UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pentingnya Menanamkan Nilai-nilai Kesundaan

[www.uinsgd.ac.id] Upaya menamkan nilai-nilai kesundaan sebagai aset budaya lokal sangat diperlukan pembinaan, pemeliharaan agar keberadaanya terjamin, tidak hilang dan masih dapat digunakan sebagai bagian dari identitas diri Jawa Barat, maka Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung menggelar Studium General bertajuk “Pluralitas Idlam di Jawa Barat, Etos Kerja dan Sumbang Umat Islam terhadap Pembangunan Jawa Barat” dengan menghadirkan narasumber; Prof. Dr. H. Asep S Muhtadi, MA, Dr. Mahi M. Hikimat, M. Si., Drs. Moeflich Hasbullah, MA., Dr. Setia Gumilar, M. Si., Drs. Karman, M. Ag yang dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. H. Agus Salim M., M.Pd. di Aula FAH, Kamis (31/10)

Menurut Dekan FAH, di Provinsi Jawa Barat tata nilai dan budaya lokal tumbuh berkembang sebagai ruh dari gerak pembangunan yang dirumuskan pemerintah provinsi Jabar. Tata nilai yang ada di kalangan masyarakat Jabar tumbuh dari penggalian nilai-nilai tradisional yang mengalami perkembangan ketika bersentuhan dengan aruh perubahan yang berasal dari luar, termasuk ketika masyarakat bersentuhan dengan arus modernisasi. Format ekspresi budaya Jabar pun mengalami perubahan baik secara evolusi maupun radikal, namun semuanya merupakan kekayaan dan aset bagi pembangunan Jabar menuju provinsi Maju, Mandiri dan Terdepan.

Upaya meraih tujuan itu, “Semua potensi yang ada, termasuk aset budaya lokal sangat diperlukan pembinaan, pemeliharaan agar keberadaanya terjamin, tidak hilang dan masih dapat digunakan sebagai bagian dari identitas diri Jawa Barat,” tegasnya.

“Oleh karena itu, usah memotret tentang kesundaan mulai dari segi sosial, politik, budaya, agama sampai ekonomi menjadi bagian terpenting untuk menggugah kesadaran orang Sunda supaya berani, kreatif, produktif, mandiri dan berdaya saing,” jelasnya.

Keterlibatan para akademisi sangat dibutuhkan guna meningkatkan IPM Jabar. “Inilah salah satu kontribusi nyata dari kalangan akademisi untuk meningkatkan IPM Jabar, terutama dalam pendidikan yang masih rendah baik dari pemerataan sampai kualitasnya. Kesehatan masyarakat dan daya beli yang dinilai sangat rendah,” paparnya.

Bagi Asep Samuh menjelaskan wilayah Jawa bagian barat memang merupakan kawasan yang sangat subur bagi berlangsungnya dinamika pluralitas. Pergulatan pemikirannya berlangsung sangat dinamis. Jika menggunakan ormas Islam sebagai representasi pergumulan pemikiran itu, mayoritas ormas-ormas Islam yang ada di Indonesia sampai saat ini lahir dan berkembang di kawasan ini. “Sebut misalnya, Persatuan Islam lahir di Bandung (1913), Persatuan Umat Islam tumbuh di Majalengka-Sukabumi (1917), Mathla’ul Anwar lahir di Banten (1916), Al-Isyad berkembang di Jakarta (1914) dan Majelis Ulama Indonesia sendiri mulai tumbuh di Tasikmalaya (1958). Bahkan beberapa ormas Islam yang lahir di luar Jabar pun, seperti Nahdatul Ulama (Jawa Timur), Muhammadiyah (Yogyakarta), A-Washliyah (Sumatra Utara) semuanya dapat berkembang subur di Jawa bagian Barat ini,” terangnya.

Persentuhan gerakan ormas-ormas itu justru terjadi pada aspek peran kulturisasi Islam yang dimainkannya. Untuk proses kulturisasi mau tidak mau akan bergesekan dengan kekuatan-kekuatan lokal yang telah kuat menyejarah. Dalam proses kulturisasi itu pula kemudian lahir beragam strategi dan interpretasi untuk kepentingan pendekatan dalam menyosialisasikan subtansi ajaran. “Karena itu, pluralitas Islam di Indonesia kahusunya di Jabar tidak sampai menyentuh wilayah prinsip, tetapi hanya berkaitan dengan wilayah teknis atau fiqhiyah-furu’iyah,” sambungnya.      

Lalu bagimana pluralisme islam di Jabar kontemporer? “Inilah bahan kajian yang sangat menarik untuk terus dikembangkan melalui pendekatan objektif akademik, khususnya mellaui kajian-kajian sejarah dan kebudayaan di Fakultas Adab Humaniora ini. Mengingat Jabar sangat tinggi melakukan tindakan kekerasan. Padahal masyarakat Pasundan dikenal sangat ramah, toleran, terbuka,” keluhnya. 

Ihwal kesundaan kata Mahi harus dibedakan menjadi tiga kategori; Pituin, Turunan dan Mengabdi di Sunda. “Adanya yang disebut pituin. Meskipun dari anggota dewan yang ada masih rendah yang berasal dari warga Sunda. Jadi memang urang Sunda aga susah menjadi pemimpin. Keturunan, seperti anak saya yang terlahir dari saya keturunan Garut dan menikah dengan orang Jawa. Anak saya ingin disebut orang Sunda. Lahir, mengabdi di Sunda, seperti orang tua dulu kita yang memang terlahir, besar dan mengabdi, bahkan mati di Sunda. Untuk itu, membicarakan soal kesundaan harus dibedakan menjadi tiga,” jelasnya.

“Boleh bukan orang pituin yang duduk di pemerintahan. Akan tetapi semangat dan ruh kesundaanya harus ditenamkan dan disebar luaskan terhadap masyarakat karena nilai-nilai mengandung kesundaan yang positif. Apalagi nilai-nilai ini sangat relevan dengan Islam yang universal,”  sambungnya. 

Ketiadaan identitas Sunda di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian penting dari suatu kebudayaan kata Moeflich, “Harus terus dipertahankan identitas kebudayaan Sunda ini supaya tidak tergerus oleh arus modernisasi dan globalisasi,” sarannya.

“Semua yang mengandung nilai-nilai kesundaan itu perlu dipertahankan karena ruhnya itu bersumber dari ajaran Islam,” tambahnya. 

Melihat rendahnya etos kerja di kalangan orang Sunda jika dibandingkan dengan suku yang lain. Menurut Setia, “Ini semua tergantung kepada dua hal; Pertama, Motivasi hidup atau tidak. Kedua, Keyakinan hidup atau tidak,” tegasnya.

“Etos kerja merupakan sikap, kebiasaan, karekter orang Sunda ini harus mampu menggerakan etos kerja secara kultur dengan memberikan nilai-nilai kesundaan, seperti silih asah, asuh dan asih, cageur, bageur, pinter dan siger tengah. Inilah prinsip-prinsip yang harus dimiliki orang Sunda sebagai jati dirinya,” paparnya.

Keadaan geografis, alam disekitar ternyata sangat mempengaruhi dalam menciptakan karaktertistik orang Sunda. “Untuk urusan ormas Islam yang terlahir di Jabar tidak akan berkembang pesat dan besar. Berbeda dengan yang terlahir dari Jawa. Semuanya besar dan terdepan,” keluhnya.

“Oleh karena itu, faktor alam di Jabar yang asri, serba ada,  membuat watak orang Sunda tenang. Dalam urusan ormas pun tidak berkembang pesat,” pungkasnya.[]