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Pemaknaan tentang grand design Allah menjadi penting sebagai kajian seorang Muslim. Hal ini, kembali menguak distingsi yang tipis antara ikhtiar dan takdir.

Turunnya Alquran pada 17 Ramadhan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang dialami Rasulullah SAW, tentu telah berlangsung sekitar 14 abad lalu. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa pada 17 Agustus 1945, sebuah bangsa akan merdeka. Bukan saja peristiwa yang akan terjadi lama, untuk hari esok saja manusi tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagimana firman Alah yang artinya “Tidaklah seseorang tahu apa yang akan terjadi esok, dan akan di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya” Demikian halnya para founding father kita. Proses menuju kemerdekaan tentu menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan nyawa. Artinya, takdir yang terjadi bagi Bangsa Indonesia untuk mendafatkan kemerdekaannya, harus direbut dengan segalam macam iktiar yang luar biasa beratnya.

Oleh karena itu, kebermaknaan proklamasi RI pada bulan ramadhan bagi umat islam, tentu bukan kejadian yang kebetulan. Dalam catatan sejarah RI penentuan angka 17 itu tidak tanpa sebab. Sampai-sampai Bung Karno harus rela diasingkan ke Rengasdengklok Karawang.

Perdebatan penentuan hari kemerdekaan RI antara kalangan muda (Sukarni) dengan tua (Soekarno) tak terhindarkan lagi, yang digambarkan oleh Lasmidjah Hardi dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984: 61), “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.“Mengapa justru diambil tanggal 17, tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni,

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua sedang berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Kedua Alquran diturunkan tanggal 17 Ramadan, saat turunnya petunjuk bagi umat manusia. Ketiga, orang Islam salat 17 rakaat. Oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” jawab Bung Karno.

Ramadhan tentu bukan bulan biasa. Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Misalnya, ramadhan sebagai bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Kita melakukan ibadah di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Tantang hal itu, tentu saja tidak ada keraguan bagi umat Islam dimanapun adanya. Secara sosiologis, keutamaan Ramadhan tidak hanya dapat dinikmati oleh umat Islam semata. Bulan itu telah berbaur dengan segenap manusia dari berbagai penjuru, tanpa membedakan warna kulit dan bahasa. Akan tetapi, tentu saja keutamaan ramadhan secara hakiki hanya milik Muslim yang benar-benar melekukan shaumnya.

Bagi seorang muslim, tidak hanya persoalan mistik tentang angka-angka tersebut. Ada Dzat yangg mengatur mengapa proklamasi hadir pada ramadhana. Refleksi kita selaku muslim yg tengah menjalani ibadah puasa dan sebagai warga negara RI adalah;Pertama, memaknai shaum sebagai bagian integral dari pembentukan manusia paripurna. Proses hidup manusia harus mampu menyeimbangkan diri. Tidak terlena krn sdng superior,atau memelas karena inferior.

Kedua, shaum adalah salah satu bentuk dari kemerdekaan diri. Yakni bahwa tidak ada kemerdekaan yangg tanpa batas, semuanya harus ada aturannya. Tidak semena-mena, walaupun dalam kondisi yang sedang top performance.Ketiga, merdeka juga berarti harus menahan diri dalam konteks introspeksi. Setiap muslim yang merdeka, harus mampu menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.Keempat, mencapai takdir kemerdekaan dan turunnya Quran harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal.

Untuk itu, mari kita jadikan puasa Ramadhan tahun ini sebagai jalan untuk menuju hakikat kemerdekaan, yakni pengendalian diri dari segala sifat yang jelak.

Dr H Dindin Jamaluddin, Dosen Fak Tarbiyah UIN SGD Bandung dan Wakil Ketua ICMI Jabar

Sumber lenyepaneun Republika, 10 Agustus 2011

Ibadah puasa tahun ini terasa berbeda. Senyatanya,umat Islam Indonesia akan menjalani shaum sekaligus memperingati kemerdekaan Ri yang ke-66. Dan fakta tersebut,menguak lembaran manis masa lalu,saat pekik proklamasi dikumandangkan saat bulan ramadhan pula.

Melihat waktu, mungkin saja orang bergumam bahwa ‘kebetulan’ saja dulu proklamasi terjadi saat ramadhan,seperti yang diyakini M.C. Ricklefs sejarahwan dari Universitas Nasional Singapore menerangkan dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:444-445) bersatunya peristiwa penting antara kemerdekaan RI ke-1 (17 Agustus 1945) dengan peristiwa nuzulul Al-Qur’an (17 ramadhan) itu hanya kebetulan (accidental) semata.

