UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Puasa dan Kebajikan Sosial

Bulan Ramadan selalu dinanti dan ditunggu umat Islam karena penuh dengan kebajikan yang membahagiakan. Pada bulan tersebut tingkat kebajikan kaum Muslimin meningkat drastis bila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Kaum aghniya (baca: kaya) lebih memperhatikan kaum miskin yang ada di sekitar. Ikatan emosional terjalin secara menakjubkan karena setiap individu ingin mendapatkan barokah serta  kemuliaan di bulan penuh ampunan. Karenanya, kendati harga beberapa bahan pokok  drastis, dan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak masih terasa,  tidak menghalangi umat Islam untuk menyambut gembira kedatangan bulan puasa ini. 

Kaum Muslimin  meramaikan bulan suci Ramadan dengan memperbanyak ibadah bukan hanya berpuasa dan sholat malam tetapi juga dianjurkan melakukan ibadah yang berdimensi sosial. Kepedulian, kebajikan, dan keramahtamahan harus menjadi bagian aktivitas harian dalam mengisi bulan seribu bulan ini. Ramainya simbol Islam, indahnya iklim religiusitas, dan membludaknya jamaah di masjid,  tak seharusnya melupakan diri kita dari penderitaan sesama yang sedang kesulitan. Inti  diwajibkannya ibadah puasa, untuk meningkatkan kepedulian dan empati terhadap kesulitan sesama manusia sehingga mampu membentuk pribadi shaleh baik ritual maupun  secara sosial. 

Islam adalah agama kebajikan, dan sepatutnya kaum Muslimin berbagi kebahagiaan dengan sesama, tanpa dibatasi agama dan ideologi. Artinya, siapa pun orangnya, tatkala mereka membutuhkan pertolongan, saat itu pula kita berupaya sekuat tenaga menjadi penolong bagi mereka. Ibadah puasa dapat mengantarkan kita untuk  membiasakan berprilaku positif. Kalau  pada bulan puasa orang bisa bersungguh-sungguh menjalankan perbuatan bajik (amal shaleh) maka dapat dipastikan yang bersangkutan bisa menciptakan langgengnya perbuatan kebajikan selama hidupnya. 

Nilai kebajikan  

Puasa atau shaum mengajarkan kita untuk menebarkan kebajikan dalam aktus hidup keseharian. Kebajikan ialah kritalisasi dari refleksi seorang hamba terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kebajikan menjadi salah satu landasan  Islam hadir di muka bumi dan  menjadi “rahmat” bagi alam semesta. Karenanya, di dalam perspektif etika sosial, umat Islam merupakan “agent of change” yang harus terus-menerus belajar menjadi “manusia bajik” di tengah-tengah kehidupan sosial. Dengan inilah maka eksistensi dirinya di lingkungan sekitar memiliki manfaat, dengan perilaku luhung, seperti berzakat, berderma, sedekah, adil, dan membina relasi harmonis dengan sesama. 

Idealisme kebajikan dapat terlihat saat menyaksikan kemiskinan merajalela, di mana ketika itu pula hati nurani terjentik sehingga lahir empati, yang dengan segenap akal dan jiwa, bersungguh-sungguh melakukan upaya pembebasan (liberasi). Orang yang berpuasa dengan akal dan hati akan memahami kehidupan sebagai kanal melaksanakan amal shaleh, berbuat bajik, dan menyebarkannya agar dapat membahagiakan manusia lain. 

Shaum pada bulan Ramadan, tentunya, mengajarkan manusia pentingnya membina relasi harmonis dan membebaskan. Dengan inilah, maka kebahagiaan yang kita miliki akan menjadi milik orang lain. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan makan orang miskin,” (QS. Al-Mau’n [107]: 1-3). 

Ketika seseorang bertemu dengan warga miskin, kemudian berupaya meringankan  kemiskinannya, ketika itu pula dia telah mengejawantahkan ajaran kebajikan yang terkandung di dalam Islam. Kebajikan yang diberikan kepada sesama manusia inilah yang disebut dengan kebajikan sosial, di mana hal tersebut menjadi faktor utama tewujudnya masyarakat sejahtera.   

Ketika di dalam keseharian terejawantah kebajikan sosial, maka kebahagiaan bukan saja saat kita mendapatkan apapun yang kita idam dan inginkan, atau mencapai target yang kita buat (kebajikan individual). Tetapi lebih dari itu kebahagiaan harus mencakup lingkungan sosiologis, dimana kebahagiaan dan senyum kita tatkala melihat orang lain mendapatkan senyuman kebahagiaan, atau saat kita mampu secara maksimal membantu orang lain menuntaskan dan menyeka kesedihan dan kepahitan hidupnya. Inilah tingkat tertinggi kebajikan yang dihasilkan ibadah puasa pada bulan Ramadan. 

Kemuliaan diri

Dalam perspektif Islam, seorang manusia mesti mencapai dua tangga kemuliaan untuk menjadikan diri sebagai manusia bijak dan makhluk bajik. Pertama, dirinya harus terus-menerus berusaha mengenali hakikat diri, potensi, dan bakat dengan usaha pencarian yang tidak pernah berhenti. Sebab, selama nafas dikandung badan, selama itu pula dirinya harus piawai menggerakkan mata batinnya untuk memperoleh pencerahan diri. Hakikat dirinya sebagai seorang khalifah fi al-ardh dapat terbuka lebar ketika detik demi detik dari kehidupannya digunakan untuk melakukan refleksi eksistensial ikhwal “siapakah aku” dan “bagaimana aku seharusnya” dalam kehidupan ini. 

Kedua, ketika mampu mengenal sisi eksistensial kemanusiaannya, sekuat tenaga mempraktikkan pengetahuan untuk pengembangan diri dan orang lain. Dalam bahasa lain, mengamalkan setiap ilmu pengetahuan yang diketahui. Tujuannya, agar di antara manusia saling berbagi manfaat hidup satu sama lain. Dalam khazanah Islam dikenal doktrin, ”khairunnaas anfauhum linnaas”, yakni manusia terbaik itu ialah manusia yang memberikan manfaat untuk manusia lain. 

Jadi, ibadah puasa yang dilaksanakan tidak hanya berkutat menahan diri dari rasa lapar dan dahaga an sich; tetapi juga menahan diri untuk tidak serakah dengan berupaya mengenal hakikat kemanusiaan di dalam diri. Dalam konteks ini, puasa akan dijadikan sebagai prosesi aktif menemukan posisi eksistensi diri di tengah kehidupan masyarakat sekitar. Sehingga nilai kolektif terbangun ketika kita mampu menangkap hakikat kemanusiaan  dalam melaksanakan ibadah puasa.  

Akhirulkalam, praktik ibadah puasa dapat menciptakan nilai-nilai etika, moral, dan kebajikan sosial. Dengan ibadah puasa yang dilaksanakan satu bulan penuh, jalinan relasi dinamis antar individu dalam kesatuan sosial terjalin kekuatan kolektiva-individualitas (qawm-nafs), di mana setiap manusia mengoptimalkan potensi positif untuk melakukan kerjasama menuju perubahan lebih baik. Insyaallah, tidak ada egosentritas, individualitas, dan tidak ada lagi tempat bagi berkembangnya keserakahan diri.[]

 

Dadang Kahmad, Guru Besar Sosiologi Agama, Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung.

 

Sumber, Pikiran Rakyat 18 Juli 2013