UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pentingnya Pendidikan Pranikah

Setiap rumah tangga pasti pernah mengalami konfl ik atau pertengkaran. Itu lumrah terjadi karena dua orang berbeda berada dalam satu rumah. Biasanya pertengkaran tersebut disebabkan beberapa faktor. Faktor pertama perihal ekonomi. Faktor ekonomi inilah yang dianggap paling berpengaruh. Sebabnya, itu menyangkut kebutuhan dalam rumah tangga.

Penyebab lain ialah faktor sosial. Faktor itu terjadi akibat adanya interaksi sosial dari lingkungan tempat tinggal. Awalnya pertengkaran hanyalah sebatas dari mulut ke mulut, tapi jika pertengkaran tersebut dibiarkan, kekerasan fi sik rentan terjadi. Penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga dapat dianalisis dari hubungan sebelum pernikahan atau bisa disebut dengan kesepakatan pranikah. Tidak ada saling pengertian dapat menimbulkan rasa egois dari setiap individu, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan. Jika sudah begitu, pertengkaran sulit dihindari. Adanya pertengkaran dalam rumah tangga dapat menimbulkan dampak yang signifi kan. Sebabnya, dampak tersebut tidak hanya berpengaruh pada urusan hubungan pisah, tetapi juga soal nasib anak anak. Ketika anak-anak dibiarkan, mereka cenderung bersikap posesif, arogan, sulit bersosial, dan cenderung berbuat anarkistis sehingga menimbulkan masalah kriminal yang dampaknya akan merembet pada tatanan sosial.

Mengatasi persoalan tersebut dapat dilakukan dengan adanya saling pengertian. Menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Sebabnya, rumah tangga merupakan bersatunya dua latar belakang pribadi yang berbeda. Jika sudah adanya sikap saling pengertian dan saling memahami, kekerasan dalam rumah tangga dapat diminimalkan.

Tahapan-tahapan itu dimulai dari sebelum pernikahan, yakni menimbang dan memilih kriteria pasangan yang memang baik untuk menjalankan rumah tangga nanti. Kemudian tahapan selanjutnya mengikuti pendidikan atau training pranikah agar mendapatkan binaan serta pengetahuan yang akan dilakukan setelah nikah. Pendidikan pranikah sangat penting untuk proses persiapan menjalani rumah tangga.

Sementara itu, sanksi terhadap pelaku tindak kekerasan dalam rumah tangga diatur dalam Pasal 44 ayat 1 UU KDRT, yang menyebutkan pelaku tindak pidana KDRT ini dapat dipenjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp15 juta. Namun, sanksi hukuman itu tampaknya tidak membuat jera atau menjadikan mereka takut. Buktinya, kasus KDRT di Indonesia masih saja terjadi. Ada beberapa solusi mencegah KDRT, salah satunya saling memaafkan sehingga konfl ik tidak semakin memanas.

Kemudian, menjalin komunikasi yang baik, membangun hubungan saling pengertian, dan menerapkan sikap terbuka. Dengan adanya sikap-sikap tersebut, hubungan rumah tangga menjadi harmonis dan pertengkaran dapat dihindari. Anak-anak pun dapat terdidik dengan baik dan keluarga bahagia lahir dan batin.[]

Andri Amin Tawakal, Mahasiswa UIN SGD Bandung

Sumber, Forum Media Indonesia 22 November 2017