Pertanyaan yang muncul dari seorang ilmuwan, di mana ia lebih banyak menjelaskan fenomena-fenomena alam berdasarkan logika keilmuan semata. Sulit menerima argumentasi transenden, apalagi berkaitan dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi luput dari kekuasaan dzat Yang Maha Tahu.

Seperti halnya kejadian tahun ini, di mana bertemunya kejadian 17 ramadhan dan 17 Agustus, memberikan nuansa yang berbeda bagi umat Islam Indonesia. Satu sisi ia akan menikmati sajian ramadhan dengan momentum turunnya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Sisi lain, ia akan berada pada fase kehidupan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Seorang muslim harus mampu memahami Alquran agar dapat diimplementasikan dengan baik. Pada saat yang sama, ia harus dapat mereflesikan sebagai bagian dari bangsa yang yang telah merdeka. Karenanya perlu telaah lebih dalam, kemampuan manusi yang telah diberikan keutamaan akal akan uji kedahsyatannya. Semakin baik ia menjalami hidup dan kehidupan sebagai seorang Muslim dan Bangsa Indonesia.

Bagi Nurcholish Madjid, bertemunya kedua peristiwa melalui buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan (1998) tidak kebetulan. Hakikatnya merupakan rencana Allah SWT (grand design Sang Khalik) secara sunatullah. Namun, secara kasat mata terlihat bersifat kebetulan bagaikan kisah dibuangnya Nabi Ismail AS bersama Siti Hajar (ibunya) ke Mekkah, yang berhasil menemukan sumur Zam-zam untuk bisa bertahan hidup. Air berkah itu pertama kali dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Pemaknaan tentang grand design Allah menjadi penting sebagai kajian seorang Muslim. Hal ini, kembali menguak distingsi yang tipis antara ikhtiar dan takdir.

Turunnya Alquran pada 17 Ramadhan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang dialami Rasulullah SAW, tentu telah berlangsung sekitar 14 abad lalu. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa pada 17 Agustus 1945, sebuah bangsa akan merdeka. Bukan saja peristiwa yang akan terjadi lama, untuk hari esok saja manusi tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagimana firman Alah yang artinya “Tidaklah seseorang tahu apa yang akan terjadi esok, dan akan di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya” Demikian halnya para founding father kita. Proses menuju kemerdekaan tentu menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan nyawa. Artinya, takdir yang terjadi bagi Bangsa Indonesia untuk mendafatkan kemerdekaannya, harus direbut dengan segalam macam iktiar yang luar biasa beratnya.

Oleh karena itu, kebermaknaan proklamasi RI pada bulan ramadhan bagi umat islam, tentu bukan kejadian yang kebetulan. Dalam catatan sejarah RI penentuan angka 17 itu tidak tanpa sebab. Sampai-sampai Bung Karno harus rela diasingkan ke Rengasdengklok Karawang.

Perdebatan penentuan hari kemerdekaan RI antara kalangan muda (Sukarni) dengan tua (Soekarno) tak terhindarkan lagi, yang digambarkan oleh Lasmidjah Hardi dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984: 61), “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.“Mengapa justru diambil tanggal 17, tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni,

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua sedang berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Kedua Alquran diturunkan tanggal 17 Ramadan, saat turunnya petunjuk bagi umat manusia. Ketiga, orang Islam salat 17 rakaat. Oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” jawab Bung Karno.

Ramadhan tentu bukan bulan biasa. Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Misalnya, ramadhan sebagai bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Kita melakukan ibadah di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Tantang hal itu, tentu saja tidak ada keraguan bagi umat Islam dimanapun adanya. Secara sosiologis, keutamaan Ramadhan tidak hanya dapat dinikmati oleh umat Islam semata. Bulan itu telah berbaur dengan segenap manusia dari berbagai penjuru, tanpa membedakan warna kulit dan bahasa. Akan tetapi, tentu saja keutamaan ramadhan secara hakiki hanya milik Muslim yang benar-benar melekukan shaumnya.

Bagi seorang muslim, tidak hanya persoalan mistik tentang angka-angka tersebut. Ada Dzat yangg mengatur mengapa proklamasi hadir pada ramadhana. Refleksi kita selaku muslim yg tengah menjalani ibadah puasa dan sebagai warga negara RI adalah;Pertama, memaknai shaum sebagai bagian integral dari pembentukan manusia paripurna. Proses hidup manusia harus mampu menyeimbangkan diri. Tidak terlena krn sdng superior,atau memelas karena inferior.

