UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Cenderung Melambat

[www.uinsgd.ac.id] Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar Rosmaya Hadi mengatakan, sejak berkembang pada 2009 lalu pertumbuhan ekonomi syariah cenderung melambat. Salah satu kendala yang menyebabkan hal ini terjadi karena minimnya sumber saya insani (SDI) yang berkualitas.

Menurutnya, patut disayangkan perkembangan perbankan syariah saat ini cenderung melambat. Pasalnya, berdasarkan data Islamic Finance Country Index (IFCI), Indonesia berada di peringkat tujuh global pada 2015. Negara ini pun berada di peringkat sepuluh global dalam indikator pasar ekonomi syariah global.

“Pertumbuhan aset perbankan syariah nasional berada pada level 9,38% (yoy). Angka ini jauh melambat dibandingkan tahun 2011 yang mampu tumbuh mencapai 47,55% (yoy). Pertumbuhan pembiayaan syariah nasional juga relatif stagnan pada level 6,8% (yoy). Pangsa pasar perbankan syariah nasional terhadap perbankan nasional relatif stagnan pada level 4,7-4,8%,” kata Rosmaya usai peresmian BI Corner di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Selasa (8/11/2016).

Meski demikian, dia menuturkan perkembangan keuangan syariah di wilayah Jabar relatif lebih baik dibandingkan dnegan kondisi nasional. Hingga triwulan III/2016, pertumbuhan syariah di Tatar Priangan ini terhitung sebesar 6,9% (yoy) dengan nominal outstanding sebesar Rp29,5 triliun.

“Share pembiayaan syariah Jabar terhadap total pembiayaan syariah nasional terhitung sebesar 12,5%. Pembiayaan terhadap total kredit perbankan Jabar sebesar 8,3%. Berdasarkan distribusi jenis kegiatannya, pembiayaan syariah di Jabar sebanyak 48% untuk kegiatan konsumsi, 35% untuk pembentukan modal kerja usaha, dan 17% untuk kegiatan investasi,” jelasnya.

Terkait hal ini, Rosmaya menyebutkan setidaknya ada lima permasalahan utama pada ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Yakni, terbatasnya SDI yang berkualitas, struktur ekonomi dengan berbagai ketimpangan, potensi sektor sosial dengan keterbatasan pengaturan, pasar keuangan syraiah yang masih dangkal, dan kinerja keungan syariah yang stagnan.

Untuk itu, BI sebagai akselerator saat ini menyusun roadmap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dengan mendorong pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Berdasarkan peta permasalahan tersebut, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia perlu berfokus pada lima pilar pengembangan yaitu penguatan SDI, pemberdayaan masyarakat, pengaturan dan pengawasan, pendalaman pasar keuangan syariah, dan struktur industri yang efisien.

Guna mendorong percepatan tersebut, BI gencar membuka BI Corner di sejumlah lokasi. Untuk kali keempat, pihaknya meresmikan sudut baca mengenai ekonomi perbankan itu hadir di perpustakaan UIN SGD Bandung. Sudut baca ini merupakan program sosial yang menjadi wujud kepedulian kepada masyarakat.

“BI Corner ini untuk memfasilitasi para mahasiswa yang ingin mengakses informasi keuangan dan perbankan. Kita ingin Jabar ini sebagai poros pendidikan ekonomi syariah di Indonesia,” ucapnya seraya menyebutkan kehadiran sudut baca di tempat publik ini sebagai program unggulan berupa Indonesia Cerdas sebagai dedikasi BI untuk kemandirian negeri.

Sementara itu, Rektor UIN SGD Bandung Prof Dr Mahmud menyambut positif kehadiran BI Corner ini. Dia mengaku, sebagai lembaga pendidikan tinggi pihaknya siap melahirkan jebolan SDI yang berkualitas. Sejauh ini, lulusan Fakultas Ekonomi dan Hukum Syariah ini terserap hampir seluruhnya di dunia usaha.

