UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

PTKIN Jadi Pusat Moderasi

[www.uinsgd.ac.id] Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak civitas akademika untuk menjadikan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai pusat moderasi. Maksudnya, menjadikannya sebagai pusat kajian dan diseminasi ajaran Islam yang mengusung paham moderat.

Pusat moderasi ini penting untuk bersama-sama melakukan gerakan deradikalisasi dan menghentikan potensi disintegrasi bangsa sekarang. Sekjen Kemenag Nur Syam mengatakan bahwa setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan PTKIN.

Pertama, membangun struktur di lembaga pendidikan tinggi, seperti pusat atau center khusus yang di antara kewenangannya adalah melakukan sosialisasi, komunikasi, koordinasi dan aksi untuk melawan upaya distintegrasi bangsa.”Lembaga non-stuktural ini dapat melakukan kajian, penelitian, dan merancang strategi untuk gerakan aksi counter potensi disintegrasi bangsa,” ujarnya saat menjadi narasumber pada Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Selasa (24/01).

Hadir juga sebagai narasumber, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin. Selain Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bachtiar, FGD ini diikuti sejumlah rektor IAIN/UIN dan Ketua STAIN se Indonesia.

Hal kedua yang perlu dilakukan adalah melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah sebagai mitra strategis dalam melakukan aksi. Lembaga tersebut antara lain BIN, BAIS, BNPT, dan mitra strategis luar negeri yang memiliki visi dan misi sama untuk membangun moderasi agama di Indonesia.”Sesungguhnya, jika semua Kementerian atau Lembaga Negara dan lembaga non structural berseirama melakukan hal yang sama, maka akan dapat menjadi kekuatan yang besar untuk melawan gerakan yang akan mengoyak kebinekaan dan keberagamaan kita,” ujar mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Ketiga, menggerakkan agen strategis untuk melawan hoax dalam cyber war. Menurut Nur Syam, perguruan tinggi memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Dengan SDM ahli IT, dosen, dan mahasiswa, PTKIN memiliki kekuatan untuk menjadi penyeimbang berbagai berita yang bercorak disinformatif.”Lakukan kajian mendalam sebelum melakukan counter balance terhadap berita-berita hoax sehingga akan memiliki kekuatan pengaruh yang signifikan,” ujarnya.

“Dengan cara ini, berbagai jenis berita yang bercorak disinformatif, fitnah, kebencian dan juga pembunuhan karakter bisa diimbangi. Semakin banyak orang yang memiliki sikap kritis terhadap hoax, semakin banyak cara cerdas untuk menyikapinya,” tambahnya.

Nur Syam berharap perguruan tinggi dapat mengambil peran ini, menjadi penyeimbang dan kekuatan penangkal merebaknya potensi disintegrative bangsa. Keutuhahan NKRI menurutnya menjadi harga mati yang harus terus dijaga untuk masa depan bangsa.

“PTKIN diharapkan menjadi lokomotif bagi penegakan pilar consensus kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan keberagaman. Kita semua percaya bahwa PTKIN akan menjadi pusat bagi upaya penaggulangan hal ini,” tandasnya. (ns/mkd/mkd)

Sumber, Kemenag Kamis, 26 Januari 2017, 13:41