UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Prof Najib: Berpuasalah Sesuai Prosedur!

[www.uinsgd.ac.id] Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat Prof Dr HM Najib mengajak seluruh umat Islam agar melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan benar. Ini penting karena puasa bisa mengubah sifat, sikap, dan prilaku umat menjadi lebih baik.

Menurur Prof Najib, puasa adalah upaya menahan diri dari makan, minum, dan perkara-perkara yang membatalkan puasa, hingga terbentuk individu yang fitri dan sempurna. Tetapi mengapa di masyarakat, masih banyak yang melakukan maksiat. “Itu karena ada prosedur yang tidak ditempuh, sehingga seorang tidak mendapatkan substansi nilai dari ibadah puasa, tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus,” jelas dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN SGD Bandung ini.

Menahan makan dan minum saja tidak cukup, tetapi ada yang lebih penting dari puasa ini, yaitu prosedur puasa yang tepat sesuai syariat, menghindari perbuatan yang bisa menodai diri (ghibah, maksiat, dll), menjalankan amalan-amalan utama seperti shalat malam (tarawih), tadarus Quran, dan itikaf.  “Dalam itikaf, seseorang dituntut untuk berzikir dan meminta ampunan kepada Allah, merenungi dosa-dosa yang telah lalu, dan menyadari kelemahan diri seraya menghayati keagungan Allah,” tuturnya.

Najib mengajak umat untuk memahami perkataan pemikir besar Islam, al-Ghazali, yang  menggolongkan tiga jenis puasa, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususil-khusus. Puasa umum adalah puasa yang dilakukan kaum awam, dengan sebatas meninggalkan makan dan minum, tanpa olah badan yang lain.

Puasa khusus mendorong seluruh badan untuk ikut berpuasa. Seperti menjaga mata dan telinga untuk tidak melihat dan tidak mendengar hal-hal maksiat. Puasa kedua ini dilakukan oleh orang-orang shaleh. “Jenis puasa ketiga adalah dengan mempuasakan pikiran dan jiwa, agar tidak berpikir dan merasakan hal-hal maksiat. Inilah puasanya para anbiya,” katanya. 

Yang tidak boleh dilupakan, kata Najib, berpuasa yang benar adalah sebuah training pencucian diri, yang sangat berkorelasi dengan peningkatkan kualitas diri, etos kerja, solidaritas sosial perbaikan mental, rasa persatuan, dan rasa kemanusiaan.  “Semoga kita bisa menjalankan ibadah puasa secara benar, hingga menjadi diri yang bersih dari dosa, menjadi pribadi sempurna,” harapnya.* [Nank]