“Nantinya, kita harapkan SDI tidak akan menjadi penyebab tidak berkembangnya ekonomi syariah di Indonesia. Adanya BI Corner ini sebagai modal untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan,” ucap Mahmud.

Seperti diketahui, BI saat ini fokus mengembangkan perekonomian syariah. Untuk itu, lembaga bank sentral membentuk departemen baru, Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah. Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Jardine A Husman mengatakan, pembentukan divisi baru ini untuk mengembangkan data terkait perekonomian syariah. Tak hanya perbankan, semua sektor perekonomian dan industri secara luas pun dibidik.

“Ekonomi dan industri keuangan syariah menjadi perhatian khusus. Ini untuk menggenjot sektor perbankan syariah yang saat ini hanya meraih 4,85% market share. Sisanya, 95,15% pangsa pasar itu termasuk perbankan konvensional,” kata Jardine.

Menurutnya, BI saat ini menginisiasi pertumbuhan ekonomi syariah. Dalam waktu dekat, pihaknya akan membentuk forum kerjasama untuk memperkuat fondasi pengembangan. Satu diantaranya yakni Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (Fossei). Organisasi ini wadah nasional yang mengekomodir mahasiswa pecinta ekonomi Islam yang tergabung dalam Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI).

“Salah satu program yang dijalankan ya seperti sekarang. Kita membuat seminar yang mengajak para mahasiswa yang notabene mereka adalah agen perubahan masa depan ekonomi syariah. Ini untuk memperkuat kader SDM ekonomi syariah yang diharapkan nantinya bisa mendobrak hegemoni perbankan konvensional,” tuturnya.

Jardine mengaku, untuk penguatan sumber daya insani ini tersusun dalam blueprint pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Cetak biru mengenai pengembangan ekonomi dan keuangan syariah ini berdurasi sejak 2015 hingga 2024 mendatang. Di penghujung sembilan tahun ke depan diharapkan semua sektor kehidupan sudah bernilai syariah dan dilaksanakan oleh semua masyarakat.

Terdapat tiga tahap yang akan dilaksanakan sesuai dengan blueprint ini. Pertama, periode 2015-2018 yakni memperkuat fondasi dan pengembangan nilai-nilai syariah. Kedua, periode 2019-2021 yaitu memperkuat program pengembangan. Ketiga, pada 2020-2024 adalah pelaksanaan nilai-nilai syariah secara nasional.

“Pada tahap pertama hingga 2018 mendatang, BI akan melakukan sosialsiasi kepada seluruh elemen masyarakat. Salah satunya melakukan sosialiasi kepada lembaga pendidikan untuk memberikan pemahaman kepada siswa dan mahasiswa,” ucap Jardine.

Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menyebutkan meski sudah berjalan selama lebih dari 25 tahun, pangsa pasar lembaga perbankan syariah masih relatif minim. Dari total penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa, bank syariah hanya meraih market share secara nasional sebanyak 4,8%.

Ketua Bidang Edukasi dan Literasi Asbisindo Koko T Rachmadi mengaku rendahnya animo ini karena edukasi yang kurang kepada masyarakat. Untuk itu, dia mengharapkan adanya dorongan dari pemerintah.

“Bank syariah di kita itu kalah jauh dengan kondisi di negeri jiran. Di sana, market sharenya bisa mencapai 30%. Lha, di kita yang mayoritas penduduknya muslim, justru bank syariah hanya mendapat market share yang nggak lebih dari 4,8%,” kata Koko.

Dia mengaku, targetan untuk bisa meraih 5% pangsa pasar itu dicanangkan pada 2008 silam. Hingga kini, pertumbuhan bank syariah yang notabene bisa menjadi another wallet itu sedikit merayap. Koko menyambut positif langkah Bank Indonesia (BI) yang membuka direktorat baru yang mengurusi perbankan syariah secara makro. [Jek]

Sumber, Inilahkoran 08 November 2016 17:20