Kedua, shaum adalah salah satu bentuk dari kemerdekaan diri. Yakni bahwa tidak ada kemerdekaan yangg tanpa batas, semuanya harus ada aturannya. Tidak semena-mena, walaupun dalam kondisi yang sedang top performance.Ketiga, merdeka juga berarti harus menahan diri dalam konteks introspeksi. Setiap muslim yang merdeka, harus mampu menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.Keempat, mencapai takdir kemerdekaan dan turunnya Quran harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal.

Untuk itu, mari kita jadikan puasa Ramadhan tahun ini sebagai jalan untuk menuju hakikat kemerdekaan, yakni pengendalian diri dari segala sifat yang jelak.

Dr H Dindin Jamaluddin, Dosen Fak Tarbiyah UIN SGD Bandung dan Wakil Ketua ICMI Jabar

Sumber lenyepaneun Republika, 10 Agustus 2011

Ibadah puasa tahun ini terasa berbeda. Senyatanya,umat Islam Indonesia akan menjalani shaum sekaligus memperingati kemerdekaan Ri yang ke-66. Dan fakta tersebut,menguak lembaran manis masa lalu,saat pekik proklamasi dikumandangkan saat bulan ramadhan pula.

Melihat waktu, mungkin saja orang bergumam bahwa ‘kebetulan’ saja dulu proklamasi terjadi saat ramadhan,seperti yang diyakini M.C. Ricklefs sejarahwan dari Universitas Nasional Singapore menerangkan dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:444-445) bersatunya peristiwa penting antara kemerdekaan RI ke-1 (17 Agustus 1945) dengan peristiwa nuzulul Al-Qur’an (17 ramadhan) itu hanya kebetulan (accidental) semata.

Pertanyaan yang muncul dari seorang ilmuwan, di mana ia lebih banyak menjelaskan fenomena-fenomena alam berdasarkan logika keilmuan semata. Sulit menerima argumentasi transenden, apalagi berkaitan dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi luput dari kekuasaan dzat Yang Maha Tahu.

Seperti halnya kejadian tahun ini, di mana bertemunya kejadian 17 ramadhan dan 17 Agustus, memberikan nuansa yang berbeda bagi umat Islam Indonesia. Satu sisi ia akan menikmati sajian ramadhan dengan momentum turunnya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Sisi lain, ia akan berada pada fase kehidupan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Seorang muslim harus mampu memahami Alquran agar dapat diimplementasikan dengan baik. Pada saat yang sama, ia harus dapat mereflesikan sebagai bagian dari bangsa yang yang telah merdeka. Karenanya perlu telaah lebih dalam, kemampuan manusi yang telah diberikan keutamaan akal akan uji kedahsyatannya. Semakin baik ia menjalami hidup dan kehidupan sebagai seorang Muslim dan Bangsa Indonesia.

Bagi Nurcholish Madjid, bertemunya kedua peristiwa melalui buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan (1998) tidak kebetulan. Hakikatnya merupakan rencana Allah SWT (grand design Sang Khalik) secara sunatullah. Namun, secara kasat mata terlihat bersifat kebetulan bagaikan kisah dibuangnya Nabi Ismail AS bersama Siti Hajar (ibunya) ke Mekkah, yang berhasil menemukan sumur Zam-zam untuk bisa bertahan hidup. Air berkah itu pertama kali dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Pemaknaan tentang grand design Allah menjadi penting sebagai kajian seorang Muslim. Hal ini, kembali menguak distingsi yang tipis antara ikhtiar dan takdir.

Turunnya Alquran pada 17 Ramadhan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang dialami Rasulullah SAW, tentu telah berlangsung sekitar 14 abad lalu. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa pada 17 Agustus 1945, sebuah bangsa akan merdeka. Bukan saja peristiwa yang akan terjadi lama, untuk hari esok saja manusi tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagimana firman Alah yang artinya “Tidaklah seseorang tahu apa yang akan terjadi esok, dan akan di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya” Demikian halnya para founding father kita. Proses menuju kemerdekaan tentu menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan nyawa. Artinya, takdir yang terjadi bagi Bangsa Indonesia untuk mendafatkan kemerdekaannya, harus direbut dengan segalam macam iktiar yang luar biasa beratnya.

Oleh karena itu, kebermaknaan proklamasi RI pada bulan ramadhan bagi umat islam, tentu bukan kejadian yang kebetulan. Dalam catatan sejarah RI penentuan angka 17 itu tidak tanpa sebab. Sampai-sampai Bung Karno harus rela diasingkan ke Rengasdengklok Karawang.

