UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

PMH Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung Gelar Tadarus Fikih Milenial

SELAMA ini fikih selalu dianggap sebagai doktrin yang kaku, unchangable (tidak dapat berubah) dan ketinggalan zaman. Padahal, Fikih sebaiknya dipahami oleh dan dalam konteks generasi milenial.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ayi Yunus Rusyana, Ketua Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam acara Tadarus Fikih Milenial.

“Fikih, sebagai sebuah keilmuan dalam Islam yang fokus pada pemahaman akan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, karenanya sangat penting untuk dikontekstualisasikan dengan kondisi dan tantangan zaman,” tegasnya saat dihubungi di ruang kerja PMH, Kampus I, Jalan A.H. Nasution No 105 Cipadung, Cibiru Kota Bandung, Kamis (16/05/2019).

Kontekstualisasi fikih bermakna memposisikan fikih dalam situasi dan kondisi serta tatanan sosial budaya yang ada pada saat ini. “Karena memang, hukum fikih yang ditulis oleh para fuqaha (para ahli fikih), tidak berangkat dari dan dalam ruang hampa,” jelasnya.

Fikih yang umumnya merupakan penjabaran dan pemahaman fuqaha atas ajaran-ajaran Alquran dan Hadis itu “refleksi atas beragam hal yang melingkupi diri fuqaha, seperti latar sosio-kultural, sosio-politis, pendidikan, kecenderungan pemikiran, dan motif-motif lain yang terkait,” paparnya.

Ayi Yunus berusaha untuk menjawab kegalauan dan mengkontekstualisasikan permasalahan terkait fikih yang dihadapi kalangan milenial.

“Dalam konteks milenial, fikih ini menyajikan wajah fikih yang dinamis, variatif, dan kontekstual. Mulai dari membedah persoalan musik, jilbab dan cadar, lukisan, foto, dan video makhluk bernyawa, kafir dan thoghut, sampai dengan halal food,” ujarnya.

Dia menceritakan, saat masih kecil ada temannya yang sangat menyukai musik bergenre keras seperti rock, metal, dan heavy metal sejak SMP. Seiring waktu, dia berpisah dengan temannya untuk melanjutkan pendidikan. Pada saat beremu kembali, ternyata temannya sudah berhijrah dan menganggap musik itu haram.

Ayi Yunus berpikir tentang kebenaran pendapat itu, dengan melakukan riset dan melihat fenomena artis–artis yang berhijrah dari dunia permusikan seperti vokalis band Matta yang sama dengan temanya mengharamkan musik. Berbeda dengan Ivanka bassis Slank , yang tetap bermusik walaupun telah hijrah, bahkan Ivanka berusaha berdakwah ketika Konser Slank berlangsung. Baginya, musik itu diharamkan karena laghau (lalai).

“Musik justru bisa dibuat sebagai media dakwah. Ini sudah dilakukan oleh beberapa musisi di Indonesia. Bukan hanya melihatnya secara kaidah fikih, tapi juga dengan kritis tanpa melepas ilmu dasar Islam,” katanya.

“Saya belajar tentang fikih banyak sekali dan saya bergaul dan berdekatan dengan mahasiswa kalangan milenial, tidak cukup saya hanya sekedar menyampaikan itu di kelas, hanya ceramah, karena daya jangkaunya hanya mahasiswa yang ada di sana aja sementara kalangan milenial itu sangat luas, sehingga dengan cara menulis ini saya bisa berbagi dengan siapapun, dimanapun,” paparnya.

Dijelaskannya, acara tadarus buku ini merupakan rangkaian dari kegiatan Ramadan Bulan Cinta 1440 H yang digagas Gerakan Islam Cinta, sebuah komunitas yang aktif mengkampanyekan Islam sebagai agama cinta, ramah dan menjadi rahmat bagi semua manusia dan alam.

Ketua Gerakan Islam Cinta, Eddy Aqdhiwijaya menjelaskan, kehadiran buku serial Gen Islam Cinta sebanyak 20 buku ini dibuat oleh para penulis dari berbagai macam latar belakang dengan sasaran pembaca milenial.

“Kami punya inisiatif untuk menerbitkan buku-buku populer yang bisa dibaca oleh milenial dan dibawa kemana-mana,” katanya

Buku serial Gen Islam Cinta berawal dari bantuan dari Pusat Pengkajian islam dan Masyarakat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Eddy lantas mengumpulkan 20 penulis dengan waktu penggarapan tulisan tiga bulan saja.

Eddy menyebut, 20 buku tersebut dicetak hingga 10 ribu eksemplar. Kemudian, masing-masing dicetak 500 buku per serial. Semua buku lantas diberikan secara gratis kepada pembaca sasaran.

“Alhamdulillah dengan berbagai dorongan kami bisa menerbitkan 20 buku yang bisa didapatkan secara gratis,” katanya.

Target pembaca adalah kalangan milenial. Karena itu, seluruh isi buku menyinggung berbagai macam tema yang mudah diserap pembaca dari usia milenial. Namun tidak menutup kemungkinan buku ini bisa diterima oleh semua kalangan.

“Kita eksplorasi bagaimana buku bisa terlihat eyecatching dengan desain yang segar dan ringan dibaca. Sehingga isinya pun tidak seperti menggurui,” pungkasnya.(Nana Sukmana, Endan Suhendra)