UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pribumisasi Ekonomi Syariah

Harus diakui dengan jujur, pengembangan ekonomi syariah di Indonesia masih elitis, bersifat top down dan lebih didominasi oleh sektor keuangan. Meski aliran darah ekonomi ditentukan oleh sektor keuangan, namun mesti diingat bahwa berkembang atau tidaknya ekonomi syariah ditentukan oleh seberapa taatnya umat Islam dalam mempraktikkannya dalam keseharian. Ibarat bangunan, baru satu bagian saja, sektor keuangan yang bertumbuh, sementara bagian lain belum berkembang.

Pendidikan level sarjana, magister dan doktoral sudah ada yang mengkaji ekonomi syariah,  namun faktanya, nalar ekonomi syariah belum sepenuhnya bersemayam dalam kesadaran umat Islam. Hal ini dapat ditelisik dari aspek studi keagamaan yang berkembang di pesantren, majelis taklim, madrasah diniyah dan pengajian-pengajian informal yang berkembang. Piqih muamalah masih menjadi kajian yang sepi pembahasan, jarang dibahas, apalagi ilmu ekonomi syariah itu sendiri.

Padahal di lembaga pendidikan yang bersifat formal dan non formal itu lah sesungguhnya nalar dan wawasan keislaman dibentuk. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi siapapun yang peduli kepada ekonomi syariah agar memberikan fokus ikhtiarnya kepada pribumisasi ekonomi syariah. Istilah ini dalam beberapa hal berbeda maknanya dengan istilah Gus Dur “Pribumisasi Islam”. Pribumisasi ekonomi syariah lebih bermakna kepada ikhtiar masif untuk mengedukasikan ekonomi syariah kepada umat di akar rumput.

Pribumisasi juga bermakna menyusun padanan berbahasa Indonesia seluruh bentuk akad dalam transaksi keuangan syariah, sehingga lebih akrab dan mudah dipahami. Tentu saja menjadi tugas bersama seluruh cendekiawan Muslim yang fokus pada pengembangan ekonomi syariah untuk menyusun dan mensosialisasikannya. Arabisasi istilah telah memberi batas, jarak antara pelaku ekonomi syariah dengan konsumen atau umat Islam.

Pribumisasi juga bermakna keterlibatan penuh tokoh agama yang dalam kesehariannya membina umat di majelis taklim, madrasah dan pengajian untuk mensosialisasikan ekonomi syariah. Tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia, baik rohani maupun jasmani, individual dan sosial. Dalam bahasa yang lebih luas, apa yang disebut maqosid syariah. Abu Ishaq al-Shatibi merumuskan lima tujuan hukum Islam, yakni: hifdz ad-Din (memelihara agama), hifdz an-Nafs (memelihara jiwa), hifdz al-’Aql (memelihara akal), hifdz an-Nasb (memelihara keturunan) dan hifdz al-Maal (memelihara harta). Ekonomi syariah dirumuskan
 
Langkah Stratejik
Dibutuhkan langkah stratejik untuk memastikan ikhtiar pribumisasi ekonomi syariah berjalan optimal. Istilah stratejik bermakna jangka panjang, melibatkan seluruh stakeholder dan mampu masuk ke akar rumput.

Pertama, mengenalkan ekonomi syariah ke anak usia dini, melalui kurikulum belajar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Lebih lanjut diperkenalkan ke lingkungan Madrasah Diniyah (MD), Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) bahkan tingkat SLTP dan SLTA. Dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi syariah hendaknya banyak disalurkan untuk memperbanyak bahan bacaan kepada anak dan generasi muda. Bila kurikulum resmi memerlukan waktu, mendorong lahirnya ekstrakurikuler di sekolah Islam atau sekolah yang siswanya mayoritas Muslim menjadi alternatif, sebagai langkah awal.

Kedua, terus menggencarkan sosialisasi tentang ekonomi syariah. Di tahun 2007 an, dimana penulis masih berprofesi sebagai wartawan ekonomi salah satu koran nasional, Bank Indonesia (BI) cukup gencar mensosialisasikan iBI, perbankan Islam. Buku-buku tentang perbankan Islam juga sudah cukup lumayan banyak, namun lagi-lagi masih “elitis” dan terkesan top down. Jika menggunakan kerangka analisis struktur sosial umat, level akar rumput masih hampa, belum memahami ekonomi syariah seperti apa. Menggunakan terminologi sosiologi wilayah kota dan desa, ekonomi syariah masih milik Muslim kota.

Ketiga, pemangku kepentingan (stakeholder) ekonomi syariah kini harus diperluas, guru dan ustadz di kampung dan pimpinan pondok pesantren pun harus terlibat aktif. Rangkul mereka dan kerangka besar membumikan ekonomi syariah yang bukan hanya perbankan dan lembaga keuangan syariah.
Ibarat perjalanan, bila di level akar rumput dan generasi muda sudah bersemai pemahaman utuh tentang ekonomi syariah, sementara di

level elit, banyak kebijakan dan produk ekonomi syariah yang telah dirumuskan dan berkembang dengan baik, maka akan ada perjumpaan dahsyat yang diyakini bakal menguatkan struktur ekonomi umat Islam.

Harapannya, tumbuhnya ekonomi dan keuangan syariah tidak keropos, tidak hanya di sektor konsumtif, tapi benar-benar sesuai dengan prinsip Islam. Tak sekedar bangkit, ekonomi Islam akan tumbuh subur dan benar-benar terefleksi dalam kehidupan sehari-hari. Menjawab tudingan miring, bahwa bank syariah itu ‘bank konvensional plus bismillaah’ saja. Wallahu’alam.[] 

Iu Rusliana, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung-aktif di Mien R Uno Foundation Jakarta.

Sumber, Info Bank Syariah Review edisi 58 Tahun VI Juli 2015:15