Perdebatan penentuan hari kemerdekaan RI antara kalangan muda (Sukarni) dengan tua (Soekarno) tak terhindarkan lagi, yang digambarkan oleh Lasmidjah Hardi dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984: 61), “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.“Mengapa justru diambil tanggal 17, tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni,

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua sedang berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Kedua Alquran diturunkan tanggal 17 Ramadan, saat turunnya petunjuk bagi umat manusia. Ketiga, orang Islam salat 17 rakaat. Oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” jawab Bung Karno.

Ramadhan tentu bukan bulan biasa. Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Misalnya, ramadhan sebagai bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Kita melakukan ibadah di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Tantang hal itu, tentu saja tidak ada keraguan bagi umat Islam dimanapun adanya. Secara sosiologis, keutamaan Ramadhan tidak hanya dapat dinikmati oleh umat Islam semata. Bulan itu telah berbaur dengan segenap manusia dari berbagai penjuru, tanpa membedakan warna kulit dan bahasa. Akan tetapi, tentu saja keutamaan ramadhan secara hakiki hanya milik Muslim yang benar-benar melekukan shaumnya.

Bagi seorang muslim, tidak hanya persoalan mistik tentang angka-angka tersebut. Ada Dzat yangg mengatur mengapa proklamasi hadir pada ramadhana. Refleksi kita selaku muslim yg tengah menjalani ibadah puasa dan sebagai warga negara RI adalah;Pertama, memaknai shaum sebagai bagian integral dari pembentukan manusia paripurna. Proses hidup manusia harus mampu menyeimbangkan diri. Tidak terlena krn sdng superior,atau memelas karena inferior.

Kedua, shaum adalah salah satu bentuk dari kemerdekaan diri. Yakni bahwa tidak ada kemerdekaan yangg tanpa batas, semuanya harus ada aturannya. Tidak semena-mena, walaupun dalam kondisi yang sedang top performance.Ketiga, merdeka juga berarti harus menahan diri dalam konteks introspeksi. Setiap muslim yang merdeka, harus mampu menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.Keempat, mencapai takdir kemerdekaan dan turunnya Quran harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal.

Untuk itu, mari kita jadikan puasa Ramadhan tahun ini sebagai jalan untuk menuju hakikat kemerdekaan, yakni pengendalian diri dari segala sifat yang jelak.

Dr H Dindin Jamaluddin, Dosen Fak Tarbiyah UIN SGD Bandung dan Wakil Ketua ICMI Jabar

Sumber lenyepaneun Republika, 10 Agustus 2011

Ibadah puasa tahun ini terasa berbeda. Senyatanya,umat Islam Indonesia akan menjalani shaum sekaligus memperingati kemerdekaan Ri yang ke-66. Dan fakta tersebut,menguak lembaran manis masa lalu,saat pekik proklamasi dikumandangkan saat bulan ramadhan pula.

Melihat waktu, mungkin saja orang bergumam bahwa ‘kebetulan’ saja dulu proklamasi terjadi saat ramadhan,seperti yang diyakini M.C. Ricklefs sejarahwan dari Universitas Nasional Singapore menerangkan dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008:444-445) bersatunya peristiwa penting antara kemerdekaan RI ke-1 (17 Agustus 1945) dengan peristiwa nuzulul Al-Qur’an (17 ramadhan) itu hanya kebetulan (accidental) semata.

Pertanyaan yang muncul dari seorang ilmuwan, di mana ia lebih banyak menjelaskan fenomena-fenomena alam berdasarkan logika keilmuan semata. Sulit menerima argumentasi transenden, apalagi berkaitan dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi luput dari kekuasaan dzat Yang Maha Tahu.

Seperti halnya kejadian tahun ini, di mana bertemunya kejadian 17 ramadhan dan 17 Agustus, memberikan nuansa yang berbeda bagi umat Islam Indonesia. Satu sisi ia akan menikmati sajian ramadhan dengan momentum turunnya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Sisi lain, ia akan berada pada fase kehidupan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Seorang muslim harus mampu memahami Alquran agar dapat diimplementasikan dengan baik. Pada saat yang sama, ia harus dapat mereflesikan sebagai bagian dari bangsa yang yang telah merdeka. Karenanya perlu telaah lebih dalam, kemampuan manusi yang telah diberikan keutamaan akal akan uji kedahsyatannya. Semakin baik ia menjalami hidup dan kehidupan sebagai seorang Muslim dan Bangsa Indonesia.

Bagi Nurcholish Madjid, bertemunya kedua peristiwa melalui buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan (1998) tidak kebetulan. Hakikatnya merupakan rencana Allah SWT (grand design Sang Khalik) secara sunatullah. Namun, secara kasat mata terlihat bersifat kebetulan bagaikan kisah dibuangnya Nabi Ismail AS bersama Siti Hajar (ibunya) ke Mekkah, yang berhasil menemukan sumur Zam-zam untuk bisa bertahan hidup. Air berkah itu pertama kali dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Pemaknaan tentang grand design Allah menjadi penting sebagai kajian seorang Muslim. Hal ini, kembali menguak distingsi yang tipis antara ikhtiar dan takdir.

Turunnya Alquran pada 17 Ramadhan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang dialami Rasulullah SAW, tentu telah berlangsung sekitar 14 abad lalu. Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa pada 17 Agustus 1945, sebuah bangsa akan merdeka. Bukan saja peristiwa yang akan terjadi lama, untuk hari esok saja manusi tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagimana firman Alah yang artinya “Tidaklah seseorang tahu apa yang akan terjadi esok, dan akan di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya” Demikian halnya para founding father kita. Proses menuju kemerdekaan tentu menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan nyawa. Artinya, takdir yang terjadi bagi Bangsa Indonesia untuk mendafatkan kemerdekaannya, harus direbut dengan segalam macam iktiar yang luar biasa beratnya.

Oleh karena itu, kebermaknaan proklamasi RI pada bulan ramadhan bagi umat islam, tentu bukan kejadian yang kebetulan. Dalam catatan sejarah RI penentuan angka 17 itu tidak tanpa sebab. Sampai-sampai Bung Karno harus rela diasingkan ke Rengasdengklok Karawang.

Perdebatan penentuan hari kemerdekaan RI antara kalangan muda (Sukarni) dengan tua (Soekarno) tak terhindarkan lagi, yang digambarkan oleh Lasmidjah Hardi dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984: 61), “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno.“Mengapa justru diambil tanggal 17, tidak sekarang saja, tanggal 16?” tanya Sukarni,

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua sedang berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Kedua Alquran diturunkan tanggal 17 Ramadan, saat turunnya petunjuk bagi umat manusia. Ketiga, orang Islam salat 17 rakaat. Oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” jawab Bung Karno.

Ramadhan tentu bukan bulan biasa. Banyak dalil yang menjelaskan keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Misalnya, ramadhan sebagai bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk paripurna bagi umat manusia. Kita melakukan ibadah di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Tantang hal itu, tentu saja tidak ada keraguan bagi umat Islam dimanapun adanya. Secara sosiologis, keutamaan Ramadhan tidak hanya dapat dinikmati oleh umat Islam semata. Bulan itu telah berbaur dengan segenap manusia dari berbagai penjuru, tanpa membedakan warna kulit dan bahasa. Akan tetapi, tentu saja keutamaan ramadhan secara hakiki hanya milik Muslim yang benar-benar melekukan shaumnya.

Bagi seorang muslim, tidak hanya persoalan mistik tentang angka-angka tersebut. Ada Dzat yangg mengatur mengapa proklamasi hadir pada ramadhana. Refleksi kita selaku muslim yg tengah menjalani ibadah puasa dan sebagai warga negara RI adalah;Pertama, memaknai shaum sebagai bagian integral dari pembentukan manusia paripurna. Proses hidup manusia harus mampu menyeimbangkan diri. Tidak terlena krn sdng superior,atau memelas karena inferior.

Kedua, shaum adalah salah satu bentuk dari kemerdekaan diri. Yakni bahwa tidak ada kemerdekaan yangg tanpa batas, semuanya harus ada aturannya. Tidak semena-mena, walaupun dalam kondisi yang sedang top performance.Ketiga, merdeka juga berarti harus menahan diri dalam konteks introspeksi. Setiap muslim yang merdeka, harus mampu menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.Keempat, mencapai takdir kemerdekaan dan turunnya Quran harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal.

Untuk itu, mari kita jadikan puasa Ramadhan tahun ini sebagai jalan untuk menuju hakikat kemerdekaan, yakni pengendalian diri dari segala sifat yang jelak.

Dr H Dindin Jamaluddin, Dosen Fak Tarbiyah UIN SGD Bandung dan Wakil Ketua ICMI Jabar

Sumber lenyepaneun Republika, 10 Agustus 2011